Garin Nugroho Ingin Temukan Penonton Generasi Baru Lewat Aach... Aku Jatuh Cinta

 

  Nama Garin Nugroho sudah sangat melekat dengan dunia perfilman Indonesia. Bahkan bisa dikatakan, dirinya masih yang terbaik saat ini. Ia dikenal sebagai sutradara yang memiliki cerita yang 'berat' dan sarat akan pesan sosial di dalamnya. Namun, di awal tahun 2016 ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 02 Februari 2016
Garin Nugroho
 
Nama Garin Nugroho sudah sangat melekat dengan dunia perfilman Indonesia. Bahkan bisa dikatakan, dirinya masih yang terbaik saat ini. Ia dikenal sebagai sutradara yang memiliki cerita yang 'berat' dan sarat akan pesan sosial di dalamnya. Namun, di awal tahun 2016 ini, Garin ingin mencoba menawarkan sesuatu yang baru. Ya, ia menggarap sebuah film pop berjudul Aach... Aku Jatuh Cinta
 
Bagi sobat nonton penggemar dan penikmat film karya Garin Nugroho, film produksi MVP Pictures ini memang terasa sangat berbeda. Mulai dari ceritanya yang ringan, para pemainnya yang masih muda hingga gaya berceritanya yang dibuat dengan apa yang ia sebut dengan retro. Tim 21cineplex.com berkesempatan mewawancarai langsung Garin Nugroho secara eksklusif untuk menanyakan lebih lanjut terkait hal tersebut. 
 
Selain itu, Garin juga menjelaskan apa yang melatarbelakangi cerita film ini dan mengapa memilih Chicco Jerikho dan Pevita Pearce sebagai pemeran utamanya. Ia juga bercerita soal seperti apa tanggapan dan sambutan penonton di Busan International Film Festival setelah menyaksikan Aach... Aku Jatuh Cinta yang tayang perdana di sana. Berikut wawancara lengkap tim 21cineplex.com dengan Garin Nugroho di kantor MVP Pictures, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (27/1) sore.  
 
Mengapa kali ini Mas Garin garap film komersial lewat Aach... Aku Jatuh Cinta ini?
"Film itu kan yang penting komunikatif, untuk tidak mengatakan komersial. Komunikatif itu kan film yang ringan, tapi film-film Barat yang ringan itu, yang komunikatif itu selalu ada keunikan yang diceritakan, sehingga tidak dialami penonton film lain, kan selalu begitu. Misalnya zamannya internet, lalu ada Meg Ryan bikin film tentang kirim pesan (You've Got Mail [1998]), itu kan ada keunikan di zaman itu. Nah, ini (Aach... Aku Jatuh Cinta) juga sebetulnya adalah sebuah film hiburan dengan karakteristik saya tetap muncul di situ. Dan hiburan itu kan soal sedih, gembira, tertawa, kan gitu hiburannya. Lalu memang kalau ini retro, memang ini zaman retro sebetulnya. Ini film yang mengawali retro, kalau di dunia berbarengan, semua film retro. Hampir (semua film) sekarang itu mesti angkat (tahun) 70, 80, 90. Semuanya film tentang tren retro. Kalau ini (Aach... Aku Jatuh Cinta) menceritakan tentang cinta dan perubahan zaman secara rileks lewat benda-benda kecil, komik, botol limun, hal-hal yang jarang diangkat dalam film-film lain. Jadi nonton film ini, karena segar dan menyenangkan. Film percintaan yang dibawakan dengan benda-benda kecil sebagai (tanda) perubahan zaman."  
 
Lantas, mengapa memilih MVP Pictures untuk bekerjasama memproduksinya?
"Yang paling tepat untuk kayak gini ya MVP. Kalau kita bawa tanaman cari tanah yang tepatlah. Jadi misalkan saya sekarang kan sedang menyelesaikan Setan Jawa dengan live orchestra, hitam putih bisu, ya nggak mungkin di sini (MVP Pictures). Jadi memang kerjasama dengan Pak Raam (Punjabi) menurut saya menyenangkan, karena pada tujuan yang sama. Ini era penonton Indonesia baru, tv-tv global masuk Indonesia. Kalau dulu kan tv global masih jauh dari Indonesia. Sekarang HBO butuh penonton Indonesia, film-film Barat butuh wajah Indonesia, jadi mau muncul setengah menit pun nggak apa-apa, orang Indonesia sudah seneng. Jadi memang, pasar Indonesia menjadi gemuk sekali, sehingga seluruh industri hiburan itu masuk dari tv dan harus ada lokalnya. Jadi memang menurut aku ini era penonton baru yang harus dibaca kembali, sehingga film itu penuh kejutan. "
 
Ketika Mas Garin mengajukan sinopsis film ini ke Pak Raam, mengapa langsung mengajukan nama Chicco Jerikho dan Pevita Pearce sebagai pemeran utama?
"Ya karena gabungannya kan unik ya, antara apa yang disebut dengan sensualitas remaja, yang pop, digabung dengan kejantanan cowok yang disukai ibu-ibu dan anak-anak muda. Jadi antara dunia pop SMP-SMA sama kejantanan nakal, jadi cocoklah gabungannya. Jadi memang memilih dua penonton itu karena dua-duanya punya pasar yang sangat berbeda dengan karakter yang sangat berbeda." 
 
Kabar terakhir film ini juga akan tayang di International Film Festival Rotterdam, bagaimana proses bisa masuk di sana?
"Seperti biasa film tetap dikirim. Aku tuh udah 14 kali film saya di sana. Tapi maksud saya, termasuk mengagetkan mereka memilih film yang sangat ringan. Tapi kalau untuk orang Eropa, mereka tahu saya melakukan retro (tahun) 70, 80, 90 dengan bermain-main yang menyenangkan. Ada slow motion-nya, melo drama, nangis-nangis terus, berpisah-bertengkar, menderita, tempat-tempatnya selalu yang umum, (pacaran) di depan candi, jadi melakukan retro dengan mempermainkan kembali retro (tahun) 70, 80, 90. Maka, tiba-tiba ada slow motion, tapi digunakan sebagai bahasa baru. Jadi melakukan retro digunakan sebagai bahasa baru. Kalau orang kritikus sana, kayak Direktur Busan (International Film Festival) sudah tahu ini Garin memang menggunakan unsur-unsur drama tahun 70, 80, 90 untuk diucapkan sekarang." 
 
Ini kan cerita asli, sudah terpikir sejak lama atau spontanitas saja proses mendapatkan ide kreatifnya?
"Sudah lama sebenarnya pengen bikin film kayak gini dan itu kan sebagian ada cerita masa kecil saya, jadi gampang. Tidak ingin punya pesanlah dalam film ini. Kekacauan dan cinta itu jadi satu lah pesannya. Tidak ingin ada pesan yang berat."
 
Saat mengajukan ke Pak Raam (Punjabi), Mas Garin sudah membawa cerita sesuai permintaan atau hanya presentasi biasa saja?
"Sebetulnya kan membikin film itu tergantung. Kalau ada cerita bagus dari produser ya diambil aja. Tapi kalau kita (yang) punya cerita bagus, ya ditawarkan, kan gitu. Tapi menurut saya, cerita yang saya tawarkan itu memberikan satu nafas barulah di kebudayaan populer sekarang. Meretrokan kembali pengadeganan-pengadeganan".
 
Terjadi diskusi panjang dan alot tidak ketika membicarakan ide film ini dengan Pak Raam (Punjabi)?
"Ya panjang tapi nggak terlalu alot, ya. Paling 2-3 kali ketemu selesai. Sebetulnya kalau saya kan juga pengajar skenario, cuma nggak pernah menulis cerita populer lagi. Persoalannya kan cuma itu saja. Sekarang memang tahun ini saya ingin bikin tiga sampai empat film dengan bintang-bintang populer. Bulan depan (dengan) Bunga Citra Lestari. Sehingga kemudian menemukan penonton baru. Penonton (generasi) saya sudah 50 tahun keatas atau sudah mau ke surga semua, jarang nonton film. Jadi kalau puisi lebay saya tentang jatuh cinta seperti mengikuti sumbu bom yang meledak itu (dibilang) 'wah lebay banget Mas Garin'. Tapi ini (Aach... Aku Jatuh Cinta) kalau diterima oleh generasinya Pevita (Pearce) kan fansnya banyak. Kalau diterima generasi saya fansnya makin mengecil. Jadi memang tahun ini semua orang bertempur membaca zaman baru."
 
Apakah versi Aach... Aku Jatuh Cinta yang ditayangkan di festival-festival akan berbeda dengan yang dirilis di Indonesia?
"Hampir sama kok, cuma lima persen. Terakhirnya saja (ada adegan) ciuman. Orang Indonesia kan suka ciuman."
 
Bagaimana pendapat Mas Garin soal akting Chicco Jerikho dan Pevita Pearce?
"Menarik, mereka kerjasama nggak ada masalah, ya. Malah mereka kontras, sangat kontras. Keaktorannya Chicco itu bisa menguasai panggung, framenya. Tapi kan sex appeal-nya si Pevita ini, ya kan?. Di kasih medium aja dia nggak perlu. Kalau dikasih medium wajahnya dia baca puisi sebagus-bagusnya ya dilempar batu, kan?. Tapi kalau Pevita yang baca, suaranya sengau-sengau nggak jadi, yang nonton seneng. Jadi ada hipnotis kebintangan di Pevita. Makanya waktu bikin film ini saya ketemu dulu Pevita, sebelum cerita jadi. Lalu kenapa narasinya lebih banyak dibacakan Pevita, karena suaranya itu sensual, ada hipnotisnya suaranya. Sengau-sengau yang orang pengen nyayangi, gitu lho." 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON