Atiqah Hasiholan : Kagum dengan Akting Anak-anak Suku Bajo

 

Wakatobi merupakan wilayah yang panorama keindahan alamnya menjanjikan. Terlebih dengan keeksotisan bawah lautnya beserta keunikan suku Bajo, suku yang biasa hidup di laut. Hal tersebutlah yang menjadi daya tarik Atiqah Hasiholan untuk membintangi film The Mirror Never Lies yang akan menguak keindahan alam ...

11 Maret 2011
Posted By: Erfanintya M. P.
Wakatobi merupakan wilayah yang panorama keindahan alamnya menjanjikan. Terlebih dengan keeksotisan bawah lautnya beserta keunikan suku Bajo, suku yang biasa hidup di laut. Hal tersebutlah yang menjadi daya tarik Atiqah Hasiholan untuk membintangi film The Mirror Never Lies yang akan menguak keindahan alam Wakatobi berserta kebudayaan dari suku Bajo. 
 
Tentunya selain nama Wakatobinya itu sendiri, jalan cerita, para pemain, dan sutradara turut menjadi keputusan aktris putri dari aktivis dan seniman, Ratna Sarumpaet untuk mengambil peran dalam film garapan Kamila Andini ini.
 
Beberapa waktu lalu 21cineplex.com berkesempatan untuk menyambangi langsung ke lokasi syuting film The Mirror Never Lies yang berlangsung di Wakatobi, tepatnya di pulau Wangi-wangi. Atiqah pun langsung menceritakan proses syuting yang memakan waktu sebulan bersama lawan mainnya Reza Rahadian dan anak-anak asli suku Bajo itu. 
 
Lokasi syuting di sini tidak umum dengan lokasi film yang biasanya Anda bintangi, bahkan bisa dibilang berat, bagaimana menurut Anda?
“Ya, ini film pertamaku yang paling berat, karena berurusan dengan laut, cuaca, panas, hujan. Medannya tidak familiar. Kalo syuting di gunung udah pernah. Nah ini Syutingnya di tengah-tengah laut, kampungnya pun di tengah laut.  Jadi tantangan buat aku.”
 
Tapi menyenangkan kah?
“Pastinya menyenangkan banget. Di sini kita kerja serius tapi lingkungannya asik, indah, fun, dan unik. Orang-orang sini lucu-lucu, menyenangkan, dan sangat friendly. Jadi di sini aku kerja, tapi banyak hal baru yang bisa aku pelajarin dan nikmatin.”
 
Di Mirror Never Lies ini Anda berperan sebagai siapa?
“Aku di sini sebagai ibu dari anak bernama Pakis. Aku adalah perempuan suku Bajo yang ditinggal suaminya tanpa kabar. Putrinya mengalami gangguan karena ditinggal bapaknya, jadi aku berusaha menjadi seorang yang tegar diantara harapan bertemu dengan suaminya.”
 
Jadi selama syuting disana bagaimana Anda melihat suku Bajo?
“Kebebasan dan independensi mereka. Kebebasan maksudnya kita melihat suku Bajo memilih untuk tidak hidup di darat dan tidak memilih dengan kehidupan yang pada umumnya. Menurutku itu independensi mereka dan juga cara mereka untuk bisa terus melaut. Lalu dari cara mereka bersosialisasi, cara ngomong, cara mereka hidup bertetangga, mapun dengan kampung lain, mereka gampang.”
 
Apakah tantangannya?
“Untuk syuting di lautnya sendiri sih nggak susah karena dari kecil aku udah biasa dengan laut. I enjoyed it, justru yang bikin aku tertarik untuk ikut film ini karena Wakatobi ada di laut, kalo ada di gunung mungkin aku mikir dua tiga kali.”
 
Dengan lokasi di laut, apakah ada masalah dengan makanan?
“Hambatan masalah makanan wajarlah, namanya juga di tengah laut masa nyari kambing? (tertawa). Emang sih pada kenyataannya itu sulit bahkan pernah ada satu titik ya udahlah makan nasi pake telor sama kecap aja deh, hehehe.”
 
Kendala apa lagi yang Anda temui?
“Kendala lain paling cuaca yang unpredictable. Seharusnya kita bisa dapat beberapa scene jadinya tertunda, tapi kita terima aja, ini kan pemberian Tuhan.”
 
Jika Reza belajar bahasa lumba-lumba, Anda belajar bahasa Bajo, apakah itu sulit?
“Sulit banget. Saat di Jakarta aku coba belajar tapi nggak ada orang yang tahu dialek Bajo itu yang sebenarnya seperti apa, nggak ada yang tahu dan bisa ngajarin. Jadi aku belajar langsung di sini dari awal. Dialeknya sendiri cukup sulit, karena nggak familiar seperti bahasa Jawa, Padang, Batak, atau Ambon, jadi aku hanya pelajarin bahasa-bahasa yang ada di dialogku aja. Di sini aku belajar dengan sering-sering ngobrol sama orang sini, dan kebetulan astradanya juga orang sini.”
 
Berperan sebagai seorang ibu tentunya akan beradu akting dengan seorang anak, bagaimana dengan akting dengan orang suku asli Bajo sini?
“Si Pakis adalah anak yang cerdas, aku kagum aktingnya natural banget, dari reading sampai sekarang aku takjub dengannya, begitu juga dengan anak-anak yang lain. Anak-anak di sini sangat gampang untuk dekat dengan mereka, mereka sangat cuek.”
 
Apakah pernah menemukan titik jenuh? Bagaimana Anda menghilangkannya?
“Paling sering aku diving atau tidur. Kadang aku jalan-jalan naik motor di Tomia atau main sampan keliling-keliling, seru banget.”
 
Lalu bagaimana dengan disutradarai seorang perempuan, muda, dan baru kali pertama menggarap layar lebar, apakah ada hal yang berbeda dengan sutradara-sutradara yang lain?
“Nggak ada. Nggak pengaruh dengan muda, tua, pengalaman atau belum. Yang saya butuhkan adalah sutradara yang bisa komunikasi dengan pemain. Dini bisa memberikan itu ke aku. Karena ada beberapa sutradara yang lebih tua tapi nggak ngomong apa-apa, jadi nggak bisa mengkomunikasikan ke aku. Kalau ngeliat Dini sebagai perempuan muda yang sampai saat ini bisa menyelesaikan medan yang sulit, cerita yang tidak mudah, dan anak-anak kecil yang susah diatur mood-nya, aku sangat kagum.” (eM_Yu)
 

 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON

 
Process time: 0.013464 secs