MORE
Raditya Dika Masih Setia Menantang Diri di Dunia Komedi
Gunawan: Bermodal Mimpi Menuju Hollywood
Benni Setiawan: Film Madre Digarap Penuh Rasa Layaknya Sebuah Roti
Marcella Zalianty Menantang Diri sebagai Sutradara
Mike Wiluan: Optimis Film Indonesia Bisa Bersaing dengan Hollywood
Idris Sardi: Sang Maestro yang Ingin Selalu Dikalahkan
Film Sang Kyai Jawaban Rako Prijanto Tentang Asli Indonesia
Kisah Mistis di Balik Syuting Film Rumah Kentang
Impian Eru Terwujud di Film Hello Goodbye
Garin Nugroho Berjudi di Film Soegija
Otong
Ada pemandangan yang tidak biasa di film terbaru dari Nayato Fio Nuala, 18+. Meskipun film yang dikategorikan sebagai film drama percintaan, namun tampak band yang mengusung musik industrial, Koil, hadir dengan live performance-nya. Ditemui saat selesai tampil didepan puluhan para wartawan ...
29 Januari 2010
Posted By: Erfanintya M. P.
Ada pemandangan yang tidak biasa di film terbaru dari Nayato Fio Nuala, 18+. Meskipun film yang dikategorikan sebagai film drama percintaan, namun tampak band yang mengusung musik industrial, Koil, hadir dengan live performance-nya.
Ditemui saat selesai tampil didepan puluhan para wartawan dalam acara Press Conference 18+ yang diadakan di Cafe Planet Hollywood Jakarta, 26 Januari 2009. Setelah membawakan lagu Kenyataan Dalam Dunia Fantasi dan Aku Lupa Aku Luka, kami pun menemui band yang dikomandoi oleh J.A. Verdijantoro atau yang akrab disapa Otong ini.
Dengan kostum yang serba hitam, Otong menyambut kami dengan senyum serta logat sundanya yang khas. Inilah petikan wawancara yang berhasil kami rangkum.
Sebagai band yang identik dengan musik keras, kenapa Koil bisa menjadi soundtrack film 18+?
“Ini sih permintaan dari Nayato sebagai sutradara, sebelumnya lagu kami pernah juga masuk sebagai soundtrack filmnya yang berjudul Kereta Hantu Manggarai dan 12.00 Am, yang beda sekarang adalah Koil tampil dalam film dengan live performance di panggung”.
Apa ada perbedaan saat manggung atau syuting video klip dengan syuting film?
“Hampir sama, karena gambar yang diambil saat kami manggung. Tapi yang beda saat syuting dengan sutradara gila ini, kami cuma syuting 2 jam, beda dengan video klip, dan cara kerja Nayato itu profesional banget, ditambah dengan kru yang bisa diajak kerja sama”.
Memang sudah berapa kali Koil masuk dalam soundtrack film?
“Sebelumnya pernah masuk dalam film Kuntilanak 2 dan Fear”.
Sebagai band yang dianggap mempunyai musikalitas yang bagus, apakah Koil mempunyai kriteria khusus untuk ikut dalam sebuah soundtrack film?
“Kami tidak pernah memilih film apa yang bisa pakai lagu kita untuk menjadi soundtrack. Yang penting pas aja bayarannya...hahaha. Nggak lah, kami suka kalo lagu kami menjadi soundtrack. Bahkan lagu kami pernah dipakai untuk sinetron. Lagi pula jika bicara kualitas band atau film yang bagus itu relatif karena masing-masing punya pandangan yang berbeda”.
Relevansi antara musik dan film menurut Anda?
“Kita hidup di Indonesia, menurut saya hal yang paling baik adalah para pelaku musik dan film, dan yang membangun bangsa ini adalah seniman”.
Film seperti apa yang Koil inginkan untuk mengisi soundtrack?
“Film seperti Ada Apa Dengan Cinta, pokoknya film yang meledak lah..hahaha”.
Anda sendiri suka dengan film apa?
“Saya suka Sword Fish-nya John Travolta, Bitch Slap, film-film Jepang yang berdarah-darah kaya kepala yang dipenggal, buat saya itu menghibur. Pokoknya saya sukalah sama film-film tentang penipuan, konspirasi, dan nggak jelas, hahaha. Tapi saya nggak suka dengan film yang menjual keluguan anak”.
Apa rencana kedepan untuk Koil?
“Bulan Februari ini rencananya kami akan merilis album Blacklight Shines On Repackage dengan 2 lagu baru dan 4 lagu remix”. (eM.Yu)




