Lasja Fauzia : Inspirasi Dari Nyanyian Lembah Baliem

 

Wanita ini dikenal lewat menyutradarai beberapa drama remaja. Sebut saja seperti Lovely Luna (2005), Dunia Mereka (2006), (Bukan) Kesempatan Yang Terlewat (2006), dan Bukan Bintang Biasa (2007) telah berhasil digarapnya. Lasja Fauziah, sutradara tersebut kini sedang disibukkan dengan film terbarunya, ...

30 April 2010
Posted By: Erfanintya M. P.

Wanita ini dikenal lewat menyutradarai beberapa drama remaja. Sebut saja seperti Lovely Luna (2005), Dunia Mereka (2006), (Bukan) Kesempatan Yang Terlewat (2006), dan Bukan Bintang Biasa (2007) telah berhasil digarapnya. Lasja Fauziah, sutradara tersebut kini sedang disibukkan dengan film terbarunya, Nyanyian Lembah Baliem. Untuk tahu proses produksinya lebih dalam, kami pun mencoba bertemu langsung dengan sang sutradara tersebut. Akhirnya pada Kamis, 29 April 2010 bertempat di Tornado Cafe, Kemang, Jakarta, kami bertemu dengan Lasja.

Waktu itu jam menunjukkan pukul 10.25 WIB, terlihat sosok wanita dengan mengenakan kemeja yang dipadu dengan celana pendek dan mengenakan topi turun dari taksi. Kami yang sudah menunggu di dalam cafe pun sudah mengira jika sosok tersebut adalah Lasja Fauziah. Ya, benar saja wanita itu langsung turun dan masuk ke dalam cafe, kami pun menyambutnya dengan menjulurkan tangan sambil memperkenalkan diri. Lasja pun menyambut balik dan sambil memberikan senyumnya. Dan dengan berbasa-basi sedikit, obrolan hangat film yang mengangkat tema HIV itu pun kami mulai.

Film ini menceritakan apa?
“Menceritakan tiga orang dari Wamena yang bersahabat dan ingin maju. Kehidupan Lithius (diperankan oleh Maximus Itlay), yang menyenangkan di Papua, terusik ketika orang-orang yang dicintainya terkena virus HIV. Awalnya, virus HIV menyerang sahabat Lithius, (Tembi yang diperankan oleh Benjamin Lagoway). Tak lama kemudian, hal yang sama juga terjadi pada gadis yang disukainya, Endah (Amyra Jessica Richter). Ketika Endah memutuskan untuk ke Jakarta, Lithius pun menyusulnya. Kehidupan mereka lah yang akan menginpsirasi Dadniel (Nicholas Saputra) yang asal Jakarta. Karena biasanya orang kota yang memberi inpsirasi orang daerah, nah disini kita balik. Ceritanya lebih inspiratif dan nanti akan ada dua alur cerita.”

Siapa saja yang terlibat?

"Sejumlah pemeran utama yang asli orang Wamena dan baru pertama kalinya terlibat di dalam pembuatan film layar lebar, (termasuk Madonna Marrey, seorang foto model terkenal dari Jayapura, sebagai pemeran Martha). Film remaja yang mengangkat isu HIV ini didukung dengan penampilan khusus dari Nicolas Saputra, dan Susan Bachtiar. Skenario ditulis oleh Sinar Ayu Massie ("Tiga Hari Untuk Selamanya", tahun), dan sinematografi oleh Aria Agni ("Tiga Doa Tiga Cinta", 2008 dan “Bebek Belur”, 2010). Penata musik Aghi Narottama, didukung dengan lagu-lagu dari Ipang dan White Shoes and the Couples Company."

Kabarnya film ini akan mengangkat tema tentang HIV?
“Ya, selain cerita cinta dan persahabatan, saya ingin membuat cair dan menyenangkan tapi ada bagian-bagian yang setidaknya orang jadi berpikir kembali soal HIV itu apa dan bagaiamana hubungannya dengan dirinya, teman-temannya, atau orang dekat, karena banyak yang berpikir nggak mau tahu dengan HIV.”

Apakah akan tetap menggunakan judul Nyanyian Lembah Baliem?
“Sampai saat ini masih menggunakan judul tersebut.”

Bagaimana proses risetnya?
“Saya bersama penulis pergi ke Wamena untuk langsung riset. Kita riset ke lokasi, melihat kondisinya seperti apa, interview dengan anak-anak sekolah selain input yang telah diberikan kita sebelumnya. Kita riset dengan orang-orang yang sudah bertahun-tahun disana untuk mengurusi AIDS. Teman-teman di Jayapura, Wamena, mereka bercerita tentang kehidupan mereka sehari-hari, dan bagaimana karakter manusianya. Kita juga dapat dukungan penuh dari Bupati Wamena, jadi kita dapat mengeksplor kebudayaan dan keindahan alamnya.”

Apakah film ini bisa disebut sebagai penyuluhan?
“Bukan, karena film ini memiliki misi tapi tetap bisa menghibur, komunikatif dan menyenangkan. Agar tidak menjadi penyuluhan tapi agar orang peduli, paham dan mampu melakukan sesuatu untuk HIV.”

Kenapa memilih media film untuk HIV?
“Karena lewat pamflet kurang efektif dan sebenarnya film pendek cukup memberikan dampak yang berbeda. Tapi menurut kita jika dengan film komunikasinya pasti lebih sampai, soalnya orang-orang sana lebih suka menonton dan sasarannya bukan hanya orang-orang Wamena tapi seluruh Indonesia, karena HIV sudah menjadi masalah nasional. Di sini saya tidak ingin membuatnya menjadi gelap, justru ingin memperlihatkan kasih harapan, toleransi dan penerimaan. Karena bukan berarti orang yang kena HIV adalah orang jahat atau kena kutukan atau karma.”

Penggambaran yang seperti apa yang nanti Anda suguhkan?
“Saya membuatnya lebih nge-pop, lebih mudah dicerna, bukan sesuatu yang suram. Saya juga ingin mengikis anggapan miring (bahwa orang HIV adalah orang jahat, kena kutukan atau karma) agar masalah ini dapat diatasi bersama-bersama.”

Bagaimana proses produksinya?
“Film ini adalah film yang prosesnya sangat cepat sekali, risetnya mulai Desember 2009 lalu Januari balik kesana lagi untuk cari lokasi dan casting, dan di bulan Februari kita sudah mulai syuting.  Syutingnya berlangsung lima belas hari di Wamena dan tiga hari di Jakarta.”

Kenapa memilih Nicholas Saputra untuk bermain di film ini?
“Saya rasa Nico yang paling pantas untuk berperan sebagai Daniel, menjadi penyanyi, pembawaan yang cool, dan saya berpikir disini ia tampil berbeda. Dari awal saya langsung berpikir jika karakter tersebut sangat cocok banget  dengan dia.”

Apa saja kendalanya?
“Cuaca sebenarnya cukup bersahabat, tapi karena di sana kalau siang itu panas banget dan malam dingin banget, jadi saat menjelang minggu terakhir syuting banyak kru dan pemain banyak yang ngedrop. Tentu kesulitan dengan pemain yang 80% asal Wamena, karena persiapannya sangat cepat, apalagi ada beberapa kandidat pemain yang kesulitan membaca skenario karena memang tidak bisa membaca, tapi mereka tampil sangat luar biasa banget, saya dapat berkah dari mereka.”

Yang paling berkesan setelah Anda syuting?
“Mereka sangat luar biasa, masalah komunikasi saya harus dengan aksen daerah sana, bahasanya juga beda, banyak yang harus diadaptasi, karena saat syuting di Jakarta pun aksen dan bahasa yang saya pakai masih terbawa daerah sana.”

Setelah syuting apakah ada yang berubah dari kehidupan Anda?
“Secara pribadi jadi lebih menghargai kesempatan yang datang pada saya dan lebih menghargai hidup. Semuanya menginspirasi saya, jadi lebih tahu ada hal-hal di luar, ada pemandangan yang bagus di luar sana, dan mensyukuri apa yang ada.”

Kenapa Anda tertarik untuk menggarap film ini?
“Pada dasarnya saya tertarik tentang HIV, keleluasaan saya untuk mengangkat culture dan kehidupan mereka, logika kehidupan mereka yang lucu dan ajaib buat kita padahal sebenarnya buat mereka biasa saja. Saya juga mendapat keleluasaan “berkarya” tanpa ada intervensi yang terlalu besar. Lokasi syutingnya yang di daerah, karena kalau kita membuat film daerah di daerah Indonesia mana pun buat saya nilai lebih, karena kita bisa mengangkat sesuatu yang belum diangkat orang lain dan karena sesuatu yang ingin saya angkat. Yang jelas saya suka mengeksplor sesuatu yang baru dan penting.”

Saat ini sudah sampai mana proses produksinya?
“Masih proses editing, dan masih ada proses audio mixing."

Kapan rencana tayangnya?
“Rencananya akan tayang untuk menyambut hari AIDS 1 Desember 2010 nanti.” (eM_Yu)
 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON