Didi Petet : FFI adalah Sejarah

 

Sebagai aktor senior, nama Didi Petet memang sudah tidak perlu diragukan lagi di dunia perfilman. Dikenal sebagai Emon dalam film Catatan Si Boy dan Si Kang Kabayan, Didi di usianya yang ke 53 tahun sampai kini masih eksis dunia film. ...

09 Desember 2009
Posted By: Erfanintya M. P.

Sebagai aktor senior, nama Didi Petet memang sudah tidak perlu diragukan lagi di dunia perfilman. Dikenal sebagai Emon dalam film Catatan Si Boy dan Si Kang Kabayan, Didi di usianya yang ke 53 tahun sampai kini masih eksis dunia film. Tercatat di tahun 2009 ini saja ia telah membintangi lima film yaitu Kirun + Adul (2009), Jermal (2009), Ketika Cinta Bertasbih (2009), Emak Ingin Naik Haji (2009), dan Ai Lop Yu Pul (2009). Di temui saat jumpa pers Ai Lop Yu Pul dibilangan Senayan, Didi pun bercerita tentang dunia film, FFI, dan para aktor muda sekarang.

Bagaiamana Anda melihat melihat film-film horor dan komedi sekarang apalagi selalu selalu diselimuti adegan vulgar?
“Memang film-film horor dan komedi sekarang sepertinya balik lagi ke era 80-an. Mungkin dilihatnya dari segi industri sebagai nilai jual untuk mencari keuntungan semata. Untuk film horor sendiri tidak dapat dipungkiri masyarakat kita dari 20 tahun yang lalu masih menyukai hal-hal yang berbau mistik. Tapi kita lihat saja yang menjadi box office pasti film-film yang berkualitas. Untuk itu masyarakat harus pintar memilih film yang bagus untuk ditontonnya.”

Lalu bagaimana dengan kualitas aktor saat sekarang, termasuk para pendatang baru dibandingkan dengan aktor di masa Anda?
“Kalau dulu di jaman saya, contohnya Christine Hakim, ia selalu mengandalkan unsur-unsur seperti mencari, berbuat, dan mengalami. Makanya terbukti penghargaan yang pernah ia raih. Sedangkan untuk anak-anak sekarang hanya menjalankan dirinya sendiri seperti hanya menjadi anak kota saja. Tapi tetap ada yang berkualitas, tapi sedikit.”

Bagaimana saat Anda berakting dengan para pemain sekarang?
“Biasa saja, nggak ada masalah. Jika dengan murid saya, selalu bilang saat di dalam kelas kita sebagai guru dan murid, sedangkan saat di frame kita bekerja, saya tidak mau mengajar lagi.”

Pendapat Anda tentang FFI?
FFI adalah sejarah yang dibangun dengan sebuah gagasan luar biasa oleh pendahulu-pendahulu kita. FFI sebagai tolak ukur film yang berkualitas. Dan tugas kita adalah meneruskan perjuangan ini.”

Bagaimana dengan 200 film dalam setahun yang ditargetkan oleh MenBudPar?
“Seharusnya berjalan keduanya, semakin banyak film tapi diiringi dengan kualitas yang bagus pula. Apalagai sekarang genre-nya berbeda-beda.”

Tanggapan Anda mengenai beberapa sineas yang tidak setuju?
“Yaa silahkan saja jika ada yang tidak setuju, perbedaan itu harus ada. Tapi sebaiknya kita duduk bersama untuk membicarakan sebenarnya apa yang kurang dan perlu diperbaiki.”

Jika dibandingkan dengan FFI pada awal mula sampai sekarang banyak yang menyatakan semakin tidak berkualitas. Menurut Anda?
“Pelaksanaan FFI tidak pernah berubah menjadi lebih ringan dan tidak berkualitas, kita harus melihatnya sebagai sejarah. Jika melihatnya sebagai sejarah maka akan menjadi betapa pentingnya FFI. Dan menurut saya FFI masih elegan.”

Apakah harus ada perubahan untuk FFI?
“Perubahan untuk menuju kebaikan memang harus ada. Tapi maunya seperti apa, sekali lagi saya tegaskan kita harus duduk bersama. Karena dengan berkomunikasi pasti menghasilkan suatu yang baik. Yang perlu diketahui, semua juri mempertaruhkan namanya untuk memilih film tersebut. kalau ada tandingan FFI ya silahkan saja. tapi FFI adalah sejarah yang harus kita hargai dan diteruskan perjuangannya.” (eM.Yu)
 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON