MORE
Joko Anwar: Kejujuran Jadi Pedoman dalam Membuat Film
Mira Lesmana: Melihat ke Belakang Itu Perlu
Kuntz Agus: Belajar Kompromi di #republiktwitter
Wulan Guritno: Dunia Film Memberikan Banyak Ilmu
Love is U: Mengawali Trend Girlsband Main Film
Laura Basuki: Terima Peran Apapun, Yang Penting Adalah Ceritanya
Ifa Isfansyah : Sang Penari Pekerjaan Cinta
Ody C. Harahap : Angkat Bunuh Diri Menjadi Tema Filmnya
21Cineplex: Press Release 10 Agustus 2011
Hany Saputra: Tampilkan Ka`bah Ukuran Asli Dalam Film Di Bawah Lindungan Ka
Angga Dwimas Sasongko : Hasil Dengan Kru Debutan Yang Memuaskan
Siapa bilang dengan umur yang masih muda tidak bisa menghasilkan karya yang baik? Angga Dwimas Sosongko mampu membuktikannya. Pria kelahiran 11 Januari 1985 ini baru saja merilis film terbarunya, Hari Untuk Amanda, sebuah film yang menceritakan perjalanan satu hari Amanda ...
08 Januari 2010
Posted By: Erfanintya M. P.
Siapa bilang dengan umur yang masih muda tidak bisa menghasilkan karya yang baik? Angga Dwimas Sosongko mampu membuktikannya. Pria kelahiran 11 Januari 1985 ini baru saja merilis film terbarunya, Hari Untuk Amanda, sebuah film yang menceritakan perjalanan satu hari Amanda bersama mantan pacarnya untuk mengantarkan undangan pernikahannya.
Sutradara yang sebelumnya menggarap Foto Kotak dan Jendela (2006), Jelangkung 3 (2007), dan Musik Hati (2008) ini berhasil membuatnya dengan sangat simple namun sarat pesan dan sangat dekat dengan kehidupan nyata.
Nah, untuk lebih tahu proses produksi film yang ditulis oleh Gina S. Noer (Perempuan Berkalung Sorban, Queen Bee) bersama suaminya Salman Aristo(Catatan Akhir Sekolah, Ayat-ayat Cinta, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi) ini, kami pun mencoba mewawancarainya. Inilah petikannya.
Bagaimana proses ide cerita film ini?
“Ide ceritanya sendiri sebenarnya sudah ada di kepala saya sejak 2 tahun lalu. Saya sudah menjalin persahabatan dari SMA dengan penulisnya, Gina. Ketika Gina akan menikah dengan Aris (Salman Aristo-red), dia minta tolong untuk ditemani mengantar undangan bertiga dengan Sukma, kawan kami. Saat itulah terbesit di kepala saya tentang ide film ini.”
Lalu menceritakan apa?
“Amanda (Fanny Febriana) diceritakan mengalami crisis before wedding. Ia bingung mempersiapkan segala sesuatunya, sedangkan pasangannya Dody (Reza Rahardian) malah sibuk dengan pekerjaan dikantor. Amanda kemudian meminta bantuan kepada mantan pacarnya Hary (Oka Antara) untuk mengantarkan undangan dan mempersiapkan semuanya. Tidak disangka hal ini membawa mereka ke petualangan 1 hari yang tidak terlupakan, yang membuat Amanda terjebak dalam kebimbangan untuk menentukan pilihan. Film ini personal banget, 80% adegan antara Hary dan Amanda. Intinya, disini kita akan mengajak penonton berpetualang ke dunianya Amanda, tentang masa lalu, keraguan dan kepastian hatinya.”
Bagimana proses produksi?
“Proses produksinya 15 hari, tidak ada kendala yang berarti, yang seru adalah, saya bekerja dengan kru yang 70% debutan. Artinya, mereka adalah orang-orang yang pertama kali bikin layar lebar. Mulai dari Astrada, Art Director, sampai DOP dan lain-lain.”
Kenapa Anda berani memilih bekerja yang Anda sebut debutan?
“Jadi begini...dulu saat saya masih kuliah ada orang yang ngasih saya kesempatan bikin film untuk pertamakali. Nah, ketika saya bikin film kenapa saya nggak kasih kesempatan buat orang bikin film pertamakali. Se-simple itu aja sih.”
Bagaimana dengan hasilnya?
“Sangat memuaskan.”
Para pemain disini memperlihatkan bagaimana kekuatan mereka berakting secara natural sehingga sangat bisa meyakinkan penonton. Bagaimana Anda bisa memilih mereka?
“Untuk Oka, Salman yang merekomendasikannya. Ia melihat saat Oka berakting di Ayat-Ayat Cinta, tadinya saya nggak percaya karena ia seorang rapper, tapi ternyata hasilnya memuaskan. Kalo Reza dipilih saat-saat terakhir kita kebingungan mencari peran Dodi, Reza tiba-tiba nongol, dan ternyata cocok. Sedangkan Fanny, saya memang mencari sosok Amanda yang fresh dan Innocent dan Fanny cocok saat itu karena ia belum pernah main film.”
Lokasi-lokasi yang Anda gambarkan juga sangat dekat dengan kehidupan warga jakarta. Kenapa Anda merepresentasikan hal tersebut?
“Saya memang sengaja ingin merepresentasikan Jakarta, saya ingin memperlihatkan Jakarta dengan yang kita kenal secara real, makanya saya memilih tempat yang istilahnya Jakarta banget kaya Blok S, Sabang, Mayestik, dan pasar malam. Dan karena film ini juga middle class agaar dekat dengan kehidupan kita. Yang lebih seru lagi, syuting dengan realisme itu sangat murah, hehehe...”
Harapan untuk film ini?
“Saya nggak berharap masuk citra, kalo bisa ditonton sebanyak2 orang tapi bukan karena bisnis, karena rasa ditonton oleh orang banyak itu sangat menyenangkan.” (eM.Yu)





