Gerbang Neraka, Tawaran Baru dari Rizal Mantovani untuk Genre Horor

 

  Setelah sukses dengan Jailangkung (2017), sutradara kenamaan Indonesia Rizal Mantovani kembali dengan horor fantasi berjudul Gerbang Neraka. Berkolaborasi dengan Produser dan penulis skenario Robert Ronny, Rizal menjanjikan tontonan berbeda dibanding film-film horor yang telah ia garap selama ini. Menurutnya, banyak ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 14 September 2017
rizal mantovani ...
 
Setelah sukses dengan Jailangkung (2017), sutradara kenamaan Indonesia Rizal Mantovani kembali dengan horor fantasi berjudul Gerbang Neraka. Berkolaborasi dengan Produser dan penulis skenario Robert Ronny, Rizal menjanjikan tontonan berbeda dibanding film-film horor yang telah ia garap selama ini. Menurutnya, banyak nuansa baru nan kaya yang tersaji dalam layar lebar produksi Legacy Pictures. 
 
Ceritanya sendiri berkisah tentang petualangan Tomo Gunadi (Reza Rahadian) seorang wartawan tabloid mistis, paranormal bernama Guntur Samudra dan Arkeolog Arni Kumalasari (Julie Estelle) dalam mengungkap misteri di balik Piramida Gunung Padang. Ketika mulai terungkap, mereka yang tadinya memiliki kepentingan masing-masing harus bekerjasama untuk mencegah malapetaka yang mengikutinya. 
 
Selain para aktor papan atas, daya tarik lain yang ada di Gerbang Neraka adalah penggunaan Computer Generated Imagery (CGI) dan sosok antagonis (hantu) yang khusus dibuat untuk film ini. Rizal juga mengungkapkan kalau melalui cerita Piramida Gunung Padang, ia dan Robert Ronny mencoba menyajikan kisah horor yang tidak lagi berdasarkan urban legend, tetapi sesuatu yang faktual dan nyata, meski tetap fiksi.
 
Kepada tim 21cineplex.com, Rizal Mantovani bercerita banyak soal pengalaman menariknya selama menggarap film ini. Jadi, sebelum menyakskan Gerbang Neraka yang baru tayang mulai 20 September 2017, ada baiknya Anda membaca dulu wawancara kami dengan sang sutradara. Berikut petikannya.  
 
Bisa diceritakan awalnya itu cerita film ini dari Anda atau Robert Ronny?
Jadi, kalau dari saya, pada saat Mas Ronny datang ke saya, 'yuk kita bikin sebuah film horor, tapi bisa nggak sih kita lepas dari urban legend? Bisa nggak kita bermuara pada sesuatu yang faktual, yang nyata, bukan mitos?' Akhirnya setelah banyak pikir, saya cuma bisa gini, saya punya cerita dan ide, gimana kalau misalnya ini kita mengikuti perjalanan seorang wartawan tabloid mistis. Tabloid mistis kan di Indonesia lumayan jalan tuh ya, tapi saya nggak sebut apa namanya. Itu interesting kan? bagaimana wartawan itu meliput, mindset-nya seperti apa. Saya rasa untuk sebuah karakter, ini satu mindset yang seru. Mas Ronny akhirnya yang menggabungkan apa yang dia liput, yaitu sebuah situs yang mirip Gunung Padang. 
 
Apa tantangan yang paling sulit bagi Anda dalam menggarap Gerbang Neraka?
Tantangan yang paling sulit kali ini adalah membuat sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Kita syuting membuat Gunung Padang, sebuah gunung yang terinspirasi oleh yang ada di Jawa Barat, (tapi) itu kan belum dibuka ya, masih tertutup vegetasi segala macem. Nah, sementara kita harus bikin seolah-olah itu udah dibuka, dalamnya seperti apa, itu tantangan terbesar banget. Tapi, untung didukung penuh oleh produser, kita bikin set-nya besar banget, dibantu dengan komputer-komputer. Ya seru sih, mudah-mudahan keseruan membikin yang tidak ada menjadi ada ini bisa tertular di filmnya. 
 
Mengapa harus membuat set sendiri? Kenapa tidak mengambil syuting di situsnya langsung?
Karena pertimbangan cerita, bahwa memang secara cerita situsnya sudah dibuka. Kalau misalnya yang sekarang (aslinya) masih tertutup vegetasi, masih tertutup tanaman-tanaman, pohon-pohon, tanah-tanah. Sementara kita kan diceritanya udah dibuka, malah udah masuk. Jadi, untuk kepentingan cerita sih itu bahwa akhirnya kita harus rekayasa membuat ulang.
 
Jika ini tadi dibilang horor yang berdasarkan sesuatu yang faktual, mengapa untuk sosok penampakan atau setan Badurah bentuknya masih tradisional?
Sekali lagi kita juga mau coba untuk menggeser sebuah urban legend yang ada di masyarakat, seperti Kuntilanak atau Genderuwo. Badurah ini baru, memang bikinan baru. Jadi itu sih, lepasnya dari situ. Ini bukan mitos, ini hantu antagonis buatan. Badurah yang bikin nama Mas Ronny. Kalau saya rasa mudah-mudahan ini membuka juga film dengan nuansa fantasi ya. Kalau di sana ada Game of Thrones yang udah berseri-seri segala macem, ada naga, penonton udah bisa terima. Nah, mudah-mudahan ini pintu sedikit terbuka untuk yang genre fantasi itu lewat film horor.  
 
Kalau untuk pemilihan pemain bagaimana, apakah memang sengaja menggunakan nama-nama besar?
Sebenarnya kebalik, saya nggak yakin kalau mereka mau sebenernya. Karena kan kita ngomong horor, fantasi. Pemain-pemain watak kayak Reza Rahadian, Julie Estelle, Om Ray (Sahetapy), apa mau dengan genre fantasi kayak gitu? Tapi, mungkin karena kekuatan scriptnya, ini bukan sebuah horor yang plek, dateng ke rumah, digangguin, ini kan kemana-mana. Itu yang mudah-mudahan membuat Reza, Julie, Dwi Sasono, Om Ray, Lukman Sardi, tertarik untuk bikin genre ini. Jadi, saya minta Mas Ronny yang bikin ceritanya, karena ceritanya untuk saya nggak kayak cerita horor pada umumnya. 
 
Riset apa saja yang Anda dilakukan agar cerita yang fiksi ini tetap menyajikan fakta-fakta menarik soal Piramida Gunung Padang?
Data-data seperti misalnya bahwa di Gunung Padang itu pernah diambil sample, sudah dites di Indonesia, dan akhirnya mereka tes lagi di Miami, Florida. Ternyata memang di dalamnya adalah man made (buatan manusia) dan jauh lebih tua dari Piramida di Mesir. Itu sebuah data-data fakta. Dan ada beberapa fakta lain yang kita masukkan di situ, karena memang seru sih. Kalau biasanya kan film horor berkutat pada urban legend, sesuatu yang mitos, tapi ini ternyata ada data-data yang sebenarnya juga berdasarkan sebuah tempat yang memiliki data faktual. 
 
Bisa Anda jelaskan seperti apa kombinasi antara fakta dan fiksi di film ini?
Ini kayak film The Da Vinci Code (2006). Banyak hal-hal yang sifatnya beneran, data-datanya dia. Tapi akhirnya diperkenalkan karakter yang memang fiktif, dan akhirnya jadi action. Kalau dia kan jadi action, kalau ini (Gerbang Neraka) jadi horror fantasy. Mudah-mudahan penonton Indonesia bisa move forward, akhirnya bisa bedain mana film dokumenter dan mana film hiburan.  
 
Proses apa yang paling lama dilakukan dalam menggarap film ini?
Bikin CGI-nya lama banget, karena budget-nya terbatas. Kalau biasanya orang bakal ngomong 'wah ini film pakai CGI, budget-nya gede'. Nggak, saya bilang di sini budget-nya terbatas. Dari yang terbatas itulah gimana saya dan teman-teman yang bikin CGI itu harus membuat hasil akhir yang oke dan sesuai. Itu sih yang akhirnya kita pelan-pelan bikin dengan budget yang ada.
 
Memangnya seberapa besar penggunaan Computer Generated Imagery (CGI) di film ini?
Kalau saya lihat sih walaupun ini ada CGI-nya, ada green screen-nya, tapi saya juga nggak bisa dibilang bahwa ini adalah film penuh dengan efek. Kenapa? karena saya coba bikin CGI-nya itu terbatas sekali, jangan terlalu banyak, kita hanya perlu sesuai porsinya aja. Takutnya kalau kita bikin terlalu wah, sementara budget-nya nggak nyampe, malah menjadi tidak baik. Jadi, kita bikin yang kecil-kecil aja, tapi secara penggarapan mudah-mudahan berhasil. 
 
Anda kan dikenal spesialiasi di film horor, apa harapan Anda lewat film ini untuk genre tersebut kedepannya?
Harapannya bahwa sekarang ternyata horor bernuansa lain, bernuansa fiksi, bernuansa fantasi, science fiction, ada conspiracy theory-nya, itu juga bisa menjadi satu tawaran lain untuk penonton Indonesia. Biar terus ada tema-tema lain, nggak itu-itu aja.
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON