'Spiritual Film Making' Danial Rifki untuk Haji Backpacker

 

  Setelah sukses menggarap film bernuansa religi La Tahzan (2013), Danial Rifki kini terlibat di proyek layar lebar yang serupa berjudul Haji Backpacker. Dipercayanya Danial Rifki menyutradarai film bertema religi ternyata tidak datang secara kebetulan, ia mengaku memang sudah lama tertarik ...

05 September 2014
Posted By: Alit Bagus Ariyadi
Danial Rifki
 
Setelah sukses menggarap film bernuansa religi La Tahzan (2013), Danial Rifki kini terlibat di proyek layar lebar yang serupa berjudul Haji Backpacker. Dipercayanya Danial Rifki menyutradarai film bertema religi ternyata tidak datang secara kebetulan, ia mengaku memang sudah lama tertarik dengan genre yang 'bernafas' spiritual.
 
Menurut Danial, manusia itu tidak bisa lepas dari spiritual. Oleh sebab itulah, kedepannya Danial ingin terus konsisten di film yang memiliki sentuhan-sentuhan spiritual meskipun berbeda genre. Khusus untuk film Haji Backpacker, ia mengakui kalau layar lebar produksi Falcon Pictures ini adalah proyek terbesarnya karena syuting di 9 negara.
 
Tentunya, banyak kisah menarik saat melakukan syuting di beberapa negara dengan budaya yang berbeda. Apalagi, film ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang sedang kecewa kepada Tuhannya namun kemudian terpanggil untuk menuju arah yang lebih baik. Pengalaman menarik apa aja yang dialami Danial saat menggarap Haji Backpacker? berikut bincang-bincang tim 21cineplex.com dengan Danial saat ditemui di kantor Falcon Pictures di kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.
 
Mulanya dapat tawaran film Haji Backpacker, apakah Anda sudah punya ide ceritanya atau kisahnya sudah dibuat oleh Falcon Pictures?
"Awalnya dari Falcon sih. Setelah Lah Tahzan (2013) yang syuting di negara lain di 5 kota itu, kayanya kita bisa dan masih memungkinkan dengan kondisi seperti ini untuk bermimpi ke banyak negara. Nah produser datang dengan Haji Backpacker tapi awalnya kisahnya tentang seorang mahasiswa yang ingin pergi haji lewat jalur darat agar murah. Tapi pas saya lihat agak biasa ya, makanya saya buat lebih dalam aja sebagai spiritual journey. Kisahnya justru orang yang nggak mau haji tapi malah dapat undang ke Mekkah, apa yang terjadi nah kita kembangin itu. Jadi deh jalur 9 negara ke tanah suci."
 
Saat mengetahui syuting di banyak negara, apakah Anda sudah punya persiapan khusus?
"Kita belajar dari La Tahzan tentunya. Ada beberapa kondisi yang menyusahkan ada juga yang enak. Kita pakai medium tim lah, nggak tim kecil atau besar juga. Kita juga kerjasama dengan pihak negara sana untuk membantu kebutuhan kita karena budayanya kan berbeda pastinya."
 
Pada saat itu, Anda memang sudah melirik Abimana untuk memerankan karakter utamanya?
"Pilih Abi itu karena ingin liat 'bad boy' tapi tetep keren. Karakternya cocok sama dia dan memang harus tahan banting itu pasti. Ada dua adegan jatuh, dia lakoni sendiri lho, tahan banting tuh dia he he he."
 
Katanya, Anda sering berimproviasi saat proses syuting film ini?
"Bahasa kerennya spiritual film making sih, ada film maker melakukan itu dan saya setuju dengan itu, karena ia harus merespon ruang dengan hati. Detail skenario harus di buang tapi tetap gunakan prinsip. Darisana ada koneski dengan perasaan dan lebih bagus. Kita terbuka bukan niat nyusahin tapi untuk capai yang lebih baik."

Improvasi itu bukannya membuat biaya produksi membengkak dan lebih menguras tenaga para pemain?
"Tidak semena-mena terus cost naik dan bikin produser teriak. Kalau fisik harus di croscek banget, nggak cuma aktor tapi semua departemen juga."
 
Apakah ada di salah satu negara, Anda tidak bisa mengambil gambar atau sejenisnya? 
"Nggak ada sih, cuma saat di Tibet itu saking teraturnya kita justru nggak bisa keluar dari aturan. Semua rute harus jelas sebelum kita datang. Saat mendaki ke ketinggian 3200 ke atas, kita nggak bisa turun ke ketinggian 2000 karena nggak ada izinnya."
 
Sebelum film ini rilis, Haji Backpacker kan merilis novelnya. Apa nggak takut nanti banyak yang tidak menonton filmnya karena sudah baca?
"Buku dan film adalah dua media yang beda, jadi bukan yang mengkhawatirkan sih karena saya suka baca dan nonton itu hal beda. Lagipula ceritanya agak dibedain dari bukunya sih."
 
Sebagai sutradara, apa sih yang Anda harapkan ketika publik menonton film ini?
"Ini bukan film manual book tentang pergi haji lewat jalur darat ya, tapi ini perjalanan spiritual, minimal ada kesadaran kalau kita mahluk spiritual. Ini penggambaran untuk kembali pada Tuhan."
 
Haji Backpacker apakah bisa di tonton oleh umat bergama lain?
"Secara judul memang mengarah kepada Islam sih, tapi kita netralisir di packaging dan posternya. Itu strategi kita yang menarik agama lain untuk menonton, karena ini lebih ke spiritual sendiri dan semua agama pasti ke arah sana. Film ini friendly banget kok untuk agama lain, produser kita aja bukan Islam tapi memilih film ini. Selain itu, di film ini karakternya juga macem-macem nggak cuma tentang orang Islam aja."
 
Apakah Haji Backpacker ada potensi sekuel?
"Ha ha ha judulnya jadi Pulang Haji Backpacker kali ya. Belum berfikir sejauh itu sih. Buat saya ini solid sebagai satu film sendiri. Kita lihat nanti aja. Kebetulan saya suka dongeng-dongeng spiritual, karakter Mada ini salah satunya. Tapi intinya kisah spiritual itu buat saya selalu menarik sih."
 
Di film panjang pertama Anda (La Tahzan) juga bertemakan religi, apakah ini sengaja dilakukan agar nama Danial identik sebagai sutradara film religi? 
"Iya mungkin aja tapi dengan genre yang beragam ya. Saya 'genit' dengan genre soalnya. Spiritual itu nggak bisa lepas dari kita sebagai manusia. Jadi film saya kedepan akan tetap ada koneksi ke spiritualnya." 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON