Aryanto Yuniawan Ingin Battle Of Surabaya Jadi Pelopor Film Animasi Berkualitas

 

  Dunia perfilman Indonesia bakal kedatangan film animasi terbaru asli karya anak bangsa yang berjudul Battle of Surabaya. Di bawah naungan MSV Pictures, film yang disutradarai oleh Aryanto Yuniawan ini membawa misi untuk menjadi pelopor dan lokomotif film animasi di Indonesia ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 21 April 2015
Aryanto Yuniawan
 
Dunia perfilman Indonesia bakal kedatangan film animasi terbaru asli karya anak bangsa yang berjudul Battle of Surabaya. Di bawah naungan MSV Pictures, film yang disutradarai oleh Aryanto Yuniawan ini membawa misi untuk menjadi pelopor dan lokomotif film animasi di Indonesia yang berkualitas dan berstandar internasional. 
 
Bahkan, menurut pengakuan Aryanto, film yang diproduseri oleh M. Suyanto ini juga mendapatkan dukungan dari perusahaan film animasi raksasa dunia, yaitu Disney. Aryanto mengungkapkan bahwa pihak Disney sangat tertarik dengan proyek Battle of Surabaya. Disney pun telah memberikan tiga opsi untuk MSV Pictures terkait hal tersebut.
 
Pertama, Disney membeli proyek tersebut. Kedua, Disney membantu dalam mendistribusikan film Battle of Surabaya di jaringannya. Atau ketiga, Battle of Surabaya dapat tayang di Disney Channel layaknya Ipin dan Upin. Namun begitu, pihak MSV Pictures belum memastikan opsi mana yang nantinya mereka pilih. Pasalnya, jika semua proses produksi telah rampung, mereka juga berencana untuk meminta saran dan berdiskusi kembali dengan pihak Disney. 
 
Yang juga menarik, film Battle of Surabaya ini menggandeng pula dua aktor muda kenamaan Indonesia, yaitu Reza Rahadian dan Maudy Ayunda yang terpilih oleh Netizen di media Sosial untuk memerankan tokoh Danu dan Yumna yang ada di film. Mereka di antaranya berhasil menyingkirkan nominator lain seperti Vino G. Bastian dan salah satu personel JKT 48. 
 
Untuk mengetahui lebih dalam mengenai proyek film Battle of Surabaya ini, tim 21cineplex.com melakukan wawancara eksklusif dengan sang sutradara, Aryanto Yuniawan. Berikut adalah hasil wawancaranya.  
 
Mengapa memilih judul Battle of Surabaya?
"Battle of Surabaya mengadaptasi dari peristiwa 10 November di Surabaya. Mengapa kok kita memilih itu, karena memang pertimbangannya adalah sebuah peristiwa yang sangat terkenal di Indonesia. Semua orang tahu bahwa setiap tanggal 10 November pasti diperingati sebagai hari pahlawan. Salah satunya kita ingin mengangkat semangat heroisme, semangat patriotisme, kepahlawanan di Indonesia. Selain itu, perang Surabaya adalah perang yang luar biasa. Setelah peran dunia ke-II, inilah perang dengan korban terbesar sepanjang sejarah dari kedua belah pihak yang berperang. Bahkan kemudian Belanda mengubah strateginya yang tadinya hanya perang fisik menjadi perang diplomatis."  
 
Apa alasan memilih Maudy Ayunda dan Reza Rahadian sebagai pengisi suara?
"Kemudian kita mengapa memilih Maudy Ayunda dan kemudian juga Reza Rahadian, karena dalam sistem yang kita bangun dalam penceritaan Battle of Surabaya itu menggunakan pendekataan co-creation. Jadi, pendekatan marketing 3.0, yaitu melibatkan audiens atau pemirsa atau calon pelanggan untuk ikut berperan serta di dalam partisipasi pembuatan film. Artinya begini, kita membuat sebuah kayak semacam polling, kemudian kita tawarkan kepada audiens siapa yang cocok untuk mengisi suara dubber Yumna?. Dari hasil polling ternyata pemenangnya Maudy Ayunda. Maka dari itu akhirnya kita memilih Maudy Ayunda. Kemudian seperti tokoh Danu, kita juga membuat polling siapa di antara artis-artis Indonesia yang paling cocok memerankan tokoh Danu?.  Akhirnya, dari hasil polling pemenangnya adalah Reza Rahadian. Makanya kita juga akhirnya memilih Reza dan alhamdulillah dianya juga mau. Pas kebetulan Reza adalah best actor untuk citra award sampai tiga kali, dan itu merupakan sebuah penghormatan bagi kita." 
 
Untuk karakter-karakternya sendiri, apakah memang sudah cocok dengan Maudy dan Reza?
"Untuk karakternya kita memang pendekatannya adalah menggunakan pendekatan market. Jadi, dalam artian kita menggunakan tiga karakter utama, dalam hal ini adalah Musa, Danu, dan Yumna yang mewakili target pasar. Musa berusia 13 tahun, si Yumna berusia 14-15 tahun, dan Danu berusia sekitar 19-20 tahun. Dan karakter yang dimaksud di sini adalah karakter dari suara, kemudian dari penokohan, Maudy dan Reza sangat cocok untuk memerankan tokoh-tokoh yang saya maksud tadi, yaitu tokoh Yumna dan Danu. Mereka mewakili genre masing-masing." 
 
Apa kesulitan menyutradarai film animasi itu sendiri?
"Memang di dalam menyutradarai film animasi ada kesulitan tersendiri, yaitu memang kita harus melakukan imajinasi yang lebih, kemudian dari sisi sumber daya manusia kita masih harus melakukan uji kompetensi bagi mereka. Terus terang sumber daya manusia yang ada di Indonesia ini memang banyak. Tetapi, untuk menuju ke kompetensi industri yang kita harapkan, itu cukup merepotkan. Sehingga kita sebagai contoh, ketika kita recruiting 400 orang untuk mendaftar, hanya sekitar 10 sampai 15 orang saja yang bisa memenuhi kompetensi. Itu di satu sisi SDM. Kemudian di sisi lain, menyutradarai film animasi ini memang membutuhkan energi lebih, karena infrastruktur, peralatan, dan sebagainya itu membutuhkan biaya yang mungkin tidak sedikit. Sehingga itu menjadi kendala tersendiri bagi kita." 
 
Apa perbedaan mendasar menyutradarai film animasi dengan film biasa?
"Jadi, sebenarnya hampir sama ya, antara sutradara live ataupun animasi. Cuma, di sini gaya penyutradaraan itulah yang mungkin akan berbeda-beda. Kalo saya mengambilnya adalah kayak sutradara seperti kita mengelola perusahaan. Jadi, ada director utama, kemudian di situ ada voice director, ada technical director, ada animation director. Nah, di situ kita berkolaborasi, dalam hal ini adalah director itu punya tim. Tim itu yang akan bekerja sesuai dengan kapasitasnya di bidangnya masing-masing. Semua kemampuan-kemampuan para director itu diarahkan sesuai dengan bidangnya. Sehingga tim yang bekerja ini membangun sebuah package yang akan membangun keseluruhan dari sistem film ini. Sehingga menjadi sesuatu yang diharapkan. Tetapi, tetap keputusan akhirnya akan kembali kepada saya." 
 
Berapa biaya produksi film Battle of Surabaya?
"Perkiraan, ya sekitar 15 M (selama 3 tahun)." 
 
Apa target pasar dari Battle of Surabaya?
"Target pasar secara awal kita memang targetnya adalah untuk pasar Indonesia. Tetapi kemudian kita dapat masukkan, salah satunya juga dari Disney Asia. Disney Asia pernah datang ke studio kita, dia mengatakan begini, potensi film ini sebenarnya lebih ketika kamu bisa meningkatkan kualitasnya menjadi kelas internasional atau kelas dunia. Artinya, target market Indonesia jika dibandingkan dengan target pasar luar memang jauh. Tapi memang ada tantangan yang begitu berat ketika kita mau masuk ke dalam target yang dimaksud oleh Disney tadi. Tapi kita terus berusaha. Awalnya kita akan coba memenuhi target market Indonesia dulu, karena ini adalah salah satu bentuk film yang mungkin akan sangat berbeda genrenya dengan film-film yang sudah pernah ada dan sudah pernah tayang di bioskop. Harapannya, euforia atau hausnya masyarakat Indonesia akan tontonan film-film yang berkualitas dengan sajian genre tertentu secara khusus, itu bisa dipenuhi dari film ini." 
 
Untuk segmentasi film ini untuk anak-anak saja atau bagaimana?
"Sebenarnya ini tidak untuk anak-anak. Tapi, anak-anak yang sudah mendapat pendidikan Wiracarita. Jadi, saya tidak menganjurkan anak-anak yang baru kelas 1-2 SD. Sebaiknya parent guide, didampingi orang tua. Tapi kalau anak-anak di kelas 3 yang sudah mendapat pendidikan sejarah bangsa, silakan. Karena ini aman, tidak ada darah, tidak ada kissing atau ciuman. Jadi, kekerasannya lebih kepada kekerasan semangat patriotisme. Film perang tetap harus ada tembak-tembakan, tapi bagi mereka yang sudah mendapatkan pendidikan Wiracarita, Insya Allah aman." 
 
Kalau taget penonton berapa?
"Target penonton kalau kita ingin balik modal sebenarnya harus di atas 1 juta. Tapi tidak apa-apa, kita begini saja, kita mengembalikan itu ke pasar. Kita tetap optimis, karena kita juga sudah melakukan berbagai hal. Dalam hal ini tidak hanya sekedar menyerahkan semuanya pada nasib, tapi kita dari awal sudah membentuk film ini menjadi paket-paket bisnis yang terintegrasi. Mulai dari program pemasaran, kemudian program transmedia, sampai pembentukan merchandising, dan sebagainya. Itu yang sudah kita usahakan. Tetapi, kita tahu bahwa di Indonesia pemasaran film atau banyaknya penonton di Indonesia itu adalah unik. Jadi, kita serahkan semuanya kepada pemirsa." 
 
Hal apa yang buat Bapak optimis film ini akan sukses?
"Salah satunya adalah karena film ini punya genre yang berbeda dari film-film yang sudah pernah beredar di Indonesia. Kemudian juga kita di dalam produksi, melakukan pengawasan yang sangat ketat. Artinya apa? artinya kita betul-betul menjaga produk ini menjadi produk yang berkualitas.  Biasanya produk akan berbicara sendiri. Jadi, prinsip saya adalah ketika produk produk ini bagus, pasti akan menghasilkan marketing yang bagus. Dalam hal ini, film Battle of Surabaya merupakan genre baru, yaitu film animasi layar lebar yang belum pernah ada di Indonesia yang saya harapkan akan menjadi sebuah semacam lokomotif bagi industri khususnya industri kreatif di bidang perfilman Indonesia." 
 
Kapan rencananya film ini akan ditayangkan?
"Rencananya yang pasti di bulan Agustus, tetapi untuk tanggalnya kita masih menunggu keputusan dari pihak bioskop. Karena memang antrian yang begitu banyak di bulan Agustus, sehingga kita perlu menunggu dari mereka kapan pastinya film ini akan tayang di bulan Agustus nanti." 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON