Mencegah Gila, Lola Amaria Produksi Negeri Tanpa Telinga

 

  Setelah hampir 5 tahun tidak menyutradarai sebuah film, kini Lola Amaria sudah siap memperkenalkan karya terbarunya di tahun ini. Film berjudul Negeri Tanpa Telinga dipersiapkan Lola pasca usainya pesta demokrasi yang digelar di Indonesia.   Seperti diketahui, film Minggu Pagi di Victoria ...

24 Juli 2014
Posted By: Alit Bagus Ariyadi
Lola Amaria
 
Setelah hampir 5 tahun tidak menyutradarai sebuah film, kini Lola Amaria sudah siap memperkenalkan karya terbarunya di tahun ini. Film berjudul Negeri Tanpa Telinga dipersiapkan Lola pasca usainya pesta demokrasi yang digelar di Indonesia.
 
Seperti diketahui, film Minggu Pagi di Victoria Park (2010) adalah proyek layar lebar terakhir yang Lola Amaria sutradarai. Meskipun ide Negeri Tanpa Telinga sudah tercipta sejak tahun 2011, namun film tersebut akhirnya baru bisa terealisasi pada tahun ini. Karena sudah tertimbun lama, Lola bahkan sempat menyatakan ia bisa saja menjadi 'gila' jika Negeri Tanpa Telinga tidak diproduksi.
 
Masih mengusung film dengan nuansa 'berani', Lola Amaria pun menggandeng banyak bintang untuk dilibatkan di Negeri Tanpa Telinga yaitu Tengku Rifnu Wikana, Lukman Sardi, Ray Sahetapy, Tanta Ginting, Gary Iskak dan Kelly Tandiono. Dalam sebuah kesempatan, tim 21cineplex.com mewawancarai Lola di kantornya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, perihal proses produksi Negeri Tanpa Telinga dan latar belakangnya.
 
Berikut adalah hasil bincang-bincang singkat tim 21cineplex.com dengan Lola Amaria:

Kabarnya ide film Negeri Tanpa Telinga sudah ada sejak 3 tahun lalu, kenapa baru sekarang di produksi?
"Tahun itu masih pemerintahan SBY, saya sudah kumpulin banyak data tentang politik, seks dan sebagainya. Kasus terus bergulir. Kenapa baru sekarang produksi karena faktor dana sih. Kita baru dapat dana tahun lalu dan kebetulan momennya pas pemilu dan kampenye Presiden baru. Awalnya kita dapat tanggal rilis di bulan Juni tapi saya nggak mau karena saat itu momennya Piala Dunia dan lebih memilih di bulan Agustus."
 
Dengan kata lain film ini terinspirasi dari kasus-kasus yang terjadi di Indonesia belakangan ini?
"Iya. Ini bukan hal baru sih dan sudah pernah ada bahkan lebih serem aslinya. Saya cuma kumpulin data, tinggal buat dramanya aja. Buat drama itu nggak gampang loh dan nggak mungkin semua kasus bisa masuk karena durasi 2 jam kurang jadi pilih yang up to date. Nah buat cerita juga makan waktu 3 sampai 4 bulan baru jadi skenario."
 
Dari beragamnya kasus yang dikumpulkan akhirnya dipilih berapa yang diangkat ke film?
"Akhirnya dipilih 2 kasus yang kita anggap paling besar."
 
Untuk mengumpulkan data-data, apakah mba Lola melibatkan KPK sebagai narasumber?
"Saya punya narasumber ke anggota DPR, anggota partai, polisi, orang KPK, ya cuma sekedar ngopi-ngopi, ngobrol-ngobrol tapi dengan sadar itu data buat saya. Memang sengaja nggak formal karena kalau formal pasti susah. Kita ngobrol juga ada orang lain dan di media juga sudah tersebar artinya ini bukan hal yang rahasia."
 
Tadi mba Lola sempat bilang alami kendala dana untuk film ini, memangnya butuh berapa banyak?
"Awalnya mungkin dengan 3 milliar cukup, tapi pas syuting ternyata kurang. Dana tambahannya lebih ke peralatan sih, kita kan syuting di Yogyakarta, Solo dan Jakarta jadi harus bawa perlengkapan kesana. Kenapa pilih disana karena di Jakarta lagi nuansa kampanye dan macet. Di Yogyakarta dan Solo kan nggak macet jadi lebih enak lah."
 
Katanya mba Lola bisa gila kalau film Negeri Tanpa Telinga tidak dibuat, beneran tuh?  
"Saya sudah sekitar 5 tahun nggak buat film, terakhir saya bikin film di tahun 2009, Minggu Pagi di Victoria Park. Sisanya saya jadi produser aja. Saya punya cerita yang ingin saya direct dan ini sudah lama banget. Kalau terlalu lama simpen di otak bahaya, karena akan terus diomongin. Tapi kalau sudah ada medianya kan enak jadi fresh lagi karena sudah dikeluarin."
 
Film ini kan berkesan 'berani' ya, apa nggak takut nantinya dianggap menyinggung pihak tertentu?
"Sebenarnya bukan takut nggak takut ya. Takut karena apa, saya kan bukan koruptor atau pembunuh. Saya hanya buat film dari realitas yang ada kenapa nggak boleh. Saya sih tidak pernah jelekan siapapun, lembaga apapun, departemen apapun, kami hanya buat film dengan cinta dan sepenuh hati. Jika ada yang tersindir jangan salahkan kami."
 
Ada 5 elemen di film ini yaitu politik, kekuasaan, seks, perempuan dan realita sosial, apa alasannya?
"Politik, kekuasaan, seks, korupsi itu beredekatan. Politik dekat dengan skandal dan juga lainnya. Semua itu kaya 3 in 1, 4 in 1, dan 5 in 1. Jadi intinya film ini berkutat sekitar itu."
 
Aktor yang terlibat di Negeri Tanpa Telinga adalah nama-nama besar, apa ini sengaja dilakukan?
"Iya, saya nggak mau ambil resiko syuting lama karena pemain baru. Selain mereka itu teman, mereka juga punya hati dan profesionalisme. Saat mereka membaca naskah dan setuju bergabung, saya yakin mereka punya penilaian lain selain uang. Ada hal-hal yang lebih value selain uang. Mereka itu terkenal, mahal-mahal, mereka peduli, itu yang harus saya jaga. Selain itu, mereka memang pas dengan karakternya masing-masing dan tak disangka semuanya main dengan sangat bagus."
 
Beberapa film Lola kan kesannya 'berani-berani', apa itu sengaja ya?
"Kalau mau pilih tema ini sih nggak juga. Semua film saya itu dijalani tanpa sadar dan nggak berarti harus yang berani. Kebetulan semua itu terjadi saat di tengah prosesnya jadi orang punya citra itu ke saya. Waktu buat film ini niatnya komedi lho, dan ternyata satir memang, temanya berat sih tapi dikemas jadi satir."
 
Film Negeri Tanpa Telinga karakter utamanya adalah seorang tukang pijit, alasannya kenapa mba?
"Tukang pijet itu kan dia berhubungan dengan banyak orang. Pasiennya dari orang biasa sampai yang luar biasa kaya pejabat dan sebagainya. Dan buat dia disana nggak ada kesenjangan karena tugasnya cuma mijet. Disana pula muncul cerita soal kerjaan, kesehatan dan lain-lain karena itu yang dilakukan oleh tukang pijet saya."
 
Ada rencana untuk membawa film Negeri Tanpa Telinga ke festival?
"Festival belum ada rencana sih, kita liat aja setelah rilis di bulan Agustus nanti. Kita kan niatnya buat film karena sudah lama, kalau ada yang bisa kita masukin festival ya boleh aja."
 
Harapan kamu terhadap film Negeri Tanpa Telinga?
"Saya sih nggak muluk-muluk, semoga aja film ini bisa membawa sesuatu setelah penonton keluar dari bioskop entah itu menjadi sebuah diskusi atau hanya komentar biasa. Apapun yang menjadi komentar mereka itu berharga buat kami sebagai pembuat film. Selain itu, untuk Presiden yang baru nanti semoga kasus korupsi dan sebagainya yang merugikan negara bisa lebih ditekan lagi dan tentunya film Negeri Tanpa Telinga bisa meraih penonton sebanyak-banyaknya."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON