Sutradarai Dreams, Guntur Soeharjanto Ingin Berdakwah Lewat Film

 

  Guntur Soeharjanto belakangan ini dikenal sebagai seorang sutradara spesialis film religi. Di film terbarunya yang bergenre drama berjudul Dreams pun, dirinya masih memasukkan nilai-nilai agama di dalamnya. Lantas, apa sebenarnya yang memotivasinya untuk konsisten dan nyaman di genre film tersebut?.    Pada ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 02 Maret 2016
Guntur Soeharjanto
 
Guntur Soeharjanto belakangan ini dikenal sebagai seorang sutradara spesialis film religi. Di film terbarunya yang bergenre drama berjudul Dreams pun, dirinya masih memasukkan nilai-nilai agama di dalamnya. Lantas, apa sebenarnya yang memotivasinya untuk konsisten dan nyaman di genre film tersebut?. 
 
Pada hari Senin (1/3) sore kemarin di The Lounge Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, kepada tim 21cineplex.com Guntur membeberkan alasanya. Ia juga berbagi pengalamannya terkait penggarapan film Dreams yang mengangkat kisah perjuangan Fatin Shidqia Lubis dalam meraih mimpinya menjadi seorang penyanyi. Berikut adalah petikan wawancaranya. 
 
Dari mana awalnya muncul ide mengangkat kisah Fatin menjadi film?
"Sebenarnya dari Sony Music sih, Pak Alex. Terus diskusi pengen bikin film, tapi bukan film menyanyinya sebenarnya, tapi lebih ke X-Factornya. Jadi, buat Sony ini salah artis yang sangat unik gitu, karena backgroundnya orang biasa, dari kampung, terus wajahnya juga mungkin ya tidak begitulah. Tapi apa sih yang membuat dia menjadi pemenang X-Factor? kita coba gali dari mana potensi orang ini kok bisa menjadi seorang pemenang, kayak gitu. Biasanya kan orangnya udah punya basic memang orang yang lumayan settle, terus punya proses menyanyi di belakangnya juga udah latihan, kayak gitu-gitu kan. Nah di sini, orang dari kampung, berjilbab, bukan siapa-siapa, tiba-tiba dia menang. Itu yang kita coba gali, artinya ada tim riset kita ngikutin bagaimana sih kehidupan dia, terus akhirnya beberapa kita tuangkan di film ini." 
 
Tapi setelah lihat filmnya tadi, kompetisi X-Factor itu kan diganti dengan nama lain. Lantas, bagaimana dengan adegan-adegannya? apakah dibuat fiktif juga?
"Ada sih beberapa (yang) nyata, kayak tadi dia (Fatin) lupar lirik, kan sempet ada ya di X-Factor, terus kompetitornya cewek. Kita coba remind ke penonton juga sih, buat yang memang suka Fatin mungkin akan me-remind 'oh waktu itu seperti itu'. Bahkan, nomor ID-nya juga sama." 
 
Kalau untuk karakter-karakter lain yang berhubungan dengan Fatin bagaimana? Seperti Ayah, Ibu dan sahabat-sahabatnya, itu nyata atau tidak?
"Kurang lebih gambaran kehidupan personalnya Fatin seperti itu ya. Keluarganya, Bapaknya juga Guru, kan?. Tapi, beberapa cerita sih kita coba bikin ya. Ini kan sebuah fiksi ya, tapi platformnya, karakter-karakter keluarganya memang sangat Islami, itu sih yang coba kita dekatkan."
 
Fatin itu kan backgroundnya penyanyi, bukan aktor. Bagaimana melatihnya untuk berakting?
"Kita ada workshop dua bulan sama Bang Yayu waktu itu. Dengan kesibukan mereka masing-masing, pas lah dua bulan, tapi nggak tiap hari, ada yang kosong. Lumayan intensif, karena semua pemainnya kan (rata-rata) pemain musik. Cuma ya gitu, memang lumayan lelah. Cuma Insya Allah bagus ya hasilnya." 
 
Setelah melihat hasil Fatin berakting bagaimana? Apakah menurut Mas Guntur ia punya masa depan di industri film?
"Proses ya, semua orang kan butuh proses. Saya yakin proses itu mungkin (menentukan) akan membuat dia bener-bener jadi aktris atau justru nggak. Semuanya musti berproses, nggak sekali jadi. Ya ini pertama kali, debut dia, pasti banyak kekurangan juga. Kalau dia masih mau berusaha, semoga bisa lebih baik, lebih baik, lebih baik (lagi)." 
 
Di film ini ada konflik berbau religi, apakah Dreams juga ingin disebut film reliji?
"Saya sih nggak bilang film (Dreams) religi ya. Tapi mungkin berangkat dari sisi relijius, iya. Ya kita coba bikin bahwa kehidupan yang dekat dengan Fatin ya itu sebenernya. Rumahnya dekat Mushola, ngajar ngaji anak-anak, kayak gitu-gitu. Kita coba deketin dari situ. Nah, kemudian kita kembangkan peristiwa-peristiwa yang bisa membuat film ini ter-enhance." 
 
Kenapa memilih Morgan Oey lagi di film Mas Guntur?
"Ya kebetulan setelah saya baca, saya butuh karakter luar yang bisa masuk dan mencoba untuk nge-blend, ya. Ini cocok buat Morgan Oey dan kebetulan waktu itu saya telepon dan dia available, ya udah kita main lagi."
 
Kenapa setelah film 99 Cahaya di Langit Eropa lebih sering tampilkan perempuan berhijab dan buat film religi?
"Masing-masing sutradara punya sebuah keinginan untuk membuat sebuah karya, gitu kan. Saya sih kebetulan Insya Allah ingin istiqomah, karena apa sih yang kita cari di dunia ini?. Insya Allah ambil jalur relijius buat saya adalah suatu cara buat dakwah, which is itu siapapun yang mau nonton, apapun komentarnya, tapi saya pribadi pengen mencoba bahwa lewat media ini saya bisa berdakwah. Ya kebetulan saya muslim, ya lewat Islam-lah saya berdakwah."
 
Berarti kedepannya akan terus ambil genre religi atau bagaimana?
"Selama itu positif dan tidak keluar dari norma-norma agama yang saya anut, Insya Allah saya bikin. Itu sih yang coba fokus di situ. Religi kan nggak harus kolot ngaji, berjilbab. Makanya, selama masih ada nilai positif, apapun mediumnya sih, Insya Allah saya bikin, asal tidak keluar dari norma-norma tadi." 
 
Dengar-dengar akan menggarap sekuel  film Negeri 5 Menara (2011). Sudah sejauh mana proses penggarapan ?
"Sekarang lagi development kretif, (tulis) naskah. Kita nggak buru-buru juga, nggak pengen salah, pengen hati-hati sih, nggak yang buru-buru banget."  
 
Untuk pemainnya dengar-dengar sudah merekrut Isyana dan Dimas Aditya?
"Masih on paper, kita masih coba godok lagi, kita coba pertimbangkan lagi seperti apa. Belum lock semuanya sih." 
 
Akan syuting di mana saja rencananya?
"Syutingnya ngikutin novelnya sih. Ada di Kanada, ada di Jordania, ada di Indonesia. Insya Allah (syuting) target tahun ini."
 
Ada yang bilang film Indonesia sekarang banyak yang jalan-jalan tanpa mementingkan cerita. Tanggapan Mas Guntur seperti apa?
"Kebetulan yang saya bikin sih harus ada di sana (luar negeri) ya. Dari 99 Cahaya itu juga mesti di sana, karena kan yang diceritakan memang by location dan di lokasinya ada apa. Waktu di Assalamu'alaikum Beijing (2015) juga dari novelnya memang di Beijing. Jadi, kita nggak mengada-ngada. Nah, di Ranah 3 Warna juga sama, memang menceritakan di sana, ya kita harus ke sana. Jadi, nggak cuma sekedar tempelan harus ke sana, no meaning."
 
Kalau misalkan memang ada yang seperti itu bagaimana?
"Itu sih mungkin salah satu cara produser untuk menarik perhatian, mencoba menarik penonton. Saya yakin sih akan seperti itu." 
 
Setelah film Dreams ini, apa proyek film Mas Guntur selanjutnya?
"Yang lagi on editing, Jilbab Traveler sama Rapi Films. Insya Allah sih (rilis) Lebaran. Satu lagi ada sama Yayasan Kanker Payudara. Kita lagi bikin (film) juga, lagi on editing juga, Pinky Promise. Itu kan udah selesai ya, Oktober (rilis) Insya Allah, pas Hari Kanker Payudara Internasional."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON