Terinspirasi Lagu Raisa, Rako Prijanto Ingin Ciptakan Film Berkualitas

 

  Setelah sukses dengan film Tiga Nafas Likas (2014), Rako Prijanto bersama dengan Oreima Films kembali berkolaborasi dalam sebuah film yang terinspirasi dari lagu Raisa yang berjudul Terjebak Nostalgia. Menariknya, film ini akan melibatkan secara langsung sang penyanyi bernama lengkap Raisa Andriana ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 17 Maret 2015
Rako  ...
 
Setelah sukses dengan film Tiga Nafas Likas (2014), Rako Prijanto bersama dengan Oreima Films kembali berkolaborasi dalam sebuah film yang terinspirasi dari lagu Raisa yang berjudul Terjebak Nostalgia. Menariknya, film ini akan melibatkan secara langsung sang penyanyi bernama lengkap Raisa Andriana itu sebagai pemeran utama. Tak tanggung-tanggung, Raisa juga akan langsung beradu akting dengan aktor dan aktris kenamaan Indonesia peraih piala Citra 2014, yaitu Chicco Jerikho dan Dewi Irawan. 
 
Yang juga unik adalah sang sutradara, Rako Prijanto memang sengaja belum menentukan judul akhir dari film yang diproduseri oleh Reza Hidayat ini. Ia beralasan ingin memberikan ruang gerak bagi ide dan inspirasi untuk berkembang ketika proses syuting berlangsung. Proses syuting sendiri terbagi dua, yaitu di Jakarta yang merupakan bagian kecil dalam film, dan di New York. Di mana bagian besar dan terpenting dimulai.
 
Selain Raisa Andriana, Chicco Jerikho, dan Dewi Irawan, film yang dijadwalkan akan dirilis mulai tahun depan ini juga akan dimeriahkan oleh Maruli Tampubolon dan Khiva Iskak. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai proyek film ini, tim 21cineplex.com melakukan wawancara eksklusif dengan Rako Prijanto. Berikut adalah hasil wawancaranya. 

Kenapa film ini belum memiliki judul yang pasti? Apa pertimbangannya?
Sebenarnya kita memang kalau dari sisi saya sih, pengen hati-hati banget, gitu. Karena judul itu penting buat estalase film ini, gitu kan. Jadi, kita juga nggak mau buru-buru untuk memutuskan. Kita juga pengen punya judul yang mungkin bisa menyamai seperti Badai Pasti Berlalu atau Ada Apa Dengan Cinta, itu kan juga sebuah pemikiran yang panjang, gitu kan. Jadi, kita lihat saja nanti, tiba-tiba kok nanti ada something. Cuma memang kalau untuk premis, line untuk film ini sih kita udah tahu sebenarnya. 
 
Apa yang menjadi alasan memilih Raisa? Apa karena memang terinspirasi lagunya?
Memang untuk working title awal itu Terjebak Nostalgia. Kenapa? karena memang ketika saya melihat video klipnya Raisa yang begitu sederhana dan hitam putih itu saya langsung bisa nangkep kayaknya  kalau dibuat seperti ini asik, nih. Dan ketika bikin cerita ini, digodok bareng di Oreima bareng Reza dan kebetulan yang nulis juga saya, gitu kan. Nah, kita tuh ngerasa kayak, yang cocok emang Raisa. Kita coba ketemu sama dia, ngobrol, nggak kita screen test ya, dan emang dia sih. Sebenarnya juga nggak lewat proses casting sih, cuma pengen tahu aja, nih aslinya kayak apa sih? di video klip itu, gitu. Dan oke sih, menurut gue asik. 
 
Asiknya itu seperti apa sih? Bisa dijelaskan lebih detail?
Sebenarnya gini sih, ada unsur yang gua nggak bisa jelasin ya, tapi gua ngeliat ada Christine Hakim dulunya, gitu ya, gua ngeliat ada Dian Sastrowardoyo, gue ngeliat ada Yenny Rachman, di dia (Raisa), gitu. Gue juga ngeliat Lydia Kandou di dia, di zamannya yang memang kayaknya dia punya kualitas itu. Yang kemudian membuat gua untuk kayaknya sudah saatnya deh kita move on dari Badai Pasti Berlalu, Ada Apa Dengan Cinta, gitu kan. Kemaren gue liat Festival Film Indonesia kayaknya itu lagi itu lagi. Gue pengen bikin something yang mungkin, semoga bisa menggantikan itu, tapi saya nggak takabur sih.
 
Inti ceritanya sendiri apa? Apa yang ingin disampaikan lewat film ini?
Sebenarnya ceritanya nggak berat sih, justru sangat humanis. Cerita tentang seorang perempuan yang berusaha untuk mengisi perasaan hatinya, sampai dia harus mencarinya ke New York, gitu. Jadi, film ini juga sebenarnya sebuah pertanyaan juga, bahwa bahagia itu di mana sih? apakah bahagia itu di luar? atau bahagia itu bisa kita create sendiri?. Itu sebenarnya pesan yang ingin disampaikan. 
 
Mengapa memilih New York, bukan kota-kota lain?
Dan kenapa tiba-tiba pengennya ke New York memang dari sisi settingnya juga menurut gua pas banget moodnya, gitu. Gue dan Raisa juga setuju New York, karena secara bentuknya, artistiknya, New Yorkers yang begitu banyak, kehebohan kotanya, kayaknya akan seru banget. Dengan iklim dia yang berbeda-beda, gitu kan, dan gua juge pengen kayak melihat sebuah bentuk production design film Indonesia, dengan bahasa Indonesia, yang settingnya itu Hollwood, New York. Jadi, gua pengen liat itu sih, maksudnya kalau gua udah melakukan itu semoga secara kualitas masyarakat Indonesia sudah bisa lihat kalau ternyata film Indonesia itu bisa. 
 
Jadi, syuting di New York itu bukan sekedar tempelan atau colongan?
Nggak, kita bener-bener punya production assist di sana, kita juga dengan visa kerja, maksudnya syutingnya juga 40 hari, dengan kru union, jadi memang kita akan syuting proper di sana. 
 
Untuk karakter di film ini sendiri, bisa dijelaskan seperti apa saja?
Jadi sebenarnya karakter di sini itu, gua ngomong karakter utama kali ya, itu tuh sebenernya perjalanan seorang perempuan yang percaya banget dengan fairytale. Nah, ketika dia jalan untuk melakukan perjalanan fairytale itu, ternyata dia menemukan sebuah realita hidup bahwa realitas itu tidak seperti fairytale. Pertanyaannya kemudian adalah oke, Cinderella jadi sama Pangeran, and then kalau tiba-tiba besoknya Pangerannya pergi perang dan nggak pulang, apakah happy? happyly ever after?. Maksudnya, gue justru pengen ngelakuin itu di film ini. Jadi, bahwa hidup itu jalan terus, sangat humanis, perasaan kita itu tidak terus tiba-tiba dengan satu orang. Kita punya perasaan yang begitu luas, kita bisa taruh itu di sini, bisa taruh itu di sana, dan intinya itu bahwa hidup itu jalan terus dan harus bahagia, itu aja. 
 
Terakhir nih mas, bisa dijelaskan syuting di Kota Tua ini seperti apa dan ngapain aja?
Sebenarnya gini, kalau di sini itu Raisa pertama kali melihat karakter yang dimainkan Ruli (Maruli Tampubolon), ia adalah seorang musisi, jadi Raisa seperti mengidolakan dia. Raisa dateng, tapi, dia nggak sempet untuk ketemu. Nah, nanti kalau di Museum Mandiri itu gue set seperti kantor pos. Karena, justru film ini salah satu unsur menariknya adalah sangat-sangat melibatkan surat. Di era Whatsapp, email, tiba-tiba surat itu menjadi berarti banget di sini, karena ada bentuk fisik, ada bentuk yang bisa dicium, nyemprot parfum norak, gitu. Tapi, ada rasa tenggang waktu yang dia nunggu, itu romantisme yang ilang, gitu.
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON