Utamakan Kualitas, Jailangkung Jadi Film Horor Termahal Jose Poernomo

 

  Film horor sepertinya sudah menjadi 'makanan' sehari-hari Jose Poernomo sebagai sutradara. Tercatat, sudah sekitar 14 layar lebar menakutkan yang sudah pernah dibuat Jose sepanjang karirnya di dunia film.   Ia menjalani debut film horornya pada tahun 2001 bersama Rizal Mantovani lewat Jelangkung ...

Posted By: Alit Bagus Ariyadi, 06 Juni 2017
jose poernomo ...
 
Film horor sepertinya sudah menjadi 'makanan' sehari-hari Jose Poernomo sebagai sutradara. Tercatat, sudah sekitar 14 layar lebar menakutkan yang sudah pernah dibuat Jose sepanjang karirnya di dunia film.
 
Ia menjalani debut film horornya pada tahun 2001 bersama Rizal Mantovani lewat Jelangkung dan berhasil mencuri perhatian 1,3 juta penonton bioskop pasca dirilis. Kini, setelah 16 tahun berlalu ia berduet lagi dengan Rizal untuk menggarap Jailangkung yang dibintangi oleh Amanda Rawles, Jefri Nichol, Lukman Sardi, Wulan Guritno, Hannah Al Rashid, dan Augie Fantinus.
 
Dengan judul yang terdengar sama, banyak yang mengira ini adalah sekuel dari film sebelumnya. Tapi secara tegas ia menyatakan kalau Jailangkung berbeda dengan Jelangkung mulai dari cerita hingga para aktor/aktris yang dilibatkan.
 
Tim 21Cineplex.Com berkesempatan mewawancari Jose di Plaza Senayan XXI perihal Jailangkung yang katanya menjadi film horor termahalnya karena melakukan proses syuting di beberapa daerah di luar Jakarta untuk menampilkan kesan seram dan menakutkan. Berikut adalah bincang-bincang kami dengan Jose tentang layar lebar horor terbarunya yang tayang di bioskop mulai 25 Juni 2017.
 
 
Setelah 16 tahun membuat Jelangkung (2001) kenapa sekarang Anda membuat film tentang boneka pemanggil arwah itu lagi?
"Ya karena ada yang menarik lagi untuk diangkat. Selain itu, kolaborasi (Rizal Mantovani) juga hal yang nggak pernah berhenti kita omongin. Karena kenikmatan kerja berdua (sebagai sutradara) itu, syuting jadi lebih menyenangkan."
 
Anda menegaskan Jailangkung beda dengan Jelangkung (2001) dan sama sekali tidak ada kaitan kisahnya. Seperti apa sih perbedaannya?
"Secara konsep beda, kalau yang dulu (Jelangkung) kan tentang sekelompok remaja yang cari tempat-tempat seram. Kalau yang sekarang lebih ada dramanya dan ceritanya tentang keluarga."
 
Film Jailangkung melakukan syuting di Jakarta, Sukabumi, Purwokerto, Cimahi, Bali, dan Lombok, alasannya apa?
"Orang sudah beli tiket mahal untuk nonton jadi kita harus kasih yang terbaik. Kalau mau cuma cari untung ya di sekitaran Jakarta. Kita tujuannya adalah product value, harus cari wilayah yang punya pohon besar, danau dan sebagainya. Intinya kita sebagai film maker nggak mau ngakal-ngakalin penonton atau ngegampangin."
 
Banyaknya lokasi yang digunakan untuk Jailangkung apakah biaya produksinya lebih mahal dari film sebelumnya?
"Saat ditawarin untuk bikin film, saya ajuin cerita ke Screenplay Films yang memang nggak murah. Ini layar lebar horor paling mahal yang pernah saya bkin, biayanya bisa 2 sampai 3 kali lipat dari yang biasa saya buat. Dari awal, tempat yang ingin dijangkau harus pakai sea plane, ketika mereka (Screenplay Films) mau ya jalan. Budget awal saya perkirakan 6 miliar, tapi pas jalan produksi menjadi 8 sampai 10 miliar."
 
Memangnya lokasi seperti apa sih yang dibutuhkan Jailangkung sampai akhirnya harus ke luar Jakarta?
"Salah satunya adalah kita butuh hutan yang lebat dengan pohon yang tinggi besar dan berkabut, tapi bagian bawahnya (tanah) tidak bersemak karena untuk kebutuhan 2 karakter utamanya lari-lari. Kalau soal rumah besar yang ada di tengah hutan di trailer itu rumahnya asli tapi hutannya pakai Computer Generated Imagery (CGI). Kita juga pakai  Dhrone yang terbang tiap hari dan pakai yang untuk standart cinematografi bukan Drone biasa."
 
Di Jailangkung Anda melibatkan aktor muda dan senior pertimbangannya apa?
"Kalau pemain itu urusan produser saya nggak ikut milih karena bagi-bagi tugas aja. Itu bukan kerjaan sutradara. Paling saya hanya tugasnya arahkan Jefri Nichol dan Rizal menangani Amanda Rawless."
 
Anda berkolaborasi lagi dengan Rizal Mantovani seperti di Jelangkung (2001), pembagian tugasnya seperti apa sih?
"Rizal itu bagus sekali dalam membuat artistik. Waktu di film Jelangkung dia yang bikin tuh boneka pemanggil arwah dari batok kelapa dan batang kayu serta gunakan kain putih, dulu belum ada yang seperti itu. Jadi saat syuting dia urusin art, saya bagian penyutradaraan, tapi film itu kan kerja kolaborasi nggak bisa jadi 'jagoan' sendiri."
 
Kesulitannya apa sih saat Anda dan Rizal garap film Jailangkung?
"Lokasi dan akomodasi sih yang paling berat, kesulitan standart sih. Tapi karena karena ditopang dana yang cukup, masalah itu bisa kita urai. Kita punya beberapa tim dengan tugas yang beda. Film ini bisa di bilang lancar-lancar aja karena dibiayai dengan baik, biasany film kesulitan kan biaya."
 
Taglinenya kenapa Datang Gendong Pulang Bopong, bukannya Datang Nggak Dijemput Pulang Nggak diantar?
"Pas film pertama rilis berbagai macam orang samperin saya cerita soal Jelangkung. Tapi ada satu orang yang saya ingat dan bilang mantra 'Datang nggak dijemput pulang nggak diantar' itu direvisi biar nggak anterin setan yang datang. Dulu itu 'Datang gendong pulang bopong,' kalau mantranya gitu pasti datang, karena kan kita harus anterin setannya pulang. Tahun 2003 saya coba dan itu pertama kali megang boneka jelangkung gerak sendiri."
 
Apakah Anda optimis film Jailangkung bisa melebihi kesuksesan Jelangkung?
"Film itu adalah cerita, walau pemain yang dilibatkan top dan segala macam kalau kisahnya nggak menarik ya nggak akan punya daya tarik. Cerita bagus itu yang diutamakan. Perihal jumlah penonton saya nggak bisa jangkau daerah itu."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON