Mathias Muchus : Jadi Sutradara Tanpa Alih Profesi

 

Setelah lama berkecimpung di dunia film dengan berbagai peran yang dimainkan, aktor senior Mathias Muchus mencoba banting stir dengan menjadi sutradara. Bersama Mizan Production, suami dari Mira Lesmana itu akan menggarap film berjudul Rindu Purnama. Film yang dibintangi oleh Teuku Firmansyah, ...

23 Juni 2010
Posted By: Erfanintya M. P.

Setelah lama berkecimpung di dunia film dengan berbagai peran yang dimainkan, aktor senior Mathias Muchus mencoba banting stir dengan menjadi sutradara. Bersama Mizan Production, suami dari Mira Lesmana itu akan menggarap film berjudul Rindu Purnama.

Film yang dibintangi oleh Teuku Firmansyah, Titi Sjuman, Ratna Riantiarno, Pietrajaya Burnama, Ririn Ekawati, dan Salma Paramita itu digarap dengan memakan waktu 40 hari syuting. Untuk melihat langsung proses syuting film tersebut, kami pun menyambangi lokasi syuting yang saat itu dilakukan di Taman BMW, Tanjung Priuk (22/06) dan mewawancarai sang sutradara yang tidak akan meninggalkan profesi aktornya.

Bisa dikatakan bahwa film ini kali pertama Anda duduk sebagai sutradara?
“Kalau sutradara film iya, tapi sebenarnya saya sudah pernah jadi sutradara pada waktu jamannya TVRI dan pada awal-awal RCTI muncul. Bukan sutrdara film melainkan sutradara video klip. Waktu itu saya buat beberapa kali, yang pertama kali adalah video klip Indra Lesmana, lalu ada Sophia Latjuba dan Adegan. Jadi dunia sutradara bukan hal yang baru buat saya.”

Tapi apakah bisa dibilang ini  adalah lompatan besar untuk Anda dari seorang aktor menjadi sutradara?
"Ini adalah perkembangan dari proses kreatif. Seorang pemain juga mempunyai sense of directing dalam dirinya. Pemain selalu mendirect dirinya sendiri dalam setiap proses keaktorannya. Sebenarnya bukan lompatan yang besar, ini hanya lompatan pertahapan saja dan bukan berarti puncak dari kerja kreatif saya tapi jadi semacam luapan akumulasi emosi yang terpendam. Hanya kesempatannya saja yang datang tahun ini.”

Menurut Anda apakah setiap aktor punya potensi untuk menjadi sutradara?
“Ya, setiap pemain mempunyai potensi untuk menjadi sutradara, karena hubungannya sangat dekat sekali. Suatu nilai plus jika sutradara berangkat dari seorang pemain (aktor –Red). Saat menjadi sutradara, pendekatan secara emosionil akan terjadi dengan pemainnya, karena sutradara tersebut bisa merasakan apa yang dirasakan oleh pemainnya.”
 
Memang sebelumnya pernah ada yang menawarkan Anda  menjadi sutradara?
“Tawaran sudah ada sebelumnya, tapi waktu itu memang schedule-nya saja saya nggak dapat, karena saya syuting yang tidak pernah putus.”
 
Apa pertimbangan Anda menjadikan film Rindu Purnama ini menjadi film garapan perdana Anda?
“Orang-orangnya sudah saya kenal, Mizan bukanlah orang baru karena sudah bekerjasama dengan Miles pada film-film sebelumnya. Mereka sangat terbuka, unsur pertemanannya sangat kuat, jadi saya tidak melihat Mizan sebagai rumah produksi yang kaku, proses kreatifnya sangat demokratis, tidak sepihak, tidak otoriter.”
 
Berawal dari mana ide cerita Rindu Purnama?
“Ide ceritanya dari Pak Haidar, lalu dikembangkan Ifa Isfansyah menjadi skenario dengan menceritakan tentang seorang anak jalanan yang menderita amnesia setelah kecelakaan kemudian dirawat oleh seorang pengusaha baik hati. Ceritanya simple namun sangat fundamental."
 
Setelah 3 minggu Anda menjalani syuting, apakah menemukan kendala?
"Ada tiga adegan yang sulit dan cukup massal, saat scene penggusuran, dengan 300 orang extras ada escavator, Satpol PP, lalu adegan acara pernikahan di lorong panjang mereka yang sebanyak 250 orang arak-arakan dengan kostum warna-warni. Adegan-adegan tersebut membutuhkan ekstra tenaga dan pikiran.”
 
Apa tanggapan Mira saat tahu Anda menyutradarai sebuah film?
"Dia senang melihat saya menjadi sutradara, tapi jika melihat dari senyumnya sepertinya dia senang kalau saya hanya menjadi sutradara saja (tidak sebagai aktor lagi –Red), mungkin….” 

Menyandang nama sutradara tentunya tidak dapat dipungkiri bayang-bayang nama istri Anda, Mira  Lesmana sebagai orang yang sukses dengan karya-karyanya?
“Buat saya nggak masalah, sebelum ia lahir di dunia perfilman saya sudah lahir duluan dan nama saya sudah besar duluan, hahaha… Sebenarnya bukan itu persoalannya, dia dan saya sangat profesional, kita bekerja sesuai profesinya masing-masing, saling menghormati, saling mengerti, dan saling support.”
 
Apakah Anda merasa terbebani dengan nama besar istri Anda tersebut?
“Ya nggaklah, saya sama sekali nggak ada beban, nggak ada pressure, buat saya semuanya mengalir gitu saja, semuanya sudah ada posisinya masing-masing. Jadi ke depannya senyum-senyum saja. Tapi yang paling hakiki adalah saya mengerjakan film ini dengan bekerja keras, serius, persiapan yang matang. Tugas saya hanya menjadikan film ini sebuah tontonan yang baik.”
 
Bagaimana dengan proses pemilihan pemain?
“Saat proses casting saya terlibat, begitu pula saat proses kreatif saya terlibat lebih dari 50%, karena bagaimanapun juga nanti yang mengerjakan saya. Saya lebih melihat unsur proporsionalnya dan saya lebih banyak ke pertimbangan artistiknya. Kenapa Tengku Firmansyah? karena saya ingin membuat tokoh yang kaku dan secara look bisa kelihatan.  Begitu juga dengan Ririn, ketika ia dipakaikan jilbab, maka orang yang melihat wajahnya bisa merasa teduh. Lalu dengan Titi saya melihat, ia sudah menuju ke era keaktoran. Ia harus dikasih kesempatan untuk mengeksplorasi aktingnya, jangan melulu ia berperan sebagai orang yang tertindas ataupun orang bagus terus. Di sini ia kita kasih peran yang belum pernah ia lakukan, inilah tantangan untuk Titi, ia harus kerja keras untuk itu dan itulah nilai plusnya.”
 
Apa di sini Anda turut berakting?
“Tadinya pihak produser meminta saya memainkan tokoh yang diperankan oleh Tengku Firmansyah, tapi saya pikir-pikir karena film ini cukup serius, butuh konsentrasi, dan energi yang besar saya putuskan untuk konsen di sutradara saja. Karena ini (seperti) taruhan, kalau saya sudah kerja maksimal tapi nggak diterima sama masyarakat saya nggak sakit hati, tapi kalau saya bagi dua pekerjaan dengan menjadi sutradara dan pemain takutnya nanti nggak maksimal, lalu kalau sampau filmnya nggak diterima masyarakat pasti saya menyesal. Mungkin nanti di film kedua atau ketiga.”
 
Apakah dengan film perdana ini menandakan bahwa Anda meninggalkan dunia keaktoran?
“Saya nggak akan alih profesi, yaa... seperti Clint Eastwood, Mel Gibson yang membuat film namun tidak meninggalkan dunia keaktorannya.”

Apa kriteria Anda dalam menggarap sebuah film?
“Kriterianya harus membebaskan saya menafsirkan apa yang harus saya kerjakan, ada pesan yang disampaikan, ada manfaatnya, dan ada nilai artistiknya, karena saya ingin membuat film dengan benar agar filmnya bisa menjadi sejarah." (eM_Yu)
 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON