Pandu Adiputra Sajikan Pahlawan Non Garis Depan Lewat Moonrise Over Egypt

 

  Satu lagi film tentang tokoh bangsa akan segera rilis di bioskop berjudul Moonrise Over Egypt. Layar lebar tersebut mengisahkan tentang perjuangan H. Agus Salim dan kawan-kawannya untuk meminta pengakuan de jure dari Perdana Menteri Mesir, Mahmud Fahmi El Nokrashy Pasha ...

Posted By: Alit Bagus Ariyadi, 19 Maret 2018
pandu adiputra ...
 
Satu lagi film tentang tokoh bangsa akan segera rilis di bioskop berjudul Moonrise Over Egypt. Layar lebar tersebut mengisahkan tentang perjuangan H. Agus Salim dan kawan-kawannya untuk meminta pengakuan de jure dari Perdana Menteri Mesir, Mahmud Fahmi El Nokrashy Pasha pada tahun 1947.
 
Pandu Adiputra, selaku sutradara film tersebut menjelaskan, Moonrise Over Egypt berbeda dengan layar lebar serupa yang juga menampilkan tokoh besar bangsa Indonesia. Di sini, ia coba menunjukkan seseorang yang berjasa sangat besar terhadap negara lewat jalur diplomasi.
 
Sesuai dengan judulnya, layar lebar produksi TVS Films ini melakukan proses syuting di Mesir dan mencoba menampilkan kembali nuansa di era tahun 1947. Hal itu tentu tidaklah mudah, ditambah lagi dengan minimnya informasi mengenai gestur serta sifat khas dari sosok H. Agus Salim. Sebelum tayang di bioskop pada 22 Maret 2018, tim 21Cineplex.com sempat berbincang-bincang dengan Pandu, perihal Moonrise Over Egypt di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan. Berikut adalah hasil wawancaranya:
 
 
Bagaimana awalnya ide untuk memproduksi film Moonrise Over Egypt?
"Awalnya saya dan Amir Sambodo ngobrol serta diskusi untuk bikin cerita tentang H. Agus Salim. Sempat muncul perdebatan apakah kita mau buat sebuah film jalan hidup atau yang lainnya. Akhirnya kami sepakat, mengangkat satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang berkaitan dengan sosok H. Agus Salim. Setelah itu kita riset untuk menampilkan kejadian di Mesir pada tahun 1947 karena tidak banyak di ekspose dan minim literaturnya."
 
Kenapa pilih cerita dari sosok H. Agus Salim?
"Menurut saya dia one of a kind ya, salah satu sosok tokoh bangsa yang unik karena punya keahlian yang luar biasa tentang kemampuan diplomasi, ilmu bahasa, agama, dan ilmu pasti. Film tokoh bangsa saat ini lebih banyak di bagian garis depan atau ranah fisik, kita mau buat layar lebar sejarah yang framenya beda, yaitu lewat jalur non fisik seperti diplomasi. Buat kita ia (H. Agus Salim) adalah sosok yang perlu diceritakan."
 
Riset bagaimana?
"Ada dari buku, kalau keterangan keluarga mungkin agak sulit yang persis tahu karena rata-rata sudah keturunan ketiga. Ada sih, tapi nggak terlalu valid namun kami di bantu banyak pihak yang tahu tentang sejarahnya."
 
Kenapa film ini banyak melibatkan pemain baru?
"Dari awal kita sepakat nggak tunjuk pemain sebagai si A atau yang lainnya karena kami buka sistem open cast. Jadi spirit perjuangannya sebelas dua belas dengan kisah filmnya. Dulu juga H. Agus Salim dan kawan-kawannya seperti Abdurrachman Baswedan, Mohammad Rasjidi, dan Nazir Sutan, belum banyak yang kenal namun mereka berani melakukan langkah yang besar. Di sini pemain sadar dengan tanggung jawab yang di emban serta jangan terjebak dengan euforia kalau mereka sekarang sudah menjadi aktor film."
 
Pritt Timothy selaku pemeran H. Agus Salim apakah dituntut untuk melakukan riset seperti mempelajari gestur dan sebagainya?
"Jujur kita minim referensi. Ketika kita gali seperti apa Agus Salim berjalan, nggak banyak yang bisa kasih tahu rupa selain cirinya. Dia walau pakai tongkat tapi jalannya nggak pernah pelan. Kita sama-sama berkarya di sini karena semuanya adalah hasil dari informasi-informasi yang kita dapat."
 
Apakah ada rambu-rambu tertentu dari pihak keluarga/keturunan H. Agus Salim yang harus dipenuhi di film ini?
"Sejauh ini keliatannya itu nggak terlalu jadi isu besar. Mungkin rambu-rambunya lebih kaya mengingatkan, ada satu input dalam sebuah adegan Agus Salim menangis. Saya dapat informasi beliau nggak pernah terlihat nangis. Tapi argumen kami, mungkin saja beliau nggak pernah menangis di depan orang tapi kita nggak tahu ketika ia sedang sendirian. Tetap kami memohon maaf, dari awal sudah sampaikan jika hasilnya kurang memenuhi ekspetasi dari kerabat dan pengamat sejarah. Sekali lagi di sini spiritnya bukan menggampangkan, tapi niat ingin bercerita bahwa ada kisah maha penting kepada generasi muda, dulu ada 4 orang negarawan kita minim modal yang kiranya hanya 2 minggu di Mesir menjadi 4 bulan dan nggak ada gadget serta komunikasi seperti sekarang. Ketika filmnya sudah ditonton publik kami sangat menerima jika ada masukan-masukan."
 
Kenapa judulnya menggunakan bahasa Inggris?
"Dari desain awal memang berangkat dengan judul bahasa Inggris. Sebelumnya adalah The Grand Old Man ketika masih draft satu, itu adalah panggilan sakral Agus Salim dari Bung Karno. Tapi tanggung jawab kita semakin besar kalau pakai itu karena harus cerita tentang H. Agus Salim. Sedangkan di sini kita mengisahkan dia sebagai bagian dari ceritanya. Moonrise itu filosofinya adalah penanda hari baru dalam Islam kan bulan bukan hari. Jadi, ini ada hari baru bagi Indonesia di Mesir."
 
Apa yang sebenarnya ingin Anda tawarkan lewat film ini?
"Yang utama saya berharap pesan moralnya bisa sampai. Kisah tentang misi Agus Salim ini dampaknya besar sekali salah satunya buat saya sebagai sineas. Berawal dari sana kita bisa diakui sebagai negara berdaulat dan karya kita diakui internasional. Bayangkan kalau kita berkarya tapi negaranya nggak dianggap ada. Itu pesannya kenapa orang harus nonton. Ini adalah hasil perjuangan mereka yang buat kita lebih mudah dan nggak ada batas. Tapi H. Agus Salim dan kawan-kawannya menjalanin tugas itu tidak seenak kaya kita sekarang. Misi yang seharusnya jadi 2 minggu jadi 4 bulan, Abdurrachman Baswedan membawa hasil dari Mesir itu ke Indonesia juga lebih gila lagi, sampai diumpetin ke kaos kaki hingga singgah ke Singapura. Sekali lagi saya berharap pesannya bisa sampai ke generasi muda, sekarang kita bisa go internasional itu ada sejarahnya."
 
Ada rencana Moonrise Over Egypt tayang di luar negeri?
"Ya, paling dekat tanggal 21 April nanti akan tayang di Australia. Kabar terakhir menyusul Hongkong, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Sejak offline kita memang sudah ada komunikasi dengan Australia, jika reaksinya bagus maka layar akan ditambah. Selain itu film ini juga ada rencana tayang di London serta Perancis."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON