
Mira Lesmana : Pilih Musisi Untuk Sang Pemimpi

Kesuksesan Film Laskar Pelangi dengan menyabet 5 penghargaan Indonesian Movie Awards 2009 dan yang sempat unjuk gigi di berbagai festival film internasional seperti Berlin International Film Festival 2009 dan Udine Far East Film Festival 2009 tentunya sebuah prestasi yang layak untuk film yang mampu menyedot perhatian hingga 4,6 juta penonton bioskop, memecahkan rekor box office nasional dengan jumlah penonton terbanyak. Menyusul kesuksesan Laskar Pelangi, film produksi Miles Films dan Mizan Production ini tengah diproduksi untuk film sekuelnya. Tentunya masih mengadaptasi lewat novel karya Andrea Hirata, Sang Pemimpi. Untuk mengetahui proses produksi film yang akan tayang 17 Desember 2009 ini kami pun menyambangi Mira Lesmana di kantornya Miles Films yang baru saja pindah di daerah Bintaro, Jakarta Selatan.
Proses produksi Sang Pemimpi sudah sampai mana?
“Sekarang sudah mencapai 75 persen, sisanya tinggal proses negative cutting di Bangkok, proses grafis dan mixing.”
Bagaimana dengan proses syutingnya? Apakah mengalami kendala?
“Kami syuting selama 43 hari, kendalanya hampir tidak ada. Jika di Laskar Pelangi kita punya kendala dengan cuaca yang selalu hujan, di Sang Pemimpi meskipun sempat hujan tapi masih bisa teratasi. Sedangkan untuk dilokasi kita beruntung orang-orang Belitung sangat welcome dengan kedatangan kami, dan mungkin karena hampir 90% kru yang kami pakai sama ketika Laskar Pelangi, semua kendala di Sang Pemimpi langsung bisa teratasi.”
Siapakah saja kah yang terlibat sebagai pemainnya? Apakah masih ada pemain dari Laskar Pelangi?
“Dari Laskar Pelangi masih ada Zulfani sebagai Ikal 'Kecil', Mathias Muchus dan Rieke Dyah Pitaloka sebagai orangtua Ikal. Peran Ikal, Arai dan Jimbron 'Remaja' dimainkan oleh pendatang baru asli Belitung, yaitu Vikri Septiawan, Ahmad Syaifullah, Azwir Fitrianto, dan Sandy Pranatha sebagai Arai 'kecil'. Turut terlibat juga Nugie sebagai Pak Balia, Ariel Peterpan sebagai Arai 'dewasa', Landung Simatupang sebagai Pak Mustar, Maudy Ayunda sebagai Zakiah Nurmala, Yayu Unru sebagai Bang Rokib, Jay Widjajanto sebagai Bang Zaitun.”
Ariel dan Nugie adalah musisi, kenapa Anda memilih mereka?
“Saya mencari karakter wajah yang sesuai, karena mencari aktor yang berumur 28 sampai 30 itu sangat sulit dan limited, sebut saja paling kita hanya punya Fauzi Baadila, Nicholas Saputra, Winky Wirawan, Oka Antara. Saya punya kebiasaan jika kalau sudah mentok nyari pemain dengan aktor, saya beralih ke musisi. Dan menurut saya musisi sudah terbiasa tampil di depan umum dan di depan kamera. Dengan menampilkan musisi tersebut saya ingin memberi warna dalam film ini.”
Apakah Anda memang sudah cukup tahu kualitas akting mereka?
“Sebenarnya dengan Nugie saya sudah kenal cukup lama, ketika dia main mini seri Enam Langkah, produksi Miles sebanyak 13 episode. Di film ini Nugie berperan sebagai Pak Balia seorang guru muda yang inspiratif dan bersemangat. Nugie itu sangat serius, dedikatif, dan fun. Ia sangat excited dengan alam Belitung.”
Lalu dengan Ariel?
“Untuk Ariel, saya baru kenal dengannya ketika terlibat di film ini. Ia berperan sebagai Arai dewasa. Ariel sangat antusias untuk bermain di sini meskipun pada awalnya Ariel merasa ragu saat syuting, tapi kami berikan kepercayaan penuh bahwa ia bisa berakting dengan baik seperti ketika proses casting. Dan hasilnya saya sangat puas dengan akting mereka berdua.”
Apakah sebagai daya tarik juga?
“Sebagai daya tarik penyanyi memang tidak kami pungkiri, tapi itu bukanlah hal yang utama, kami juga tidak berusaha menjualnya, karena kami akan memperlakukan para pemain dengan sama karena mereka juga memberikan kontribusinya yang sama juga.”
Bagaimana cara mengadaptasi sebuah novel kedalam sebuah film?
“Dalam mengadaptasi sebuah materi kami tidak melakukan seratus persen apa yang tertulis, kami menyesuaikannya. Andrea adalah penulis dan kami (Mira dan Riri Riza) adalah sineas, pastinya akan berbeda proses penyampaiannya. Tapi kami beruntung memiliki seorang Andrea Hirata. Karena ia justru mendukung dan mengharapkan kami saat menuangkan novelnya kedalam film ada sesuatu hal yang baru atau berbeda. Ia menginginkan perspektif seorang sineas masuk dalam menginterpretasikan bukunya. Yang penting esensinya tidak ada yang hilang.”
Prosesnya seperti apa?
“Untuk skenario saya duduk bertiga dengan Riri dan Salman Aristo untuk brain storming. Kami sudah khatam dengan novelnya, kami singkirkan novelnya, lalu kami mengeksplor bersama-sama angle-angle mana yang menarik dan mana yang harus dilepas.”
Kabarnya Sang Pemimpi akan menjadi film pembuka JIFFest 2009?
“Ya, kami diminta oleh pihak JIFFest untuk membuka acara tersebut dengan film Sang Pemimpi, padahal waktu itu proses syuting belum dimulai, tapi mereka yakin jika film memang pantas untuk membuka festival tersebut. Dan ini merupakan penghargaan buat kami.”
Dengan berbagai penghargaan yang sudah diraih oleh Laskar Pelangi, apakah menjadi beban bagi Sang Pemimpi untuk mendulang kesuksesan?
“Saya dengan Riri sudah punya tombol sendiri untuk melepas beban. Karena kami membuat film bukan untuk menjadi film tersebut meraih penghargaan, atau melihat tren film yang sedang digemari oleh penonton. Kami membuat film berdasarkan dari hati kami, ada sesuatu yang ingin kami sampaikan lewat film. Dengan prinsip seperti itu kami punya tombol untuk melepas beban, dalam arti kami siap menerima segala resiko."
Kans mendapat penghargaan di film Sang Pemimpi?
“Buat saya award itu adalah bonus, justru penghargaan tertinggi adalah ditonton oleh banyak orang, dalam artian bukan berarti ditonton banyak orang, saya akan mendapatkan uang yang banyak. Tapi kita lihat, jika semakin banyak ditonton orang, berarti film kita direspon, dicintai dan bahkan yang lebih jauh lagu bisa berdampak terhadap pola pikir yang inspiratif terhadap orang banyak. Dan bukan berarti penghargaan itu tidak penting, bagi saya itu juga motivator, dan sebagai ajang unjuk gigi untuk Indonesia disetiap festival dunia.” (eM.Yu)


Revalina S. Temat: Tak Mau Terpaku Dengan Protagonis
Aurelie Moeremans : Makin Mantab di Dunia Akting
Mathias Muchus : Jadi Sutradara Tanpa Alih Profesi
Rano Karno : Kolaborasi Dengan Anak Muda
Lasja Fauzia : Inspirasi Dari Nyanyian Lembah Baliem
Menebus Impian Road Show to Bandung
Behind The Scene : 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta
Viky Sianipar : Butuh Minimal Satu Bulan
Putut Widjanarko : Selalu Dari Novel Ke Film
Chitra Subiyakto : Memanjakan Mata Penonton