Yandy Laurens Rela Hatinya "Hancur" Demi Keluarga Cemara

 

Keluarga Cemara bakal menjadi film panjang pertama untuk sutradara muda berbakat, Yandy Laurens. Ini adalah proyek milik Visinema Pictures yang diadaptasi dari serial tv terkenal pada era 90-an dengan judul yang sama. Yandy sendiri mulai dikenal khalayak usai film pendeknya ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 19 Desember 2018
yandy lauren ...

Keluarga Cemara bakal menjadi film panjang pertama untuk sutradara muda berbakat, Yandy Laurens. Ini adalah proyek milik Visinema Pictures yang diadaptasi dari serial tv terkenal pada era 90-an dengan judul yang sama. Yandy sendiri mulai dikenal khalayak usai film pendeknya berjudul Wan An menjadi yang terbaik di ajang Festival Film Indonesia (FFI) 2012.
 
Sama halnya dengan serial tv-nya, Keluarga Cemara menampilkan 4 karakter utama, yakni Abah (Ringgo Agus Rahman, Emak (Nirina Zubir), Euis (Zara Jkt 48) dan Ara (Widuri Puteri). Hanya saja, untuk plot cerita, film ini akan mengambil tempat jauh sebelum kisah aslinya. Ya, Anda bakal disuguhkan masa transisi kehidupan mereka yang awalnya di kota menuju desa. 
 
Alhasil, belum ada sosok Agil di Keluarga Cemara versi layar lebar ini, yang di serial tv-nya merupakan anak ketiga dari Abah dan Emak. Lantas, bagaimana pendekatan Yandy Laurens dalam meramu cerita serta menyutradarai film panjang perdananya itu? Ditemui di Lounge Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (19/12) siang Yandy berbagi kisahnya kepada tim 21cineplex.com. 
 
Bagaimana prosesnya Anda bisa ditawari untuk tangani Keluarga Cemara?
"(Awalnya) Saya jalanin beberapa project dengan Visinema Pictures, dengan Mas Angga (Dwimas Sasongko). Kita bikin iklan, dokumenter. Setelah beberapa project itu liat ada kecocokan, ada chemistry dalam bekerjasama, visinya dalam memandang film juga sama, Mas Angga menawarkan kesempatan, 'Mau nggak men-direct Keluarga Cemara?'." 
 
Kapan tepatnya tawaran itu datang?
"Itu kayaknya tahun 2016 deh, sebelum saya berangkat syuting. Kata Mas Angga saya boleh terlibat nulis, terus alasannya kenapa memilih saya karena dia percaya film ini harus di-delivery dengan pendekatan yang lebih tenang, dan Yandy orangnya. Jadi, itu hari di mana saya tahu ada seorang produser yang punya visi besar, mampu melihat jauh ke dalam diri saya, kuatnya di mana, dan merasa ini cocok kalau saya orangnya. Di hari itu juga saya tahu bahwa ini lebih dari sekedar project film panjang, tapi secara personal ada produser yang kenal dan percaya kalau saya orang yang tepat, dan oke saya terima hari itu juga." 
 
Sebelum menerima tawaran itu, apakah Anda sudah familiar dan menonton serial Keluarga Cemara?
"Waktu Keluarga Cemara tayang dulu itu saya masih SD (Sekolah Dasar) kayaknya. Jujur saya tidak nonton karena bagi anak laki-laki umur segitu kayaknya lebih menarik nonton kartun, ya nggak sih?. Tapi, glimpse bahwa ada sinetron yang penuh kearifan dan bijak segala macem itu ada dan cukup tinggal di memori. Sampai waktu penawaran tiba, yang saya coba lakukan adalah cari-cari lagi. Ternyata waktu saya nonton di Youtube, episodenya lompat-lompat. Di umur saya sekarang, suka sekali. Maksudnya menontonnya dengan kacamata umur sekian, dalam sekali." 
 
Kalau untuk aktor-aktor yang terlibat, apakah Anda ikut menentukan?
"Menurut saya Visinema memberikan desain produksi yang bisa disebut di zaman sekarang sangat termasuk mewah. Bukan karena duitnya banyak, tapi ada ruang kreatifitas yang dikasih seluas mungkin, termasuk pemilihan pemain. Jadi, kita menjalani casting dan diskusi bersama dua produser saya, Mbak Gina S. Noer dan Teh Anggi (Anggia Kharisma), dan casting director. Kita berkolaborasi luar biasa sih menurut saya. Maksudnya, casting director mengajukan nama, kadang-kadang Mbak Gina juga, kita semua ngajuin nama, kita casting-nya rame-rame. Setelah casting, kita lihat videonya, kita diskusi lagi, jadi prosesnya sangat proper. Si Emak (Nirina Zubir) bahkan kita minta dateng pakai daster dan tidak makeup."
 
Untuk para pemainnya sendiri apakah diharuskan untuk menonton serialnya atau justru dilarang?
"Kalau untuk hal itu saya sejujurnya tidak menyuruh mereka melihat, tapi tidak melarang juga. Yang saya tahu, kayaknya semua pemain mencoba menonton, bagaimana karakter yang mereka perankan dulu. Cuma memang di-treatment kita tidak ada upaya untuk bilang kayak, 'Adi Kurdi tuh dulu seperti ini lho, atau Novia Kolopaking dulu gini lho', nggak ada. Jadi, kita tahu nilainya, kita tahu bagaimana feeling-nya, dan kecenderungan karakternya, kita berusaha bangun itu di zaman sekarang."
 
Di film versi versi baru biasanya ikut melibatkan pemain aslinya sebagai cameo, kenapa di sini tidak?
"Pertimbangan produser, dan kita mau Keluarga Cemara yang nilainya klasik dari dulu, yang kita percaya itu kuat, ketika ditaro di zaman sekarang tetap relevan. Maksudnya, zaman kan berubah nih, dengan Abah di zaman dulu, jadi Abah versi sekarang. Oleh karena itu, kita ingin memberikan wajah baru Keluarga Cemara. Untuk membuktikan juga bahwa nilai-nilai yang dulu disampaikan Mas Arswendo Atmowiloto beserta seluruh tim dan pemain, kalau diwujudkan dalam wajah baru nilainya masih sama. Itu pertimbangan yang sangat personal, justru untuk mewujudkan nilai dalam Keluarga Cemara."
 
Apa kesulitan yang Anda temui dalam menangani film panjang perdana ini?
"Sebenarnya kalau ditanya kesulitan, hampir tidak ada kesulitan kalau konteksnya menyangkut ini dari sesuatu yang legendaris. Saya merasa itu justru memberi kemudahan bagi kita. Tantangannya lebih ke internal saja, bagaimana kita bisa berhasil melakukan kolaborasi dengan pemain dan kru untuk mewujudkan statement kita di film ini."
 
Apa yang paling berkesan bagi Anda saat proses produksi film ini?
"Bagi saya yang paling berkesan adalah kolaborasi dengan seluruh pemain dan kru. Sebagai sutradara baru saya beruntung mendapat kru-kru yang ada, semuanya profesional dan hebat-hebat. Juga beruntung dapet Ringgo dan Nirina dan seluruh pemain yang ada karena mereka punya jam terbang. Mungkin beberapa di antara mereka sudah ada yang berakting sebelum saya lahir. Cuma ketika kita bekerja kembali bersama, saya merasa ada semangat kembali 'nol'nya. Saya melihat Ringgo sebagai Abah seperti baru pertama kali main film. Saya pikir di hari-hari pertama, 'oh ini paling awal syuting aja'. Tapi, sampai setelah syuting mereka selalu kalau habis cut, dateng ke saya seperti pemain baru mulai akting nanya, 'Yandy, udah oke belum?'. Saya punya prinsip gini, saya sudah bikin beberapa web series, beberapa banyak yang suka. Saya percaya bahwa setiap kali kita bikin karya, entah itu film, web series, short, atau apapun, kemungkinan kita gagal mewujudkannya itu selalu 50-50. Jadi kayak tidak ada jaminan kalau dulu sukses, bikin selanjutnya bakal oke. Dan saya harap ini nilai bisa terus saya pegang untuk film selanjutnya. Yang berkesan justru begini, saya malah dapet prinsip dari pengalaman ini bahwa yang paling susah dalam berkarya itu kan harus jujur, dan untuk jujur dibutuhkan hati yang hancur. Tantangan dari hati yang hancur adalah kemuliaan atau kejayaan kemarin. Dalam proses syuting, dari persiapan sampai akhir, saya melihat orang-orang yang berkolaborasi di film ini tuh mau hatinya dihancurkan kembali untuk berkarya jujur."
 
Apa yang membuat para pemain yakin dengan Anda sebagai sutradara debutan?
"Saya nggak tahu ya, saya sebut mungkin keberuntungan. Jadi kayak Tuhan mempertemukan kita dengan pemain-pemain hebat yang mau dengan rendah hati masuk ke project. Kemarin jujur kita habis promo sempet ngobrol sama Emak dan Abah, saya nanya, 'saya kan sutradara baru, kok bisa percaya?'. Mereka bilang, 'nggak tahu ya, ketemu, ngobrol, nyambung aja gitu'. Saya percaya hidup itu lebih besar dari film. Jadi waktu ketemu sama mereka ya saya mencoba jadi orang aja, berusaha jadi temen dengan apa adanya. Maksudnya, dari saya pribadi tidak ada upaya menaklukkan hati mereka. Thanks God, mereka menyambut dengan hati dan frekuensi yang sama." 
 
Kalau boleh tahu, jika Anda mengalami hal yang sama dengan Abah dan keluarga, barang mewah apa yang bakal tetap disimpan?
"Sebenernya saya bener-bener ngalamin sih. Kelas 2 SMP itu ayah saya meninggal, dan mama itu ibu rumah tangga, jadi keadaan di rumah tergoncang luar biasa. Kita pindah rumah ke rumah yang jauh lebih kecil, mirip seperti Abah. Pas SMP saya kerjanya nganter roti ke warnet di zaman temen-temen saya semua main game online, ya saya nonton aja di belakang. Kadang-kadang habis nganter roti, hujan, nunggu dulu, naik motor kan, ya nonton orang main game. Dan dulu saya gamer sekali. Tapi waktu itu terjadi tiba-tiba hilang aja ketertarikan tentang itu. Bukan karena desperate atau sedih, tapi kayaknya nggak aja. Pertama kali kuliah di IKJ, dosen penyutradaraan saya semester dua nanya pertanyaan gini, 'apa tempat paling menyenangkan?'. Temen saya semua nulis gunung, pantai. Hanya saya yang dipilih buat dibacain di depan kelas. Saya tulis tempat paling menyenangkan buat saya adalah ketika saya pulang main basket, keringetan, nggak sempet mandi karena udah terlalu malem, saya mau tidur di suatu ruangan gede yang ada tiga kasur, di situ ada mama saya, kakak saya 2, sama adik saya, kamar gelap, hanya ada lampu dari kamar mandi, jadi remang-remang saya bisa lihat, AC-nya dingin, terlalu dingin untuk tidak pakai selimut, tapi terlalu panas kalau nggak pake, jadi pakainya setengah-setengah, dan sebelum tidur saya bisa lihat remang-remang wajah mama saya, kakak saya, adik saya, itu tempat yang paling saya rindukan. Jadi, based on true story, dari awal secara tidak sadar ada persamaan atau tidak sengaja menghidupi nilai yang Keluarga Cemara dari dulu ceritakan. Justru itu yang sangat saya rindukan, bukan kekayaan waktu bapak saya ada."
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON