Kholidi Asadil Alam : Asal Jangan Pelukan

 

Setelah sempat berjualan sarung dan ayam goreng di Jakarta, kini dirinya harus siap menjadi orang terkenal di dunia perfilman Indonesia. Berkat perannya di film dengan nuansa Religi Ketika Cinta Bertasbih. Lelaki yang lahir di Pasuruan tanggal 30 maret 1989 ini ...

Posted By: Erfanintya M. P., 11 September 2009

Setelah sempat berjualan sarung dan ayam goreng di Jakarta, kini dirinya harus siap menjadi orang terkenal di dunia perfilman Indonesia. Berkat perannya di film dengan nuansa Religi Ketika Cinta Bertasbih. Lelaki yang lahir di Pasuruan tanggal 30 maret 1989 ini mempunyai nama lengkap Kholidi  Asidil Alam. Kholidi yang mendapat Beasiswa penuh dari  Universitas Al-Azhar ini juga sangat menyukai beladiri dan sepakbola , dia juga sempat menjadi juara 2 karate se DKI, dan sempat berlatih Capoera di Bulungan. Ditemui saat press conference KCB 2 di Resto Planet Hollywood Jakarta, 10 September 2009, Kholidi menyambut dengan hangat 21cineplex.com saat diminta untuk wawancara. Dan inilah cerita seputar keterlibatannya di film garapan sutradara kondang Chaerul Umam tersebut. Tak lupa ia juga menceritakan sedikit perjuangan hidupnya  di Jakarta.

Awal terlibat film Ketika Cinta Bertasbih?
Terus terang waktu itu saya lagi belajar di teater popular milik Slamet Raharjo, terus disitu sempat main di film pendeknya om Slamet Raharjo judulnya Senandung Kerinduan ditahun 2007, setelah itu saya dapat beasiswa, di Gladiaktor selama 3 bulan. Dan ditengah-tengah itu saya diberi informasi oleh teman saya dibulungan namanya mas Sis, dia pelukis bahwa Sinemart buka audisi untuk mencari 5 pemeran utama untuk film Ketika Cinta Bertasbih. Dan menurut mas Sis karakter saya sangat cocok dengan tokoh Azzam di novel karya Habiburrahman El-Shirazy. Setelah mempelajari akhirnya bismillah saya kirim CV, foto ke Sinemart, alhamdulliah akhirnya dipanggil ikut audisi, ikut tahapan lainnya dan akhirnya terpilih dari 7000 orang, dan intinya pun ini adalah dukungan dari keluarga besar, terutama abah dan ibu saya.


Kenapa tertarik bermain film ini?
Semenjak saya belajar di teater popular saya mengetahui  bahwa film adalah salah satu  media yang paling efektif dan efisien untuk mempengaruhi masyarakat. Dari saya tau itu, saya bermimpi bisa berada di sebuah film yang baik dan film itu menyampaikan kesan yang baik dan bisa berpengaruh ke masyarakat, saya bermimpi insa Allah dapat pahalanya. Saya ingin ada perubahan di bangsa kita, apa yang bisa saya berikan ke masyarakat ke Indonesia ya saya berikan, dan ada kesempatan lewat  film ini, karena ini adalah film yang baik.
Menurut anda bagaimana cerita film ini ?
Menurut saya film ini luar biasa, karena diangkat dari novel yang luar biasa juga, dan saya rasa film  ini bisa diterima oleh semua orang, bisa diterima secara universal, tidak hanya untuk orang islam, karena mengandung pesan kemandirian, pesan patuh terhadap orang tua, mulai dari perjuangan di negara orang, gigihnya semangat berjuang kita seperti apa ada di film ini ada semua. Jangankan itu mas, ketika saya membaca tentang khaerul Azzam, itu ga usah dipilih pun, jadi Khaerul Azzam di audisi saya ingin jadi Khaerul Azzam sesungguhnya saking hebatnya sang penulis.

Apakah ada kesamaan karakter antara Azzam dan diri pribadi anda?
Persamaan saya dan Azzam adalah dari kecil kita dibesarkan di lingkungan pesantren, dan yang paling mendasar saya dan Azzam dari Jawa dan sama-sama merantau. Hidupnya sama-sama prihatinnya, Azzam berjuang di Kairo saya berjuang di Jakarta, di sana Azzam berjualan tempe dan  baso, saya jualan sarung dan ayam goreng di Jakarta. Sempat belajar mandiri jadi bisa merasakan apa yang dirasakan Khaerul Azzam.


Pendapat Anda tentang Chaerul Umam?
Tidak ada orang yang bisa mencela beliau tentang kedisiplinan, semua. Kita syuting selasai jam 2 pagi, lalu besok ada syuting jam 8 pagi, pa umam sudah ada ditempat sarapan jam 6 pagi, sudah rapi. Kita malu kalau kita telat, jadi beliau sangat dihormati dan disegani sekali itu yang pertama. Yang kedua  Pa mamam sangat telaten dan sabar, kita nih pemain-pemain baru dan jam terbang juga  belum tinggi, tapi mengayomi dan mencontohkan. Kita tahu pa maman badannya aga gede, tapi beliau kalau kasih arahan ke kita itu turun dari kursinya dan mencontohkan, sampai blocking pemain juga diarahkan oleh beliau. Pokoknya kita benar-benar  bersyukur dapat sutradara seperti pa Chaerul Umam.

Apakah ada keinginan bermain film dengan genre yang berbeda?
Saya tetap komit ya, bahwasannya  itu yang saya bilang tadi, bahwa saya menyakini dan punya prinsip bahwa film adalah media yang efektif dan efisien untuk mempengaruhi masyarakat, jadi sayang sekali kalau kita bermain film yang kurang baik. Ngajarin atau mencontohkan yang kurang bermanfaat bagi masyarakat, prinsip nya yang paling mendasar  gini deh, ngapain sih ngasih yang jelek-jelek untuk masyarakat, dan itu sudah komitmen saya, saya berdoa minta bimbingan yang kuasa, minta nasihat orang tua, semoga diberikan dan dibantu untuk bisa komit di program yang baik-baik saja.

Jadi intinya?
Saya akan menyeleksi tawaran-tawaran bermain film apabila ada yang datang, meskipun tidak film religi, semua film akan saya pertimbangkan, film kemerdekaan bisa, film perjuangan bisa, asal tidak pelukan aja, hahaha.

Harapan dari film ini?
Harapannya, saya jadikan ini semua sebagai muhasabah juga, maksudnya  bahan instropeksi diri juga, karena saya memerankan peran yang sangat luar biasa sekali yang mengispirasi banyak orang, bisa diteladani, saya juga selalu mengaca pada sosok Khaerul Azzam ini, bagaimana pun saya banyak kekurangan juga, saya juga berharap bisa membuat program yang baik untuk masyarakat.(deri)



 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON

 
www.vidfor.me