Setelah Dua Tahun, Rizal Mantovani Kembali Buat Film Horor

 

  Berbicara tentang Rizal Mantovani tak bisa dipungkiri memang selalu identik dengan film horor. Hal itu pada dasarnya cukup wajar, karena mayoritas film yang ia garap adalah bergenre horor. Sebut saja ada Jelangkung (2001), Kuntilanak (2006), Kesurupan (2008), Air Terjun Penganti ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 23 Desember 2014
Rizal Mantovani
 
Berbicara tentang Rizal Mantovani tak bisa dipungkiri memang selalu identik dengan film horor. Hal itu pada dasarnya cukup wajar, karena mayoritas film yang ia garap adalah bergenre horor. Sebut saja ada Jelangkung (2001), Kuntilanak (2006), Kesurupan (2008), Air Terjun Penganti Phuket (2013), dan lain sebagainya. Setelah kurang lebih dua tahun tak lagi membuat film horor, Rizal Mantovani akhirnya kembali lewat film terbarunya yang diberi judul Wewe
 
Film yang diproduksi oleh Rapi Film ini akan mengangkat cerita legenda urban asli Indonesia yang dikenal dengan Wewe Gombel. Wewe pada dasarnya juga merupakan wujud dari passion seorang Rizal mantovani dalam film horor setelah sukses dengan film Supernova (2014). Ini adalah film horor yang sudah Rizal persiapakan selama dua tahun belakangan. 
 
Wewe akan memulai syuting pada bulan Desember 2014 dan diperkirakan akan selesai pada pertengahan Januari 2015. Para aktor yang akan meriahkan film ini antara lain Nabilah JKT48, Agus Kuncoro, Inong Ayu, Khadijah Banderas, dan Yafi Tesa Zahara. Menurut rencana, Film Wewe akan rilis pada bulan April 2015. 
 
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai proyek film Wewe ini, tim 21cineplex.com melakukan wawancara eksklusif dengan Rizal mantovani. Berikut adalah hasil wawancaranya. 

Apa latar belakang Mas Rizal untuk menggarap film Wewe ini?
"Film Wewe ini adalah passion project saya, terus terang udah lama banget saya nggak bikin film horor dan waktu itu saya bilang kepada diri saya sendiri, saya mau bikin film horor kalau memang ada idenya. Ide yang bisa bikin saya juga tergairah untuk bikin film horor." 
 
Apa perbedaan yang Mas Rizal tawarkan di film Wewe ini?
"Kalau horor untuk saya kuncinya antara lain dua ya, yang pertama adalah cerita. Cerita yang bagus, cerita mengenai hubungan antar karakter yang ada di dalamnya. Dan yang nomor dua adalah penampakan. Kalau misalnya penampakannya bagus, tapi ceritanya nggak bagus, ya sama juga bohong. Kalau ceritanya udah bagus, tapi pas saat penampakannya nggak memuaskan, ya itu juga jadi berkurang, ya. Jadi saya rasa dua hal itu yang penting." 
 
Lalu, darimana dan kapan Mas Rizal mendapatkan idenya?
"Saya dapetin ceritanya sekitar dua tahun yang lalu. Tapi, karena saya belum dapat penampakkannya yang serem seperti apa, jadi saya nggak berani, saya skip aja dulu. Sampai baru aja saya ketemu orang yang bisa mengerjakan special effect yang saya inginkan. Saya berdiskusi sama dia maunya saya seperti apa. Lalu kita tes, dan jadinya sesuai yang diinginkan. Saya eksplorasi, tapi yang saya eksplore juga tetep berdasarkan dengan gambar orang Belanda. Yang jelas saya menghindari unsur negatif, dadanya nggak gede seperti yang kebanyak orang tahu. Kita nggak eksplore itunya." 
 
Efek apa saja yang digunakan? Apakah menggunakan CGI juga?
"Jadi, di sini saya menggunakan practical effect dan dicampur dengan CGI. Nggak pernah CGI-nya sendiri dan nggak pernah practical effect-nya sendiri. Kali ini dua-duanya harus bareng. Kalau dulu saya practical effect sendiri, nggak ada CGI-nya, di sini saya combine. Jadi, pada saat saya ketemu dia baru saya berani, walaupun ceritanya sudah ada dua tahun yang lalu." 
 
Kalau garis besar ceritanya sendiri, mengisahkan tentang apa film Wewe ini?
"Ceritanya mengenai kasih sayang, dalam arti kata saya coba membikin sebuah film yang dalam hal ini sebuah keluarga. Kalau biasanya di film horor mungkin menampilkan remaja dan teman-temannya. Saya pun dulu bikin Jelangkung juga remaja sama teman-temannya. Saya ingin yang berbeda, mencoba sesuatu yang lain, dan saya lihat tentang family belum pernah ada. Ya udah sekarang saya bikin sebuah keluarga di mana mereka, bapaknya itu dipindahkan ke rumah dinas yang baru dan di situ tentunya ada entity, makhluk yang tidak baik. Dan film ini sebenarnya Folklore-nya itu kalau di Indonesia disebutnya Wewe Gombel yang berasal dari Semarang. Di sana ada bukit namanya bukit Gombel dan mitosnya adalah dia akan mengambil anak-anak yang tidak memiliki kasih sayang dan diabaikan oleh orang tuanya."
 
Kenapa memilih Wewe? Bukan yang lain?
"Yang membuat saya tertarik dengan Wewe Gombel adalah ini satu-satunya legenda urban Indonesia yang sempat digambar oleh orang Belanda. Jadi kalo misalnya di google, itu akan ada gambaran orang Belanda tentang Wewe Gombel. Kalo misalnya kita melihat film horor Amerika, kan sering tuh ada gambar-gambar kuno, seperti sansekerta kuno, witch, atau drakula yang jaman dulu. Itu kan ada gambar-gambarnya ya, dan gambarnya pun gambar-gambar kuno. Kalau kita kan nggak ada, kecuali Wewe Gombel ada, digambar sama orang Belanda. Jadi, dari bukti aja udah merupakan sebuah sejarah. Udah lama banget ini mitos sebenernya, dan yang menarik adalah ternyata belum diangkat juga."
 
Kalau pertimbangan pemilihan aktornya sendiri, ada Agus Kuncoro, Nabilah JKT48, itu apa?
"Saya ingin film horor ini dimainkan oleh pemain-pemain yang sangat berkualitas. Saya mau penonton itu bisa percaya kalo melihat sesuatu yang nggak beres, lewat mata para aktor itu mereka percaya, saya butuh itu. Jadi, bukan sekedar efeknya saja yang harus bagus, tapi penonton juga bisa ikut merasakan takutnya tokoh yang dimainkan para aktor ini. Pas syuting mungkin nggak ada, karena green screen atau apa. Jadi, saya perlu kemampuan pemain-pemain yang tidak hanya hebat dalam akting, tapi juga bisa memahami karakter, situasi, dan imajinasi yang juga kuat."
 
Untuk Nabilah sendiri gimana? Dia kan belum memiliki pengalaman, apa pertimbangannya?
"Pertimbangannya adalah dia sangat natural banget. Pertama sih tentunya saya liat dari youtube, dan itu anak-anak banget. Sekali lagi yang saya ingin beda dari horor yang biasa adalah biasanya di film horor kita remajanya itu 19 tahun ke atas, teman-temannya pun nggak jauh dari itu dan sudah masuh kategori grown teen. Saya ingin kali ini ABG tanggung dan itu belum pernah. Nabilah itu kan umurnya baru 15 tahun, pas nih dia juga kan masih kecil banget, masih cuek. Akhirnya saya lihat dari sekian banyak ABG berumur 15 tahun, Nabilah memiliki satu kepolosan yang saya butuhkan di film ini. Dia mungkin baru ya, tapi untuk saya sih bukan masalah pemain baru atau lama. Yang terpenting adalah gabungan antara kinerja antar pemain yang menjadi dinamika dalam sebuah film menurut saya." 
 
Kalau untuk lokasi, ada eksplorasi khusus nggak?
"Eksplorasi khusus iya. Jadi, dari tempat saya menggunakan sebuah tempat atau rumah di kawasan Puncak yang bisa saya bongkar, karena rumah-rumah di Jakarta sebagai lokasi itu kurang ya, itu-itu aja. Nah, saya coba hunting dan akhirnya dapet, walaupun saya pernah sebenarnya syuting di situ. Tapi, kali ini saya sama tim art-nya itu akan bikin set khusus menjadi rumah yang berbeda." 
 
Terakhir nih Mas, sempet repot nggak setelah mendapat high budget di film Supernova, tapi di film ini nggak sebesar itu budgetnya?
"Saya sih sebenernya untuk film itu bukan masalah kepada mahalnya sebuah shoot ya, apapun itu. Tapi, lebih kepada keperluan dan kebutuhan daripada shoot itu. Bahkan di film Supernova pun, kalaupun misalnya shoot-nya dari atas segala macem, saya pun akan tanya, ini perlunya kenapa dari atas ini? harus masuk akal. Budget film ini memang bukan budget Supernova, tapi bagi saya bukanlah suatu rintangan. Itu adalah sebuah proses kreatif yang sebenarnya harus dilihat."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON