Agus Pestol Siap Sajikan Film Superhero Berbeda Lewat Valentine

 

  Dunia perfilman nasional tidak lama lagi akan kembali kehadiran film bertema superhero hasil karya anak negeri. Ya, film itu adalah Valentine yang diproduksi oleh Skylar Pictures. Film ini pada dasarnya juga merupakan adaptasi dari komik dengan judul yang sama dari ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 11 Juni 2015
Agus Pestol
 
Dunia perfilman nasional tidak lama lagi akan kembali kehadiran film bertema superhero hasil karya anak negeri. Ya, film itu adalah Valentine yang diproduksi oleh Skylar Pictures. Film ini pada dasarnya juga merupakan adaptasi dari komik dengan judul yang sama dari Skylar Comic. Sutradara debutan Agus Pestol dipecaya untuk menangani film yang dibintangi oleh Estelle Linden ini.

Saat ini, proses syuting film Valentine sendiri sudah memasuki hari ke-93 dari 115 hari yang ditargetkan. Menurut sang sutradara, sejauh ini proses syuting berjalan sesuai dengan target, meskipun tak dipungkiri ada kendala yang ditemui setiap harinya. Untuk mengetahui seperti apa cerita yang ditawarkan film Valentine, tim 21cineplex.com berkesempatan mewawancarai Agus Pestol secara langsung di salah satu lokasi syutingnya. Berikut ini adalah wawancara lengkapnya.

Untuk pertama, bagaimana ceritanya bisa bergabung di film Valentine?

"Jadi, di Skylar Pictures itu saya mulai karir di tahun 2008 akhir. Masuk Skylar Pictures, saya dulu duet sama Muhammad Yusuf. Saya co-directornya sampai empat judul (film), hingga pada akhirnya Pak Sarjono Sutrisno memberi saya kesempatan di film ini (Valentine) untuk garap sendiri. Itu jam 2 pagi, kalau nggak salah, dua tahun yang lalu beliau BBM saya. 'Ada satu project buat lo, men', itu tulisannya tuh (BBM). Akhirnya besoknya saya ketemuan di suatu kafe ngobrolin masalah film itu, cerita dan sinopsisnya. Jadi, kita garap skenario itu hampir setahun. Di penggarapan skenario Valentine itu sendiri sudah tiga penulis sebenarnya. Terakhir ini Beby Hasibuan." 

Perubahan skenarionya lebih banyak soal apa?
"Nggak banyak perubahan sih sebenarnya, cuma gaya bahasanya saja.

Apa alasan menerima tawaran untuk menggarap Valentine di debut menjadi sutradara?
Awalnya memang berat, ya, menerima film superhero. Jadi, awalnya sebenarnya bukan superhero. Ceritanya itu kan ada seorang perempuan yang bisa bela diri dan dia suka menolong orang lain, tapi dia selalu menggunakan kostum. Biasanya kan kalau superhero itu punya kekuatan lebih, kalau di Valentine kan tidak. Perempuan ini tidak punya kekuatan apapun selain dia punya bela diri. Yang membuat dia dinamakan superhero hanya kostumnya aja. Jadi, Valentine itu tetap manusia biasa. Dari situ berarti saya tidak terlalu bermain dengan fantasi, masih mendekati reality. Akhirnya itu bisa saya terima. Saya sebenarnya tanya balik sama Pak Sarjono Sutrisno, bukan saya yang ditanya siap atau tidak. Justru saya menanyakan ke Pak Sarjono, 'Apa Bapak sudah bisa percaya sama saya untuk pegang produksi ini?'. Itu kurang lebih tujuh kali saya lontarkan dalam dua tahun belakangan ini. Jeda 3-4 bulan saya test cam, kita buat teaser akhirnya. Terakhir saya tanya lagi ke beliau, "Gimana Pak dengan saya? Oke atau tidak?". Beliau masih jawab, 'Lo jalan aja, men. Gue percaya'. Dari situlah baru saya terima film ini dengan penuh."

Berarti, proses eksekusinya dari skenario sampai mulai syuting itu cukup lama, ya?
Cukup lama, dari penulis satu saja itu sudah makan waktu 6 bulan. Itu sudah revisi tiga draft. Yang pada akhirnya kita ganti penulis, dia buat dua draft. Sempat ada jeda, karena pada saat itu Skylar Pictures sedang menggarap Guardian (2014). Ada jeda beberapa bulan, baru masuk ke Beby Hasibuan. Sedangkan Beby Hasibuan pada saat itu belum boleh menulis Valentine sama Mas Sarjono, karena dia lagi terlibat dalam skenario Volt yang lagi disiapkan.

Antara komik Valentine dan skenario filmnya itu beda atau sama?
"Kalau buat komik itu sendiri saya juga sedikit terlibat dalam penceritaan di komik. Dalam arti, saya pernah diminta Pak Aswin untuk bikin scene plotnya buat di komik, nanti ceritanya tim komik yang buat. Dari beberapa draft yang ada di skenario, saya masukin di sana. Jadi, alur ceritanya yang berbeda dengan komik sebenarnya dan perubahan juga ada, karena saya sudah izin sama Pak Aswin bahwa saya tidak akan bikin sesuai dengan komiknya. Saya bikin sesuai dengan imajinasi saya sendiri di film ini. Beliau pun mengiyakan dan Pak Sarjono juga mempersilahkan."

Untuk masalah cerita sendiri, apa yang Valentine tawarkan berkaca pada film superhero sebelumnya?
"Di film Valentine ini kami coba menawarkan beberapa adegan yang dahsyat, beberapa fighting yang mungkin fantastis nanti penonton lihat, sama sisanya drama yang akan membuat orang haru. Jadi, ada beberapa adegan action yang bukan sekedar fighting. Fighting pun kita lebih banyak main di ground. Beberapa action lagi itu kejar-kejaran antara polisi dan para penjahat yang di mana lokasinya aja menurut kami itu udah keren, di Nagrek. Kita juga menghancurkan puluhan mobil di sini. Jadi, film ini akan menawarkan banyak ledakan, ledakan-ledakan gedung, ledakan mobil, action-action fighting yang fantastis."

Yang namanya jagoan itu konfliknya antara kebaikan dan kehajatan. Di Valentine sendiri kejahatan dalam bentuk apa yang ditawarkan?
"Di film Valentine ini kan kami membuat satu negara sendiri, punya kota namanya Batavia City. Itu adalah negara antah berantah yang kami buat. Jadi, kami tidak bicara Indonesia, walaupun ya kami semua warga negara Indonesia. Tapi, kami coba menawarkan satu kota bernama Batavia City yang itu entah di mana. Negara ini penuh dengan konflik, kejahatan, korupsi, dan ketidakpedulian antara sesama manusia di sana. Yang pada akhirnya ada seorang sutradara bule bernama Bono yang pada saat itu dia pun mengalami impact dari ketidakpedulian dan kejahatan ataupun yang lainnya di sana. Dia seorang penulis, akhirnya dia coba menulis tentang kota itu dan dia berkhayal andai saja di kota ini ada satu superhero yang bisa memberantas ini semua, mungkin kota ini akan damai, aman, dan tenteram. Jadi, kejahatan di kota ini ya banyak perampokan, pemerkosaan, korupsi, dan yang lain-lain. Jadi, di sini sebenarnya lebih menjurus kepada korupsi yang dilakukan para Polisi di Batavia City."

Untuk para cast-nya sendiri, keterlibatan Mas Agus sejauh mana?
"Pemeran utama kan bernama Estelle Linden, dia juga membantu kami merampungkan cerita Valentine ini. Ada beberapa hal yang kami diskusikan langsung sama pemainnya. Ada satu adegan seperti ini, enaknya berdialog seperti apa, bawanya seperti apa. Jadi, saya cuma bisa mengarahkan pemain. Pemain lah yang membentuk karakternya sendiri, termasuk Bono (Matthew Settle). Matthew kan artis Hollywood, saya memiliki keterbatasan komunikasi sama dia. Tapi, itu bisa kita selesaikan, karena adanya translator. Jadi, Matthew itu ternyata sudah baca lama skenario yang sudah kita kirim. Jadi ketika beliau datang ke Indonesia, Alhamdulillah beliau sudah paham dengan ceritanya. Dia pun memberi saya tiga pilihan ekspresi ketika take, tinggal saya yang pilih nanti. Jadi, pemain-pemain di sini cukup bekerjasama, karena dari awal readingnya pun kita nggak banyak dan nggak lama. Saya cuma bilang sama mereka bahwa karakter yang abadi nantinya ketika mereka melahirkan karakter itu sendiri. Jadi saya minta ya, seperti Estelle Linden untuk melahirkan karakter Sri Maya dan Valentine. Jangan coba mengadaptasi, walaupun ada Kick Ass (2010) dan yang lain-lain. Cobalah untuk lahirkan karakter itu sendiri." 

Pemilihan Estelle itu sendiri itu seperti apa prosesnya?
"Itu kita setahun setengah yang lalu kan ada casting dan pada akhirnya dateng Estelle Linden. Dia dateng pada kita dan kita tes di satu rooftop di gedung kita, berdialog dan bermain bela diri. Ketika itu kita lihat semua dari hasil cast-cast yang ada termasuk ada beberapa pemain ternama di situ. Diskusi saya dan para produser serta eksekutif produser akhirnya menentukan Estelle Linden untuk memerankan Sri Maya/Valentine."

Untuk peran karakter Bono itu apakah memang krusial harus bule yang memerankan?
"Sebenarnya bukan harus bule ya, tapi memang kita membutuhkan tokoh yang sebenarnya bukan berasal dari kota ini (Batavia City). Jadi, karena kita bicara Batavia, walaupun itu entah di mana, tapi tetap Batavia itu karakter orang-orangnya kan seperti orang Asia. Selain itu untuk menarik penonton juga, karena dia (Matthew Settle) punya follower yang banyak di luar. Memang film ini juga kan ditujukan untuk menjebol (pasar) Asia, jadi bukan sekedar Indonesia yang kita incar, tapi bagaimana caranya kita bisa menjebol pasaran di Asia Tenggara, yaitu lewat aktor Hollywood. Dan juga satu lagi Pak Sarjono Sutrisno itu memberikan kami pendidikan sebenarnya untuk bagaimana bekerjasama dengan orang bule. Jadi ada sharing tentang bagaimana sih syuting di sana (Hollywood)."

Lokasi syutingnya di mana saja?
"Titik lokasi syutingnya lumayan banyak, semua rata-rata ada di Jakarta. Di Jakarta kita ambil deretan Kota Tua, karena bentuk-bentuk bangunannya hampir sama dengan imajinasi kita mengenai Batavia City. Terus di Nagrek, karena kita butuh jalanan yang memang kanan-kirinya seperti jurang untuk kejar-kejaran, sama beberapa gedung-gedung tua kita pakai di Jakarta Pusat, sama satu gedung departemen kita pakai."

Memasuki syuting hari ke-93 ini, kesulitan apa yang ditemui?
"Banyak, namanya syuting kesulitan pasti ada. Tapi yang aneh memang di Valentine ini setiap hari kami mengalami kendala, dari hari pertama sampai di hari ke-93 ini. Itu selalu saja ada kendala, walaupun malamnya kami sudah brief, meeting. Besok pagi datang, ada aja masalahnya. Itu pun akhirnya bisa kami patahkan, rekan-rekan kru bersabar untuk itu, karena setiap hari sudah mengalami hal itu. Ada yang ini ketinggalan, yang ini belum ready, ya banyaklah. Kalau buat kendala-kendala syutingnya sendiri, buat saya, karena ini berbicara drama dan action, ada satu action director yang saya ambil untuk membantu saya mengerjakan action-action yang ada di Valentine. Jadi, memang kendalanya ya karena ini film action, kita butuh waktu yang lama dan kesabaran yang lebih."

Terakhir nih Mas Agus, untuk film superhero kan masih ada bayang-bayang film sejenis sebelumnya yang bisa dikatakan gagal. Seoptimis apa Mas Agus dengan film Valentine?
"Insya Allah Valentine ini tayangan yang berbeda daripada film superhero lainnya, karena ini memang superhero yang benar-benar hero, dia punya kekuatan yang dia tekuni. Action di Valentine juga semuanya berbeda dengan yang sebelumnya pernah digarap di Indonesia, action kejar-kejaran mobilnya pun termasuk action kejar-kejaran gaya Hollywood yang kita pakai, dan animasi kita pun Insya Allah kita pakai tempat yang bagus, kita pakai epic studio yang sudah kita percaya, mudah-mudahan dengan animasi yang mereka tawarkan ke film ini pun bisa memberikan kekuatan lebih di film yang kami buat ini. CGI juga banyak di sini sebenarnya, karena kita harus membangun beberapa gedung yang kita jauhkan dari kesan Jakarta. Jadi, gedung-gedung, background-background kita bangun itu semua."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON