Rudi Aryanto Tawarkan 4 Keunggulan di Surat Cinta Untuk Starla

 

  Versi layar lebar Surat Cinta Untuk Starla akhirnya tayang di Cinema XXI. Sang sutradara, Rudi Aryanto, menjanjikan sudut pandang yang berbeda dibanding web series-nya. Usai press screening dan konferensi pers di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jum'at (22/12) lalu, Rudi bercerita ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 29 Desember 2017
rudy aryanto ...
 
Versi layar lebar Surat Cinta Untuk Starla akhirnya tayang di Cinema XXI. Sang sutradara, Rudi Aryanto, menjanjikan sudut pandang yang berbeda dibanding web series-nya. Usai press screening dan konferensi pers di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jum'at (22/12) lalu, Rudi bercerita banyak soal apa saja yang dilakukannya agar apa yang ia inginkan tersebut bisa tercapai.
 
Salah satu hal yang dilakukannya adalah dengan melakukan riset mendalam soal latar belakang dua tokoh utama, Hema dan Starla. Menariknya, meski melakukan beberapa perubahan dan menyuguhkan sudut pandang yang berbeda, Rudi maupun pihak produksi tidak mengganti aktor yang melakoninya. Ya, mereka tetap mempertahankan duet Jefri Nichol dan Caitlin Halderman sebagai kekuatan utama.  
 
Mengapa Rudi dan Screenplay Films tetap mengandalkan Nichol dan Caitlin? Apa sesungguhnya yang berbeda dari layar lebar Surat Cinta Untuk Starla dengan versi web series-nya? Bagaimana ia menginterpretasikan lirik lagu menjadi film. Berikut petikan lengkap wawancara sang sutrdara dengan tim 21cineplex.com.  
 
Bisa Anda ceritakan bagaimana awalnya bisa bergabung di proyek Surat Cinta Untuk Starla?
"Ajaib juga tuh ya (ceritanya). Jadi aku ditawarkan film sama bapak produser tuh 17 kali. Ada film yang dibikin kemaren itu harusnya filmku, tapi aku belum mau. Terus yang ke-17 kali, anakku yang SMP cerita, 'Pah, ada web series lagunya Virgoun, lagunya bagus. Coba deh tonton'. Dua hari kemudian aku dipanggil kantor, tiba-tiba disodorin tangan salaman, 'kamu pegang ya Surat Cinta Untuk Starla'. Lho, ini kan yang aku tonton dua hari yang lalu bareng anakku. Dan aku suggest untuk bikin film ini. Jadi kayaknya udah takdirku untuk bikin film ini dan aku happy."   
 
Apa sih tujuan mendasar dibuatnya film Cinta Untuk Starla?
"Film ini memang kita dedikasikan buat pecinta film nasional, terutama yang sedang jatuh cinta karena cinta adalah universal dan hak semua orang untuk berbahagia bersama cinta. Ada empat poin keunggulan film ini yang aku dedikasikan buat penonton, yaitu yang pertama film ini harus punya jiwa. Bagaimana cara mendapatkannya? Kita riset, bahwa kisah percintaan sepasang remaja emang oke, tapi kalau bisa kita kemas dengan hal yang tidak biasa. Poin kedua adalah karakter. Di film ini kita menggarap karakter. Tiap orang, meskipun scene-nya sedikit atau banyak, tapi masing-masing punya keunikan dan kekuatan sendiri-sendiri. Poin ketiga adalah style. Style itu berkaitan dengan angle, packaging-nya, kostum, makeup, lokasi, semua itu kita prepare yang well dan keren banget supaya jadi hadiah terindah buat tahun baru ini. Terus yang terakhir yang paling penting adalah detail. Teras banget bahwa film ini kami menggarapnya detail, terutama terhadap pemain, ya. Misalnya kalau temen-temen lihat Starla memainkan pipinya, itu semua kita desain. Hema menarik nafas, membuang muka, itu semua kita desain, kita hitung. Tapi karena latihan yang berulang-ulang, jadi semacam penghayatan. Terus terhadap pemain ekspektasiku juga tinggi banget. Nichol, adegan berbalik itu 48 kali (take) ya, dan dia stres. Kalau Starla, adegan banting kaca di kamar itu (take) 5 jam, dia stres sendiri. Tapi pencapain itu proses karena aku  selalu bilang ama mereka, ketika main, jadikan ini tahapan untuk step berikutnya. Jadi bukan sekedar berhenti di film Cinta Untuk Starla. Terus aku juga ajarkan mereka tentang pemain harus punya kemampuan untuk menjustifikasi, meyakinkan, make believe. Apapun yang dilakukan dia (harus bisa) membuat penonton terpana, meleleh."
 
Bagaimana proses kreatifnya memvisualisasikan lagu menjadi layar lebar?
"Background-ku kan biasanya ngerjain iklan ya, jadi production knowledge-nya aku pelajari dulu. Ada sebuah skenario berdasarkan lagu. Aku kuliti dulu tuh skenarionya, aku bolak balik, aku lihat-lihat kira-kira keunggulannya di mana, kelemahannya di mana, apa yang aku harus tutupi, apa yang harus aku blow up, apa yang aku harus munculkan, abis itu nanti baru aku highlight, lalu hasilnya itu aku presentasikan ke produser. Mereka semacam ada diskusi, jadilah film ini." 
 
Apakah skenarionya itu sendiri mengikuti lirik lagunya?
"Nggak sih, jadi bener-bener kita mencoba menggali ulang potensi apa yang belum keluar di web series. Misalnya di web series keren banget, tapi kan ada hal-hal atau detail-detail yang belum terungkap. Nah, itu yang coba kita cari. Oh ternyata Hema harus punya background story, Starla juga, terus dibikin dramatisasinya bagaimana, supaya film ini juga punya keterikatan emosi yang saling mengisi dan efeknya baik ke penonton."
 
Treatment-nya seperti apa supaya tidak sama dengan web series-nya?
"Ya itu tadi. Setelah aku teliti dan kuliti skenarionya, 'oh oke, berarti kalau kita ambil bagian ini, dia sama dengan (bagian) ini, kira-kira ada sudut pandang mana yang berbeda'. Nah, sutradara gitu aja. Mencoba untuk mencari sebuah peristiwa dari sudut pandang yang berbeda. Meskipun peristiwanya mungkin sama aja, gitu." 
 
Karakter Hema dan Starla bisa saja divisualisasikan sebagai pasangan dewasa. Mengapa pada akhirnya memilih mereka menjadi anak remaja?
"Karena memang cinta yang paling genuine itu di remaja, itu satu. Terus kalau kita riset, penonton kita kan umur 12-22 tahun yang rajin nonton. Jadi memang ini didedikasikan buat mereka. Sudut pandang percintaannya itu dari mereka, jadi melihat bapernya itu harus dari sudut pandang mereka, jangan dari kita. Mungkin dari kita kan sometimes kita pikir ini kok lebay sih. Tapi kalau kita coba merenung, mimpi sebentar zaman waktu kita SMP, ngeliat persoalan cinta itu pasti meleleh."
 
Bagaimana Anda membangun latar belakang dua karakter utama tadi?
"Ada dua poin dalam pembuatan film, terutama karakter. Pertama karakterisasi. Kalau kita mau mengangkat sebuah karakter, kita harus bedah dulu background dia. Hema itu seorang pemberontak, dia cinta alam, dia peduli sama lingkungan sosial budaya segala macem. Biasanya remaja itu punya role model atau figur. Nah, figurnya itu salah satunya Pak Jokowi, tapi nggak ada maksud politik. Kalau kita teliti, sebenernya ada dua figurnya, Jokowi dan John Lennon. Jadi waktu dia ngetik itu ada John Lennon. Poin yang kedua, film itu harus menggambarkan di sini dan sekarang. Jadi, just in case misalnya satu hari nanti, 30 tahun kemudian film ini diputer, ada mural Pak Jokowi, orang akan bilang 'oh film ini Presidennya masih Jokowi nih'. Jadi ada signature-nya." 
 
Untuk pemilihan pemain, sejauh mana Anda terlibat? Mengapa tetap Jefri Nichol dan Caitlin Halderman sebagai pemeran utama?
"Jadi memang kita tidak akan mau merusak image atau imajinasi yang sudah dipegang oleh penonton yang ratusan juta itu, web series-nya. Apa yang terjadi kalau misalnya bikin Surat Cinta Untuk Starla kita ganti orangnya? Itu mereka marah-marah pasti. Karena film ini didedikasikan buat mereka, jadi kita suggest lagi. Mereka akan mendapat sesuatu yang keren. Film ini kita packaging (ulang) lagi, kita bungkus bikin kado yang indah, kita tambahin telurnya, kita tambahin micinnya dikit, kita tambahin garam, jadi betul-betul lebih sempurna, gitu. Aku sih berharap mereka apresiasi banget film ini."  
 
Di sini juga ada aktor-aktor kawakan seperti Dian Nitami dan Mathias Muchus. Apakah Anda ikut memilih juga?
"Justru kalau mereka aku yang pilih. Kalau Nichol dan Caitlin itu seperi yang saya bilang tadi, semacam nggak boleh diganggu-ganggu ya. Bahaya tuh, nanti penonton marah. Tapi kalau yang (karakter) kakeknya dan segala macem itu aku yang pilih."  
 
Kalau untuk karakter Barista, mengapa diberikan kepada Ricky Cuaca?
"Skenario memang kita bikin untuk Ricu, jadi tokoh Barista itu awalnya tidak ada. Aku tahu potensi Ricu. Kita pernah kerjasama bebeapa kali sebelumnya, potensinya luar biasa. Anak ini intuitif ya, dia punya insting yang luar biasa, kontrolnya saja yang harus dilatih supaya ketika keluar, adegannya itu bener-bener prima."
 
Di lokasi kan banyak gravity-garavity, itu dibikin sendiri atau memilih tempat yang sudah ada?
"Kita bikin sendiri. Misalnya masalah karakter Hema, itu kan kita riset juga. Selain dia penggemar Pak Jokowi dan John Lennon, cara dia mural pun ada referensinya. Saya cari tuh, ada Bansky dari Bristol, Inggris. Itu kita detail. Aku sangat detail sama penggarapan sebuah karakter. Aku nggak mau dia cuma sekedar mural, tapi style muralnya apa, aliran muralnya apa, nggak asal."  
 
Total waktu pembuatan film ini butuh berapa lama?
"Kalau A to Z nya, dari skenario sampai selesai itu 5 bulan. Tapi kalau syutingnya sendiri sekitar 20 hari ya di Jakarta, Bandung dan Purwakarta."  
 
Secara umum, apa sih kesulitannya membuat film ini bagi Anda?
"Ini pertanyaan yang sulit juga untuk dijawab ya, hehehe. Aku tuh selalu merasa menyerahkan semuanya. Jadi kalau mengalami hal yang sulit aku merem, ambil nafas, bismillah gitu, aku bikin aja udah, gitu lho. Jadi memang part-part sulitnya menurutku semua film ada ya, tapi kan karena kami profesional, udah tiap hari syuting memecahkan persoalan, mau nggak mau kesulitan itu harus aku tutupin. Misalnya yang paling berat adalah chemistry. Jadi bagaimana menciptakan aksi reaksi secara natural, secara real, emosinya inner antara dua pemain, bagaimana ia bertatap, saling memegang, itu yang agak susah. Karena itu nggak pakai statement, maksudnya nggak pakai dialog "aku cinta sama kamu", "aku suka sama kamu", tapi lewat tatapan mata, helaan nafas." 
 
Akhir tahun 2017 banyak film box office yang muncul. Apakah Anda yakin film ini bisa bersaing?
"Gini, ketika bikin film ini kan kita juga riset ya, dan ketika kita menemukan satu tema yang mirip atau bahkan sama, mau nggak mau kekuatannya adalah di kontennya. Itu yang bener-bener kami garap karena yang paling penting juga bukan konten melulu ya, tapi bagaimana emotional impact-nya setelah menonton film itu. Itu menurutku yang paling penting, jadi kita juga nggak terjebak sama angle yang harus gimana, aktingnya harus gimana, tapi bagaimana emosinya berdampak ke penonton."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON