The Mo Brothers Lebih Ramah di Headshot

 

  Pasca memproduksi film bergenre horor thriller, The Mo Brothers ( Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel) kini mulai mencoba sesuatu yang baru lewat genre action. Bekerjasama dengan Screenplay Infinite Films, Timo dan Kimo akhirnya membuat layar lebar berjudul Headshot yang melibatkan ...

Posted By: Alit Bagus Ariyadi, 24 November 2016
the mo ...
 
Pasca memproduksi film bergenre horor thriller, The Mo Brothers ( Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel) kini mulai mencoba sesuatu yang baru lewat genre action. Bekerjasama dengan Screenplay Infinite Films, Timo dan Kimo akhirnya membuat layar lebar berjudul Headshot yang melibatkan Iko Uwais sebagai pemeran utamanya.
 
Tak ingin serupa dengan film yang dibintangi Iko sebelumnya, The Mo Brothers ingin menambahkan sesuatu yang berbeda di Headshot. Tidak hanya menawarkan adegan action yang mumpuni, drama yang disajikan pun harus memiliki peran penting di dalamnya. Oleh sebab itulah mereka melibatkan Chelsea Islan di proyek ini.
 
Tim 21Cineplex.com mendapat kesempatan berbincang-bincang dengan duo sutradara yang sukses menggarap Rumah Dara (2010) dan Killes (2013) ini perihal proses produksi Headshot dan mendapat kesempatan pemutaran perdana di Toronto International Film Festival (TIFF) 2016 pada 9 September 2016.
 
Awalnya bagaimana bisa akhirnya tercetus ide untuk membuat Headshot?
"Sebenarnya tahun 2015 itu niatnya kita nggak mau buat film. Tapi karena dapat tawaran dari Screenplay Infinite Films ya akhirnya jadilah Headshot. Waktu saya produksi Killers (2014), menurut saya itu berat buat penonton Indonesia, jadi saya ingin coba sesuatu yang baru lewat film ini."
 
Ingin coba yang baru di Headshot itu maksudnya seperti apa?
"Ya kami ingin buat cerita yang sederhana. Dan itu bisa bergerak dengan baik jika pemainnya juga bagus. Kolaborasi Chelsea dan Iko sangat kuat, emosi Iko yang dikenal lewat action ini ternyata juga bisa bikin meleleh lho. Kami bersyukur bisa bergabung di sini yang merupakan film ketiga kita dan action perdana, lalu Chelsea pula, jadi seger deh. "
 
Apa benar proses pembuatan kisah film ini ekstra cepat?
"Cerita selesai dalam waktu sekitar dua setengah minggu. Mungkin ini kisah film tercepat yang pernah saya hasilkan. Itu nggak cuma di saya, tapi Iko juga kebut koreo Headshot dalam waktu 3 minggu."
 
Film ini kan digarap oleh kalian berdua, lalu siapa yang egonya lebih besar di Headshot?
"Kita ini selalu berdua dan dari dulu bareng terus. Tentu kita selalu diskusi jadi nggak akan ada ego-egoan gitu."
 
Di film sebelumnya kalian menampilkan beberapa adegan yang berkesan sadis, apakah hal serupa terjadi di Headshot?
"Headshot adalah film The Mo Brothers pertama yang audience friendly dibandingkan Killers dan Rumah Dara (2010). Tetap ada sisi kekerasannya karena ini film action serta klasifikasinya jelas ini untuk dewasa. Soal sensor pasti ada, nggak cuma di Indonesia di luar negeri juga, tapi kita bikin aja dulu ikuti alur. Karena ada klasifikasi jadi lebih enak."
 
Bisa ikutan di Toronto International Film Festival (TIFF) 2016 itu bagaimana ceritanya?
"Pas bikin film ini nggak mikirin masuk TIFF apa nggak. Tapi pas didaftarin berhasil. Di sana sih bukan untuk bersaing atau bagaimana, tapi lebih menikmati bertemu dengan sesama pembuat dan pecinta film aja."
 
Apa pertimbangannya melibatkan Iko, Chelsea, dan Julie Estelle?
"Kita memang ingin banget kerja bareng Iko karena ia berbakat banget orangnya, aset budaya dia. Kalau Chelsea karena film ini ada dramanya dan dari segi akting dia bagus banget. Untuk Julie, dia sudah pernah kerjasama dengan Iko sebelumnya, beruntung kita dapat Julie, karena dia layaknya peluru yang sudah siap tembak."
 
Dengan torehan positif di luar negeri, apa harapan kalian terhadap Headshot?
"Semoga respon positif ini juga bersinergi saat rilis filmnya di Indonesia nanti. Kalau ukurannya jumlah penonton ya kita berharap bisa dapat sebanyak-banyaknya."
 
 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON