Chitra Subiyakto : Memanjakan Mata Penonton

Dalam sebuah film, sinematografi dan konsep atau cerita adalah hal yang utama. Dari sisi sinematografi, gambar yang artistik pastinya akan menjadi hal menarik untuk ditonton. Salah satunya yang sering luput dari perhatian sineas Indonesia adalah segi kostum. Sayang sekali, padahal di Hollywood, kehadiran seorang fashion stylist dalam sebuah film adalah hal yang teramat penting. Ya, dengan kehadirannya, seorang fashion stylist akan memanjakan mata penontonnya.

Di Indonesia sendiri, nama Chitra Subiyakto bisa langsung disebut sebagai fashion stylist yang tidak perlu lagi diragukan lagi karya-karyanya. Sebut saja dalam beberapa bidang seperti majalah, video klip, dan film sudah berhasil ia rambah. Untuk tahu lebih jauh mengenai fashion di bidang film, adik dari Jay Subiyakto ini akan menjabarkannya. Simak hasil wawancara dengan perempuan cantik ini berikut.

Dalam sebuah film seberapa dibutuhkannya seorang fashion stylist?
“Perlu sekali, karena dari sebuah tulisan menjadi sebuah gambar visual yang  harus enak dipandang mata. Sebuah karakter yang tercipta dari sebuah tulisan memerlukan seorang fashion stylist. Bagaimana karakternya men jadi real dan terbaca tanpa harus terlalu banyak bercerita. Dari pemilihan baju yg dipakai akan terasa karakaternya.  Tentunya harus sesuai alur film dan arahan sutradara, sesuai art direction, dan harus tetap terlihat bersih. Jika menampilkan yang kumuh tapi tetap warnanya harus bisa terlihat enak dan menyatu dengan sekeliling dan bisa memanjakan mata penonton.”

Sampai sekarang sudah berapa film yang pernah Anda pegang?
“Sekitar 20-an film, antara lain Brownies, Buruan Cium Gue, Ungu Violet, Tentang Dia, Cermin, Untuk Rena, Drupadi, dan Laskar Pelangi.”

Adakah pengalaman yang tak terlupkan saat terjun didunia film? 
“Waduh..banyak..tapi yang pasti aku suka dengan kebersamaan atau team work. Kebersamaan menyatukan visi, sampai hal simple seperti kita semua, dari produser, sutradara, crew, pemain, sampai supir makan bersama. Yang sangat menyenangkan jika syuting  di daerah-daerah yang aku belum pernah datangi. Karena aku hobi travelling.”

Menurut Anda film apa yang paling sukses styling-nya? Kenapa?
“Banyak sekali, tapi favoritku Dracula-nya Bram Stolker. Semuanya menyatu, dari art, visual, pakaian, make up, konsepnya kuat dan explore-nya dalam.”

Di industri film luar, stylist itu penting, tapi disini masih kurang diperhatikan. Menurut Anda bagaimana?
“Memang belum semua, karena biasanya budget produksinya masih kecil. Jadi dikonsentrasikan ke bagian utama seperti kameramen, art, dan yang lainnya. Tapi tahun-tahun belakangan ini cukup berkembang, banyak sutradara atau rumah produksi yg mulai memikirkan konsep keseluruhan secara matang, jadi detail kecil sampai baju, tas sudah mulai diperhatikan untuk memperkuat karakter dan memanjakan mata penonton.”
 
Apa perbedaan ketika menangani sebuah majalah, video klip,  dan film?
“Majalah kita memikirkan seluruh konsep, dari penentuan tema, gaya baju, model, lokasi, gaya foto, lighting, dan lainnya. Video klip kita menyatukan visi dengan sutradara, penyanyi, lagu, bentuk tubuh, set, dan cerita. Untuk film hampir sama dengan video klip, perbedaannya nggak banyak, mungkin di waktu, film biasanya sampai 1 bulan syutingnya.”

Lebih suka mana?
“Film.”

Awalnya terjun di dunia fashion stylist?
“Tahun 2000 diajak Sarah Sechan untuk bergabung di majalah remaja baru. Karena waktu itu dandananku  dianggap cukup unik. Kemudian diajak oleh Taba Sanchabachtiar bikin video klip, dan Rizal Mantovani untuk film.”

Kenapa memilih dunia fashion stylist? Apakah saat ini sudah Anda jadikan profesi Anda?
“Kenapa yah..hehe..kebetulan memang suka mengamati penampilan seseorang. Bagaimana seorang memakai suatu baju, apa yg menjadi inspirasinya dan lain-lain. Yaa, bisa dibilang sudah jadi profesi. Sempat berkembang juga ke iklan awalnya, pernah juga menjadi personal stylist untuk band-band baru atau penyanyi, seperti membuat konsep gaya awal utk Nidji, mendandani Gita Gutawa dan Melly Goeslaw di video klip.”

Selama ini siapa saja yang sudah memakai jasa Anda?
“Banyak, antara lain Dian Sastro, Nidji, Melly Goeslaw, Gita Gutawa, dan Peterpan. Kalau sutradara juga banyak, dari Riri Riza, Mira Lesmana, Hanung, Dimas Djay, Jay subiyakto, dan Erwin Gutawa.”

Ada impian untuk menjadi fashion stylist-nya seseorang atau bidang yang lain?
“Hmm..impianku mengangkat budaya Indonesia ke fashion. Bagaimana caranya tampil Indonesia tanpa terasa jadi terlalu etnik. Oleh karena itu,aku sekarang juga bekerja di Alun Alun Indonesia sebagai creative buyer. Menciptakan design yg muda dan edgy dan sesuai trend gaya yang sedang digemari tapi tetap dgn sentuhan Indonesia, supaya anak muda nggak lupa sama negaranya. Misalkan anak muda sekarang pada senang pakai kaos Che Guavara, nah aku menciptakan kaos Jendral Sudirman supaya bisa dipakai juga.”

Jika seorang pemula ingin menjadi fashion stylist apa saja yang harus dilakukannya?
“Dia harus open minded, kalau misalnya dia tomboy, dia musti bisa mendandani dengan berbagai aliran, feminin, goth, dan lain-lain. Terbuka terhadap setiap inspirasi, pekerja keras, aware akan fashion, mengerti bentuk tubuh seseorang, disiplin, dan sehat.”

Apa suka duka menjadi fashion stylist?
“Menyenangkan karena kita bertemu dengan banyak orang, dengan berbagai karakter yang unik-unik. Dukanya mungkin di waktu, karena kalau mau syuting biasanya persiapan harus dilakukan dengan cepat dan syuting bisa sampai pagi, jadi badan harus fit karena pasti kurang tidur.”

Siapa fashion stylist yang memberi pengaruh dalam Anda bekerja?
“Hmm..saya mengagumi Emi Wada yang mengerjakan Dracula.”

Style Anda dalam berpenampilan sehari-hari bagaimana?
“Eclectic..senang memadukan berbagai aliran, dan yang pasti nyaman.”

Apa rencana kedepan?
“Sedang menulis buku tentang fashion, mengerjakan film-film yang menyenangkan, keluar dari hiruk pikuk Jakarta dan tinggal di daerah pantai.” (eM.Yu)