22 Apr '08
Posted By:
Bulan Mei sepuluh tahun silam, Indonesia mengalami peristiwa kelam yang penuh pergejolakan di bidang ekonomi, serta politik. Dan di bidang sosial, terjadi pen-deskridit-an kepada salah satu etnis tertentu.
Dengan mengambil latar dari kejadian tersebut, Flix Pictures yang sebelumnya pernah membuat film Dealova coba menampilkan sebuah film kemanusiaan yang dibalut dalam cinta dan sejarah, bertajuk May. Ditemui dalam jumpa pers film tersebut pada Senin (22/4) malam di sebuah rumah makan di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, Viva Westi selaku sutradara dalam film ini mengaku cukup kesulitan dalam mencari sudut pandang dari kerusuhan itu.
”Tidak mudah mengambil sudut pandang dari cerita yang tidak menyenangkan,” jelas Westi. Ditambahkan oleh Westi, kesulitan yang ia hadapi tidak hanya pada penyusunan cerita yang tidak menyinggung perasaan kelompok orang tertentu, tetapi juga dalam pencarian lokasi. “Jakarta sudah berubah selama 10 tahun terakhir ini, itu sebabnya mengapa kita memilih kota Semarang sebagai pengganti lokasi yang harusnya di Jakarta,” ujar Westi yang mengaku memboyong bajaj serta segala yang berbau Jakarta ke Semarang. “Menjadikan Semarang menjadi Jakarta,” tambahnya.
Film May sendiri bercerita mengenai sepasang kekasih Antares (Yama Carlos) dan May (Jenny Chang) yang berbeda suku, namun harus terpisah karena peristiwa yang terjadi di bulan Mei ’98. Saat itu, di tengah pergolakan yang begitu tinggi, sekelompok orang menculik May dan memperkosanya, sedangkan Antares yang tidak menjemputnya saat itu, tengah disibukkan dengan perannya sebagai seorang pembuat film dokumenter di tengah momen bersejarah itu.
Tidak hanya terpisah dengan Antares, namun May juga harus terpisah dengan sang Bunda yang juga mengungsi dari rumahnya di tengah pusat kerusuhan ke sebuah hotel. Di dalam pengungsiannya, Mama May (Tuti Kirana) menukarkan sertifikat rumahnya dengan selembar tiket pesawat ke Malaysia kepada seorang pekerja Laundy rendahan bernama Gandang (Lukman Sardi).
Namun 10 tahun kemudian, semua kejadian masa lampau kembali menyeruak di benak mereka, setelah Antares yang mencari keberadaan May dan menemukannya di Malaysia dengan keadaan telah memiliki seorang anak dari Jurnalis asing yang menyelamatkan May di hari yang naas itu. Akankah pertemuan mereka dapat mengobati semua yang terkoak di masa lalu dan saat ini.
Selain beberapa nama diatas, juga ditampilkan bintang-bintang lain seperti Ria Irawan, Niniek L Karim, Tio Pakusadewo serta penampilan khusus dari Jajang C Noer, Andre Peter serta aktris Malaysia Zahida Rafiq. Selain Jakarta dan Semarang, film ini juga mengambil lokasi syuting di Yogya, Kuala Lumpur, Malaka serta Genting Highland.
Akankah film ini digunakan sebagai alternatif peringatan atas kejadian Mei 10 tahun silam? Mengutip pernyataan Viva westi, “Biarkan penonton yang menafsirkan film ini dengan pandangannya masing-masing.”
May akan tayang mulai 14 Mei mendatang di seluruh jaringan bioskop 21. (ajo)
COMPLETE ARCHIVE