Anggy Umbara Lanjutkan Warisan Sang Ayah Lewat 5 Cowok Jagoan

 

  Karya terbaru sutradara kenamaan Indonesia, Anggy Umbara, berjudul 5 Cowok Jagoan tak lama lagi akan hadir di seluruh bioskop Indonesia. Setelah sebelumnya banyak berkolaborasi dengan para stand up comedian, di film produksi MVP Pictures ini Anggy menggandeng aktor-aktor papan atas ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 05 Desember 2017
anggy umbara ...
 
Karya terbaru sutradara kenamaan Indonesia, Anggy Umbara, berjudul 5 Cowok Jagoan tak lama lagi akan hadir di seluruh bioskop Indonesia. Setelah sebelumnya banyak berkolaborasi dengan para stand up comedian, di film produksi MVP Pictures ini Anggy menggandeng aktor-aktor papan atas seperti Ario Bayu, Dwi Sasono, Arifin Putra, Cornelio Sunny, Muhadkly Acho, Nirina Zubir, Tika Bravani dan Verdi Solaiman. 
 
Kisahnya sendiri bercerita tentang Yanto (Ario Bayu), seorang cleaning service yang meminta bantuan empat sahabat semasa kecil, Dedy (Dwi Sasono) hansip kampung, Danu (Arifin Putra) penipu ulung, Lilo (Muhadkly Acho) Gamer dan ahli komputer, serta Reva (Cornelio Sunny) mantan preman untuk menyelamatkan pujaan hatinya bernama Dewi (Tika Bravani) yang diculik oleh segerombolan pasukan bersenjata yang sangat profesional.
 
Usai press screening dan konferensi pers di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (4/12) sore, 21cineplex.com berkesempatan berbincang-bincang dengan Anggy mengenai besutan terbarunya yang tayang mulai 14 Desember 2017 itu. Sang sutradara mengaku kalau 5 Cowok Jagoan merupakan upaya dirinya melanjutkan warisan ayahnya, Danu Umbara, yang pada tahun 1980 membuat 5 Cewek Jagoan. Berikut petikan lengkap wawancaranya.  
 
Boleh diceritakan apa yang melatarbelakangi digarapnya film 5 Cowok Jagoan?
"Ini merupakan sekuel atau universe dari 5 Cewek Jagoan yang dulu dibuat oleh ayah saya, Danu Umbara, pada tahun 1980. Waktu itu diperankan oleh Lydia Kandou, Eva Arnaz, Dana Christina, Debby Cynthia Dewi dan Yati Octavia. Kalau dilihat ending-nya tadi ada Lydia Kandou di sana. Jadi, terusannya kita bikin lebih komedi, lebih action dan lebih fantasi lagi. Ini juga persembahan untuk Indonesia supaya genrenya bisa semakin bervariasi dan berwarna-warni."
 
Jadi awalnya yang mengajukan proyek ini Anda atau MVP Pictures?
"MVP sudah punya rencana, jadi sebelum saya bikin 3: Alif, Lam, Mim (2015) itu sebenernya yang mau dilakukan adalah 5 Cewek Jagoan dulu. Berhubung pada waktu itu yang script-nya sudah ready adalah 3: Alif, Lam, Mim (2015), ya itu duluan yang dikerjain. Abis itu saya ngerjain Warkop segala macem, akhirnya ketunda dulu. Setelah udah selesai baru masuk ke project 5 Cowok Jagoan ini." 
 
Apa pertimbangannya lebih memilih membuat 5 Cowok Jagoan dulu dibanding 5 Cewek Jagoan?
"Karena kalau saya mau bikin remake-nya 5 Cewek Jagoan itu harus serius banget, which is budget-nya akan gede banget karena full action kan, harus jauh lebih heboh dari yang dulu. Untuk itu saya pikirnya kita warming up dulu aja, supaya nggak kaget gitu lho langsung ke 5 Cewek Jagoan. Jadi, diperkenalkan dulu awareness-nya kepada orang-orang bahwa ada lho dulu namanya 5 Cewek Jagoan, terus kita bikin spin-off 5 Cowok Jagoan. Tapi main course yang bener-bener ditunggu itu yang 5 Cewek ini."   
 
Mengapa memilih tema Zombi untuk film ini?
"November 2016 tuh saya ngobrol sama Pak Raam Punjabi di Santa Monica, Los Angeles, kita fix akan pakai action comedy with zombies. Film ini bakal menjadi action comedy zombie pertama di Indonesia, dan Pak Raam setuju. Kalau pocong udah banyak, ya. Emang dari dulu sih salah satu wishlist saya membuat film zombi karena saya juga pecinta film zombi. Saya suka film fantasi yang kayak gitu. Mulai dari Shaun of the Dead (2004), Dawn of the Dead (2004), Train to Busan (2016), World War Z (2013, Walking Dead dan segala macem saya nonton semua. Kayaknya untuk sekarang, anak-anak milenial, kids jaman now, ini kan generasi Twilight gitu ya, yang tontonannya zombi, vampir dan serigala. Semoga kids jaman now menunggu itu dan bisa diterima, bukan cuma di Indonesia. Mudah-mudahan kalau ini juga tayang di Asia Tenggara atau Asia masih nyambung, setannya sama gitu kan."
 
Ada film khusus yang jadi inspirasi?
"Semua film zombie sih jadi influence. Dibilang Walking Dead juga nggak, soalnya ini kan komedi. Sedeket mungkin komedinya adalah Shaun of the Dead (2004), tapi itu nggak se-action ini. Kalau 5 Cowok Jagoan kan bener-bener action martial art. Zombinya sampai terakhir juga bisa berantem dan itu kan belum pernah ada. Akan ada surprise juga di 5 Cewek Jagoan soal kenapa sih zombi ini bisa berantem, nanti ada penjelasannya di sekuelnya."
 
Judulnya kan 5 Cowok Jagoan, tapi kenapa yang bisa beladiri justru karakter ceweknya?
"Jadi konsepnya kalau yang cewek kan emang harus udah jagoan. Kalau yang cowok itu kita mau bikin lebih komedi, mengeluarkan sisi jagoan dari seseorang yang nobody. Hansip, cleaning service, ada sisi jagoan dalam dirinya. Konsepnya adalah from zero to hero di 5 Cowok Jagoan ini. Kalau yang 5 Cewek Jagoan, emang udah jagoan. Jadi ini lebih ke 5 cowok sok jagoan sebenernya." 
 
Selain Anda, film ini juga ditulis oleh Arie Kriting dan Isman, apa pertimbangannya?
"Desember 2016 saya kembangin sendiri dulu, baru masukin Arie Kriting dan Isman setelahnya. Sebelum syuting syuting bulan Maret itu udah jadi. Saya udah bikin konsepnya, ditulis sama Isman draft 1 sampai 3. Kemudian diteruskan Arie Kriting 4 sampai 5, lalu saya teruskan sampai final draft ke-8. Jadi memang perlu bantuan sih, bagi-bagi tugas. Treatmennya biasa aja, mengkhayal aja sesuka hati gitu, dan saya membayangkan sudah menonton filmnya seperti apa, baru saya tulis. Kita usahakan se-relate mungkin dengan keadaan zaman sekarang yang milenial ini. Jadi dimasukkan unsur-unsur kayak ojek online apa segala macem. Itu dibantu juga sama Isman dan Arie Krting tadi sih. Kita brainstorming bertiga sampai malam, jam 2 pagi."
 
Kalau untuk para pemain, seperti apa seleksinya? Mengapa memakai nama-nama besar?
"Saya duduk satu-satu sama mereka sih. Sebelum mereka juga sudah ada beberapa nama lain yang sudah duduk bareng ternyata nggak jalan. Yang jalan akhirnya ini, cocok, mereka suka dan satu passion. Mereka juga suka film zombi dan mau bikin film zombi. Mereka challenging banget karena tiga aktor ada yang belum main komedi sama sekali. Yang udah main komedi juga belum pernah main zombi sama sekali. Jadi, saling menantang diriny masing-masing. Kalau untuk saya sih sebenernya ya siapapun itu, kalau udah ada di depan kamera dia harus menjadi aktor. Mau dia stand up comedian, awalnya tukang bakso, tapi begitu di depan kamera, responsibility dia adalah sebagai seorang aktor. Maunya saya begitu, harusnya seperti itu. Waktu itu sudah bikin dengan para stand up comedian yang jadi pemeran utama di film. Sekarang, pengen bikin bahwa aktor-aktor juga bisa memainkan komedi. Jadi biar nggak terjadi stereotyping aja sih, nggak jadi stempel kalau film komedi harus diperankan oleh pelawak atau stand up comedian, tapi aktor juga bisa. Kalaupun stand up comedian main film pun nggak apa-apa. Ada beberapa yang berkembang jadi aktor dan sutradara. Saya sih nggak mau memilah-milah mana yang aktor mana yang apa, tapi kalaupun saya mau bekerjasama, harus orang-orang yang capable di bidangnya, harus saya percaya, bisa kerja keras, kerja tangkas dan kerjasama."
 
Film action ini kan ada komedinya, sempat khawatir tidak unsur komedinya tidak berhasil?
"Sampai tadi sebelum diputer masih terus ada kekhawatiran sih. Kena apa nggak, miss atau nggak, karena sense of comedy atau humor orang kan beda-beda. Ada yang nonton Warkop ketawa ngakak, ada nggak ketawa sama sekali. Comic 8 juga begitu. Ada yang ketawa karena slapstick, ada yang verbal. Jadi, bener-bener saya ngambil jalan tengahnya aja. Untuk di sini, coba dites ke beberapa orang sih. Tolok ukurnya sebenernya istri saya, dia ngakaknya parah. Pas Warkop dia ngakak nggak separah ini. Dia bilang sih ini perbaikan dari yang sebelum-sebelumnya. Lebih rapi dan lebih kenalah menurut dia. Awalnya kita nggak mau terlalu slapstick. Pengennya nggak terlalu fantasi, tapi lebih ke masuk logika. Ternyata kita nggak butuh itu. Kita butuh yang lebih lebar lagi jokes-nya, lebih verbal dan situasional lagi. Karakternya juga harus lebih komikal dan komedi lagi."
 
Butuh waktu berapa lama untuk syuting film ini?
"Rekor kayaknya, film action di dunia nggak ada yang dibuat cuma 25 hari. Minimal itu dua bulanan untuk bikin film action yang proper. Ini agak ajaib sih, maksudnya kita bener-bener kerja keras bangetlah semua tim."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON