Kemal Palevi: Dari Capek, Jadi Film

 

  Perlahan tapi pasti, komedian muda di tanah air mulai unjuk gigi di dunia sinema. Sebelumnya ada Raditya Dika dan Ernest Prakasa, kini giliran Kemal Palevi (23 tahun). Tak hanya sekedar berakting, ia juga menjadi sutradara dan penulis skrip film Abdullah ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 15 Maret 2016
Kemal Palevi
 
Perlahan tapi pasti, komedian muda di tanah air mulai unjuk gigi di dunia sinema. Sebelumnya ada Raditya Dika dan Ernest Prakasa, kini giliran Kemal Palevi (23 tahun). Tak hanya sekedar berakting, ia juga menjadi sutradara dan penulis skrip film Abdullah v Takeshi. 
 
Dalam film produksi Multivision Plus tersebut, Kemal yang belajar menulis dan penyutradaraan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), memegang peran utama bersama Dion Wiyoko dan Nasya Marcella. Menurut anak muda kelahiran Samarinda ini, filmnya “full humor” dan, “Ada kisah percintaan dan drama keluarga juga. Orangtua, bisa ikhlas nggak ya kalau ternyata yang dia gedein bukan anaknya.”
 
Lalu kenapa Kemal, yang matanya tidak sipit sama sekali, malah berperan sebagai orang Jepang? Apa hubungannya dengan penghargaan terhadap karya perfilman? Berikut petikan wawancara dengan komedian yang melejit lewat film Comic 8 (2014) ini: 
 
Dari mana muncul ide membuat cerita Abdullah v Takeshi?
"Iseng, ha-ha-ha! Gini…, beberapa kali pengumuman nominasi Piala Citra dan penghargaan lainnya, gua nggak pernah dapet karena karakternya selalu berbau Arab. Kayak di Surga Yang Tak Dirindukan (2015), yang masuk nominasi Tanta Ginting (Hartono), padahal kayaknya banyakan gua yang tampil, ha-ha-ha! Trus, jadi kepikiran, yang jauh dari Arab-araban apa ya? Oh, orang Jepang! Karena dulu inget ada film Warkop begitu (Depan Bisa Belakang Bisa). Ya udah, bikin karakter orang Jepang aja, kayaknya lucu nih. 
Itu kepikirannya tahun lalu. Trus, setelah kelar syuting Comic 8: Casino King Part 2, kan capek banget. Iseng-iseng gua ngobrol sama Ernest dan Arie Kriting, ‘Eh, bikin film yuk?’. Ernest bikin Ngenest (2015), gua ingat karakter orang Jepang tadi, jadilah  Abdullah v Takeshi."

Mengapa harus mengambil syuting di Jepang? Kebutuhan cerita atau seperti apa?
"Kebetulan Fajar Bustomi waktu itu mau nge-direct film Winter in Tokyo, dan dia jadi perencana produksi di film gua ini. Nah, kenapa nggak sekalian aja ke sana? Akhirnya, berangkatlah kami ke Jepang bareng-bareng, nyari lokasi, trus syuting selama 10 hari." 

Lebih enak mana, stand up comedy atau main film?
“Lebih enak stand up sih, karena nggak lama waktunya. Kalau syuting kan kadang harus pulang pagi, belum lagi jadwal promonya ’gila-gilaan’. Tapi yang jelas, dua-duanya saling ngisi sebenarnya. Di stand up, gua belajar jujur, karena kita based on fakta. Misalkan kita resah  soal Ahok nggak boleh jadi gubernur lagi. Itu materi yang lucu banget buat stand up comedy. Nah, kalau akting, kita kan harus mengobservasi orang. Otomatis perbendaharaan karakter di dalam diri gua makin banyak.” 

Dari segi pendapatan, mana yang lebih menjanjikan?
"Kalau stand up, sehari bisa ngambil job sini, ngambil job sana, dengan materi yang sama, ha-ha-ha. Kalau akting, ya udah, akting aja. Satu film, satu bulan diblok, gitu sih... Jadi, dari segi materi, lebih enak stand up, makanya supaya duitnya sama, ngakalinnya ya jadi sutradara plus nulis skrip, dan main juga, ha-ha-ha!"

Pertanyaan terakhir, apa sih yang ditawarkan film Abdullah v Takeshi? 
“Lucunya kayak film Ngenest (2015) dan Comic 8 (2014) ada, jelas. Kisah percintaannya juga ada, bahkan komplit karena merupakan drama keluarga. Orangtua, bisa ikhlas nggak ya kalau ternyata yang dia gedein bukan anaknya. Jadi, family values-nya tuh tinggi banget. Film ini ngasih tahu, kalau kita saling menyayangi sesama umat manusia, maka suku, ras, dan agama tuh nggak penting lagi."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON