Filosofi Kopi 2: Ben & Jody Bukan Sekedar Film Bagi Angga Dwimas Sasongko

 

  Petualangan dua sahabat Ben & Jody kembali berlanjut di sekuel Filosofi Kopi (2015). Film yang diberi judul Filosofi Kopi 2: Ben & Jody itu masih diperkuat dengan duet pemeran utama prianya, yaitu Chicco Jerikho dan Rio dewanto. Sebagai bagian dari ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 07 Juli 2017
angga dwimas ...
 
Petualangan dua sahabat Ben & Jody kembali berlanjut di sekuel Filosofi Kopi (2015). Film yang diberi judul Filosofi Kopi 2: Ben & Jody itu masih diperkuat dengan duet pemeran utama prianya, yaitu Chicco Jerikho dan Rio dewanto. Sebagai bagian dari pengembangan cerita, Visinema Pictures menambahkan duo aktris baru, Luna Maya dan Nadine Alexandra, yang masing-masing diplot untuk melakoni karakter Tarra serta Brie. 
 
Menariknya, dua tokoh baru tersebut diciptakan oleh pemenang kompetisi #Ngeracikcerita yang diselenggarakan Visinema Pictures pada pertengahan tahun 2016, yaitu Christian Armantyo dan Frischa Aswarini. Kisah yang dibuat mereka kemudian dikembangkan menjadi skenario oleh Jenny Jusuf, M. Irfan Ramli serta sang sutradara Angga Dwimas Sasongko, dengan Dewi 'Dee' Lestari bertindak sebagai konsultan kreatif cerita.
 
Selain dua karakter baru, hal lain yang menjadi pembeda sekuel ini dengan film pertamanya adalah lokasi syutingnya yang lebih banyak. Ya, Filosofi Kopi 2: Ben & Jody mengambil tempat di 5 kota Indonesia, yaitu Jakarta, Yogyakarta, Bali, Makassar dan Toraja. 
 
Sedangkan untuk soal penyutradaraan, Angga Dwimas Sasongko mengaku melakukan beberapa pendekatan berbeda pada Filosofi Kopi 2: Ben & Jody. Tujuannya adalah agar bisa memberikan pengalaman menonton yang tidak sama dengan film pertama. Ia pun mengungkapkan banyak belajar dari kesalahan-kesalahan maupun berbagai kritikan yang didapatnya di Filosofi Kopi (2015). 
 
Usai press screening Filosofi Kopi 2: Ben & Jody pada Rabu (5/7) lalu di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, kepada tim 21cineplex.com, suami dari Anggia Kharisma ini menjelaskan hal-hal apa saja yang dilakukannya untuk membuat sekuel tersebut lebih baik dari pendahulunya. Termasuk soal upaya Visinema Pictures membesarkan Intellectual Property (IP) Filosofi Kopi layaknya Marvel dan Disney di AS. Berikut petikan wawancaranya. 
 
Pertama-tama, bisa diceritakan apa alasan Anda membuat Filosofi Kopi 2: Ben & Jody?
"Ada beberapa alasan. Pertama, karena kita melihat dari Filosofi Kopi 1, karakter dan ceritanya itu tumbuh nggak cuma sekedar di dalam film, tetapi juga hidup di luar film. Kedainya berjalan dengan baik, Chicco sama Rio juga hidup sebagai Ben & Jodi sehari-hari. Dan di sisi lain, sebagai sebuah film, kita bisa bilang bahwa Filosofi Kopi pertama itu landmark buat kami di Visinema Pictures. Kita rilis di Taiwan dan Jepang, travel ke 15 festival di seluruh dunia, dan kita ngerasa kenapa nggak dikembangin universe-nya. Saya selalu bilang di kantor kalau misalnya Hollywood katakanlah punya Marvel, Star Wars, kita sulitlah punya benda kayak mereka, karena kita tidak punya budaya superhero atau alien kayak Amerika. Kita punya budaya kopi, kenapa nggak universe ini kita gedein dan kita bikin jadi sebuah konten yang bisa hidup di beberapa platform." 
 
Bisa lebih dijelaskan universe seperti apa yang Anda maksud?
"Ini bukan cuma project film, ini project kita mengembangkan Filosofi kopi jadi sebuah branded content. Kita juga sebagai kreator mencoba untuk mengadaptasi platform-platform yang hari ini berkembang, tetapi tidak melupakan platform yang sudah ada sebelumnya. Kayak kita punya film, di satu sisi kita juga punya radio play-nya, platform konvensional yang coba kita hidupkan lagi. Di digital kita ada, retail kita ada, kedepannya bakal ada series barunya dan banyak turunan-turunan produk lain yang akan kita kerjakan."
 
Apa yang mendorong Anda untuk membuat Filosofi Kopi ini menjadi Intellectual Property (IP) yang besar?
"Ya karena memang harus berpikir untuk mengembangkan IP, ya. Maksudnya, that's what the showbiz does. Di Amerika, Disney kan hidup karena IP, Marvel kan besar karena berhasil mengembangkan IP. Jadi nggak perlu setiap hal create IP baru. Ya kalau misalnya IP-nya punya potensi buat dikembangin, ya kita kembangin dan ini baru juga kan di Indonesia. Belum ada gitu di sini yang bisa ngembangin IP sejauh ini." 
 
Dalam Filosofi Kopi 2, Ben & Jody buka cabang di Jogja, apakah di dunia nyata juga demikian?
"Kedai di Jogja sih bukan cuma udah open, udah kelebihan pengunjung, hahaha. Karena kan memang kayak di film dan setelah itu kita buka. Terus kita juga lagi berencana mau buka di Semarang, Solo dan Makassar." 
 
Di skenario ada sumbangsih dari cerita yang dibuat dua pemenang sayembara. Seberapa besar porsi tulisan mereka yang masuk ke film?
"Kalau dari sisi cerita yang dibuat oleh peserta ngeracik cerita, jadi memang proses awalnya adalah kita mencari cerita. Kita nyari ide, ketika ceritanya selesai di film pertama yang sesuai sama bukunya Mba Dewi Lestari, ini kan kemudian ada imajinasi yang bisa kemana-mana. Nah, jadi saya tulis sinopsis, Jenny (Jusuf) juga tulis sinopsis, itu di awal. Terus baru ada ide dari Anggia Kharisma untuk bikin (lomba) ngeracik cerita. Jadi, kita tahan dulu sinopsisnya, terus kita tarik narasi dari dua sinopsis yang kita punya digabungkan dengan milik pemenang, sehingga ada empat sinopsis yang digabungin jadi satu."
 
Dua karakter perempuan baru di film ini, yaitu Tarra dan Brie katanya diciptakan oleh pemenang ngeracik cerita, bisa dijelaskan lebih lanjut?
"Karakter Tarra itu dicreate sama Tyo, terus Frischa tuh ngecreate Brie. Tapi banyak belokan-belokan cerita, set up-set up baru yang dibuat sama Jenny. Bahkan, sebenarnya yang menarik, proses berceritanya itu sampai syuting. Maksudnya, kayak contohnya sebelum berangkat ke Toraja, ada banyak cerita yang kita terima tentang apa aja yang ada di sana. Terus ada satu tempat yang diceritain oleh salah seorang co-produser kita yang kalau ini bisa masuk ke salah satu struktur dalam film, akan menarik banget. Dan keliatan ada magic-nya, karena ada kata yang bisa digabungin. Terus tim penulis duduk lagi, kita ngecreate satu adegan baru, dan proses seperti itu terus berlanjut. Bahkan, ada satu adegan di rumah Bapaknya Ben yang saya create gara-gara harusnya jam 10 malem kita selesai syuting, tapi jam 7 udah selesai waktu itu. Terus saya bilang nggak usah ganti baju, setting ulang, dapurnya ini menarik nih, sayang panggil kameramen untuk taruh frame di situ, oke kita bikin adegan dan kita punya tambahan satu scene. Jadi memang Magic happen selama syuting, karena saya percaya banget bahwa film itu ditulis tiga kali. Pertama saat penulisan skenario. Terus ketika pas syuting, kita bisa melihat banyak benda yang kita nggak bayangin saat menulis, lokasi, udara, pemandangan, benda yang bisa kita hirup, benda yang kita bisa denger, itu bisa jadi materi baru untuk bisa create sesuatu yang melengkapi atau menambahkan puzzle ke cerita. Kemudian diediting, kita punya banyak ruang untuk merestruckture lagi segala macem. Menariknya filmmaking menurut saya di situ. Dan berapa persennya cerita pemenang sayembara ngeracik cerita jadi sulit untuk diukur. Tapi, banyak plot-plot utama, subplot-subplot penting dalam film itu diambil dari mereka."  
 
Kalau soal karakter El (Julie Estelle), mengapa di sekuel ini tidak ada?
"Karena memang kita perlu set up timeline untuk film ini, sehingga karakternya udah nggak ada. Timeline-nya memang jauh dan kita memang pengen bikin cerita baru supaya penonton dapet cerita baru sih. Kalau ada El lagi kan sama ceritanya. Tapi mungkin di yang ketiga El akan datang lagi." 
 
Ada beban tidak di benak Anda dalam membuat sekuel ini?
"Buat saya film ini challenge yang luar biasa, karena film pertama (raih) dua Piala Citra, Jenny ngegondol semua Piala Skenario yang ada di Indonesia. Maksudnya, kita ngeset up benchmark yang cukup tinggi di film pertama. Terus di film kedua ya harus jadi progress, karena progress itu jadi kayak kegelisahan bagi kami di Visinema untuk bisa ngeliat bahwa setiap film yang kita kerjain itu ada sesuatu yang setidaknya buat kami sebagai kreator tuh melakukan langkah baru dibanding sebelumnya. Dan ketika ngerjain Filosofi Kopi 2, langkah itu kemudian diuji, sebab ada bandingannya, ada film pertamanya. Orang bisa ngebandingin jadinya. Antara Cahaya Dari Timur ke Filosfi Kopi, kemudian Surat Dari Praha ke Bukaan 8 kan nggak bisa apple to apple. Tapi kalau ini bisa, karena Filkop 1 dan Filkop 2. Jadi, beban terbesarnya adalah bagaimana bikin film ini lebih baik."
 
Filosofi Kopi 2 tidak ada bukunya seperti yang pertama, seperti apa treatment-nya?
"Saya mempelajari yang pertama, banyak sekali saya melakukan kesalahan, terus mencoba mencari pendekatan baru bagaimana saya menempatkan dan menggerakkan kamera bersamaan dengan menggerakkan orang. Kalau yang pertama, keliatan sekali kameranya itu ditreat sebagai mata manusia, sehingga unstable dan bergerak mengikuti nafas karakter-karakternya. Buat penonton mainstream mungkin mengganggu. Kemudian kritik itu coba saya tangkap di film kedua dan gimana membuat film ini jadi lebih stable, tapi tetap dengan kamera yang fluid. Saya belajar banyak dari film-film Akira Kurosawa, gimana dia membuat banyak sekali camera movement yang sangat fluid, coba saya terapkan di Filosofi Kopi dengan pendekatan yang lebih modern. Kalau untuk frame, saya pakai pendekatan lukisan-lukisannya Edward Hopper. Jadi kalau misalnya teman-teman lihat, nyaris nggak ada satu pun komposisi yang konvensional di sini. Kalau melihat lukisannya Edward Hopper, dia menempatkan karakter atau objek tuh sangat ekstrim. Itu salah satu yang saya coba lakukan supaya penonton bisa merasakan eksperience baru, nggak sama dengan film pertama. Kalau film pertama warnanya juga lebih low saturation, (sedangkan) di sini kita berani untuk lebih vibrant, karena karakternya berkembang juga. Kita punya dua karakter yang lebih dewasa, tapi di satu sisi harus ada eskalalasi di mana ketika di film pertama, filmnya adalah soundtrack base. Nah, di kedua ini gimana kita punya eskalasi terhadap soundtrack. Di film kedua, soundtrack saya tempatkan sebagai narasi, jadi dia narator sebenarnya. Lirik-liriknya tuh narator, yang kalau didengerin seksama, dia menggambarkan apa yang dirasakan oleh karakter-karakter di dalam adegan tersebut. Itu yang agak masih bisa ditingkatin dari yang saya lihat di film pertama, dan itu yang kita lakukan di sini. Contoh misalnya plot point 1 film ini kan bukan peristiwa, tapi lagu. Ini satu konsep atau treatment yang beresiko, ketika karakter dan plot twist terjadi bukan karena adanya peristiwa besar, tapi karena dia mendengarkan sebuah lagu, dan lagunya penting sekali. Mencari lagu tersebut juga deg-degan, tiga hari sebelum syuting baru dapet. Kalau dari directing sih seperti itu." 
 
Kalau soal budget, berapa yang dikeluarkan untuk Filosofi Kopi 2: Ben & Jodi?
"Belum sama promosi Rp10 Miliar. Mungkin sama promosi jadi Rp15 Miliar."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON