Benni Setiawan: Film Madre Digarap Penuh Rasa Layaknya Sebuah Roti

 

Walaupun sudah berpengalaman dalam menggarap sebuah film, sutradara terbaik FFI 2010 Benni Setiawan, mengaku kalau film Madre merupakan film yang unik sekaligus penuh tantangan. Ia bahkan merasa kalau Madre seperti proyek layar lebar perdananya.Seperti diketahui, Madre adalah hasil adaptasi novelet ...

Posted By: Alit Bagus Ariyadi, 20 Maret 2013
Benni Setiawan
Walaupun sudah berpengalaman dalam menggarap sebuah film, sutradara terbaik FFI 2010 Benni Setiawan, mengaku kalau film Madre merupakan film yang unik sekaligus penuh tantangan. Ia bahkan merasa kalau Madre seperti proyek layar lebar perdananya.

Seperti diketahui, Madre adalah hasil adaptasi novelet laris karya Dewi 'Dee' Lestasi yang berjudul sama, yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Tansen dimana kehidupannya mulai berubah sejak mendapat warisan berupa biang roti.

Film Madre yang dibintangi oleh Didi Petet, Vino G Bastian dan Laura Basuki ini dijadwalkan rilis di Cinema 21 pada tanggal 28 Maret 2013. Seperti apakah proses pembuatan film Madre dan tantangan yang dihadapi oleh Benny Setiawan selaku sutradara? Berikut adalah bincang-bincang tim Cinema 21 dengan Benni Setiawan disela-sela promo film Madre di kawasan Meruya, Jakarta Barat.

Halo mas Benni apa kabar nih, ceritain dong awalnya bisa menggarap film Madre?
"Ya ini kerjasama kedua saya dengan Mizan. Awalnya saya dapat telepon dari mereka dan di suruh baca buku Madre yang ternyata kisahnya asik juga. Biasanya kalau pihak Mizan disuruh saya baca buku pasti bakalan di suruh buat filmnya. Setelah itu mulai lah masuk casting dan nemu Vino G Bastian serta Laura Basuki."

Madre itu kan sebuah novelet yang berisikan cerita pendek, kok filmnya bisa jadi panjang ya?
"Iya karena Madre adalah sebuah novelet jadi kita harus menambah kisahnya. Saya juga beberapa kali bertemu dengan penulisnya yaitu Dewi Lestari untuk berdiskusi mengenai penambahan ini. Dia kasih kebebasan ke saya dan hanya sekali skenarionya di revisi olehnya."

Berikan penambahan, berarti bakal ada pembeda dengan versi novelnya?
"Oh iya dong. Ini kan sebuah film bukan novelet lagi, jadi ya sudah pasti harus beda. Memang ada revisi dari Dewi Lestari tapi sisanya saya nikmati aja kaya makan roti ha ha ha."

Observasinya kemana aja nih mas Benni untuk membuat film Madre?
"Wah kemana-kemana tuh. Saya observasi berbagai macam mengenai roti, filosofi roti dan sebagainya. Ada juga yang bilang roti adalah bentuk lain Tuhan ketika lapar. Selain itu, lokasi juga survey ke berbagai bangunan tua dan toko roti tua di Jakarta serta Bandung. Akhirnya kita dapat yang sesuai yaitu di Bandung."

Biasanya film yang adaptasi novel kan banyak menuai kritik tentang kemiripan atau justru sangat berbeda. Mas Benni sudah siap dengan hal itu?
"Udah tahu kok tentang itu. Sejak awal saya memang ingin beda tapi saya tetap jaga benang merahnya. Skenario itu kembali ke teknis aja, kalau skenario nggak baik berarti hasilnya juga akan kurang. Di sisi lain kalaui sama kaya novelnya paling film itu hanya berdurasi 50 menit, makanya ada penambahan dan ada karakter baru."

Untuk pemeran utama kenapa memilih Vino G Bastian dan berambut gimbal?
"Saya riset tentang peselencar dan kebanyakan mereka berkulit agak gelap. Karena sering kena air asin maka rambutnya kering dan gimbal. Karakter ini bisa dikatakan menguntungkan karena penonton nggak akan liat Vino-nya tapi lebih ke Tansen."

Ini kan bukan kali pertama mas Benni menggarap film adaptasi novel, apa sih bedanya dengan Madre?
"Pertama bedanya di film ini saya punya tanggung jawab untuk menambah kisahnya. Kedua, ini adalah film pertama tentang kuliner yang unik. Problemnya nggak terlalu dramatik dan saya buat dengan manis dengan filosofi roti dan sebagainya. Saya ingin membuat orang tersenyum terus ketika menonton film ini. Madre membuat saya seperti bikin film pertama, karena kita begitu deket, menghayati dan terbuka. Tahun ini Madre menjadi film yang spesial buat saya karena memiliki tema yang beda karena mengangkat dunia roti, kuliner, peselancar, taichi, dan etnis tionghoa. Buat saya itu sangat menantang."

Ada perasaan beban nggak sih ketika mengadaptasi film adaptasi novel laris?
"Pasti setiap director ingin filmnya harus lebih baik dari sebelumnya. Tapi saya buat film nggak pernah punya obsesi. Saat saya buat 3 Hati Dua Dunia, Satu Cinta (2010) saya enjoy aja. Sisanya biar penonton aja yang nilai, saya buat dengan rasa aja, kita tumpahkan semua kesana. Kalau ditargetin justru bisa menghambat kita. Mengalir aja kaya buat roti ha ha ha."

Enak mana buat film adaptasi novel apa dari cerita sendiri?
"Dua-duanya enak sih. Kalau dari novel kita nggak punya beban banyak karena sudah ada cerita yang disiapkan. Bebannya lebih ke pembaca dan penulisnya aja. Tapi kalau cerita sendiri kita bisa lebih bebas, tapi belum tentu bisa diterima masyarakat. Kalau novel kan sudah ada pembacanya."

Apa alasan Anda untuk masyarakat harus lihat versi film Madre?
"Ya karena akan ada banyak kejutan dengan eksplore cerita yang utuh dan ada penambahan karakter. Para pemain pun merasakan ketika novel itu menjadi sebuah skenario, mereka tidak melihat perbedaan tapi justru menjadi berkembang. Penambahan untuk versi film ini dari novel yaa sekitar  30% sampai 40% deh."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON