Guntur Soeharjanto: Kombinasi Ijen dan Korea untuk Adaptasi Jilbab Traveler

 

  Menyutradarai film tentang perjalanan tentu bukanlah perkara mudah, apalagi jika proses syutingnya dilakukan di luar negeri yang membutuhkan waktu dan proses produksi lebih lama. Guntur Soeharjanto, mengalami hal itu di layar lebar terbarunya, Jilbab Traveler Love Sparks In Korea.   Film tersebut ...

Posted By: Alit Bagus Ariyadi, 13 Mei 2016
Guntur Soeharjanto
 
Menyutradarai film tentang perjalanan tentu bukanlah perkara mudah, apalagi jika proses syutingnya dilakukan di luar negeri yang membutuhkan waktu dan proses produksi lebih lama. Guntur Soeharjanto, mengalami hal itu di layar lebar terbarunya, Jilbab Traveler Love Sparks In Korea.
 
Film tersebut merupakan adaptasi novel karya Asma Nadia, yang mengisahkan tentang perjalanannya ke 60 negara dan 316 kota. Tapi ini bukan kali pertama Guntur membuat layar lebar adaptasi novel dari penulis berusia 44 tahun itu. Sebelumnya ia telah menyutradarai Assalamualaikum Beijing (2014), yang membuat salah satunya pemainnya, Laudya Chyntia  Bella, memutuskan mengenakan hijab dalam kehidupan sehari-harinya.
 
Sama halnya dengan film yang bertemakan perjalanan, pria yang mengawali karir sebagai asisten sutradara untuk layar lebar Biarkan Bintang Menari (2003) ini juga sudah punya pengalaman lewat 99 Cahaya di Langit Eropa (2013), yang syuting di 4 negara yaitu Vienna (Austria), Paris (Perancis), Cordoba (Spanyol) dan Istanbul (Turki).
 
Apa tantangan yang ia hadapi di film yang dijadwalkan rilis pada libur Lebaran 2016 ini? Dari buku yang mengisahkan perjalanan ke 60 negara, apakah akan diulas semua dalam Jilbab Traveler Love Sparks In Korea? Berikut petikan wawancara dengan Guntur Soeharjanto: 
 
Saat mendapat tawaran film ini apakah Anda sudah membaca novel Jilbab Traveler?
"Awalnya saat ditawari untuk menggarap film ini saya cuma komentar 'Wah dari novel Asma Nadia lagi'. Sebelumnya kan saya sudah pernah menyutradarai Assalamualaikum Beijing (2014), tapi menariknya di buku ini ada kisah personal si penulis dari kecil sampai dewasa dan perkembangan karakter di dalamnya. Selain itu kisahnya ke 60 negara dan 300 kota, bisa nggak kelar-kelar nih film. Akhirnya kami diskusi untuk ambil tempat yang menarik, akhirnya terpilihlah Korea. Negara lainnya hanya ditampilkan cuplikan saja."
 
Apa alasannya memilih Korea?
"Menurut mba Asma di sana ia punya pengalaman yang berkesan. Kita juga syuting di Indonesia, tepatnya di Gunung Ijen, Jawa Timur. Pertimbangan lokasi tentu karena pendalaman cerita, karakter juga kita bangun di sana. Semoga akan ada sekuel-sekuel berikutnya karena masih ada tempat-tempat yang lain."
 
Di Indonesia kenapa hanya ke Ijen?
"Tadinya mau ke Nepal juga tapi nggak jadi karena ada gempa. Ijen itu eksotis banget dan saya memang pengen buat film di sana. Tantangan pekerjaan sih yang harus naik turun gunung selama berjam-jam, tapi hasilnya sepadan kok. Di sana ada blue fire dan cuma satu-satunya di Indonesia."
 
Saat syuting di Korea Selatan apakah membawa tim kecil dari Indonesia atau menggunakan tenaga kerja di sana?
"Rumah produksi Rapi Film kerjasama dengan pemerintah Gangwon, Korea Selatan, mereka mendukung dan kasih izin kita untuk syuting di lokasi yang diinginkan. Syuting 2 minggu di wilayah perbatasan antara Korea Selatan dengan Korea Utara itu dengan membawa 22 orang dari kita dan dibantu oleh 6 orang di sana untuk production asisten, art director sampai location manager."
 
Apakah film ini kisahnya sama dengan versi bukunya?
"Buku dan film pastinya media yang beda tapi kita tetap jaga spiritnya. Tentu ada bagian yang dimodifikasi tapi nggak banyak."
 
Saat lihat trailernya ada adegan di wilayah bersalju, apakah itu sengaja?
"Gangwon itu dingin sekali, kita dapat salju pertama itu di sana dan memang kami rencakan syuting pas winter sih di bulan Desember. Momennya pas Natal dan semua orang tumpah ruah di jalan kala itu jadi agak kesulitan juga buat produksi."
 
Untuk pilihan pemain kenapa akhirnya memilih Bunga Citra Lestari (BCL)?
"Paling susah cari pemain. Tadinya mau pakai aktris yang pakai hijab, tapi akhirnya kenapa nggak kasih kesempatan juga, siapa tahu kaya Laudya Chyntia Bella yang lanjut berhijab usai Assalamualaikum Beijing. Semoga film ini bisa kasih pengalaman spiritual buat BCL. Ia jago aktingnya dan bisa merankan karakter Rania dengan sangat baik. Memang di sini kita butuh aktris dengan kualitas seni peran tinggi agar bisa serap lakonnya secara lebih detail. Saat ditawari ia memang ingin coba dan mau punya pengalaman dari Jilbab Traveler Love Sparks In Korea.
 
Negara mana yang ingin Anda jadikan latar belakang jika ada sekuel dari Jilbab Traveler Love Sparks In Korea?
"Rusia. Alasannya banyak yang menarik di sana seperti alamnya, banyak cerita dari literasi, dan ada masjid besar juga yaitu Masjid Agung Moskow. Semoga mba Asma punya cerita menarik di sana."
 
Apakah ada perlakuan khusus untuk para pemain dan kru saat melakukan proses syuting di luar negeri?
"Ada. Kalau saya selalu menekankan ini syuting bukan jalan-jalan. Kalau nggak digituin hari pertama bisa hilang nggak ngerti kemana. Makanya saya bebasin sekitar 2 hari, sisanya nggak bisa lagi selain untuk produksi."
 
Untuk Anda sendiri apa ada persiapan khusus kalau syuting film di luar negeri?
"Sejak 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) saya sudah banyak belajar ha ha ha. Jadi ya kaya syuting ke Bandung, Surabaya dan lainnya, dah biasa. Saya memang nggak bisa makan makanan western sih. Makanya saya selalu cari asia market kalau sudah di luar negeri untuk cari bahan memasak. Saya juga nggak mau tinggal di hotel dan pilih apartemen agar bisa masak. Di sisi lain cari makanan halal susah, saya juga nggak bisa ninggalin nasi. Film kan kerja kolaborasi, ada kasus makanan nggak cocok bisa bikin drop. Saya selalu minta untuk urusan makanan harus punya pelayanan baik, karena gara-gara makanan semua bisa berantakan."
 
Film ini rencananya rilis di liburan Lebaran 2016, apa keunggulan Jilbab Traveler Love Sparks In Korea ketimbang layar lebar lain yang juga tayang di momen itu ?
"Mungkin ini satu-satunya film religi dan yakin ada pangsa pasarnya. Layar lebar ini juga bisa menggambarkan pengalaman personal dari para penonton."
 
Akankah film ini akan dipecah jadi dua seperti 99 Cahaya di Langit Eropa?
"Nggak kok, itu kepentingan bisnis aja sih. Tapi memang ini film pertama saya yang first cutnya sudah enak di lihat, biasanya pas cut 5 baru bisa nyaman disimak. Itu masih berdurasi dua setengah jam jadi harus buang banyak. semoga sampe lock masih bagus hasilnya."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON