Nostalgia Slamet Rahardjo di Belitung

 

Ada banyak alasan orang tatkala menerima peran dalam sebuah proyek film. Soal eksistensi, uang, cerita yang menarik, atau kerja bareng dengan sineas besar itu jawaban yang standar. Bagaimana dengan nostalgia masa lalu? Aha, boleh jadi ini jarang terjadi. Simak saja ...

Posted By: Admin, 28 Mei 2008

Ada banyak alasan orang tatkala menerima peran dalam sebuah proyek film. Soal eksistensi, uang, cerita yang menarik, atau kerja bareng dengan sineas besar itu jawaban yang standar. Bagaimana dengan nostalgia masa lalu? Aha, boleh jadi ini jarang terjadi. Simak saja dengan yang dialami aktor senior Slamet Rahardjo misalnya ketika menerima peran dalam Laskar Pelangi.

”Saya pernah tinggal dan menamatkan SMA saya di Tanjung Pandan (Pulau Belitung),” demikian tutur Slamet saat dijumpai beberapa waktu lalu. ”Bahasa-bahasa Belitung saya sangat kuasai karena saya bergaul.”

Saat ditawari peran dalam film yang settingnya di pulau Belitung ini dia langsung terkenang akan masa remajanya di sana. ”Saya bukan sebagai anak pejabat, justru sebagai komandan Pramuka,” cerita aktor yang dibesarkan di Teater Populer ini.

Sejatinya, kakak kandung Eros Djarot ini sedang merendah. Ayahnya justru sedang menjabat sebagai komandan pangkalan Angkatan Udara di sana di zaman Dwikora, pada era 1960-an. Zaman Gestapu 1965, papar Slamet, sekolahnya masih di kota Yogyakarta. ”Tapi saya tak pernah masuk sekolah, lebih banyak di jalan ikut aksi-aksi. Maka bapak mengambil kebijakan, anaknya diambil disuruh sekolah di Tanjung Pandan,” sodornya kembali.

Perihal kondisi sekolah yang memprihatinkan macam yang digambarkan Andrea Hirata dalam novelnya rupanya Slamet paham betul. ”Saya tahu sekolah-sekolah seperti itu. Saya bersama Eros suka bikin pertunjukan yang melibatkan anak-anak Pramuka. Ya nyanyi, drama, musik. Kalau dapat uang disumbangkan untuk badan pendidikan,” lagi-lagi aktor terbaik FFI 1975 dan 1983 ini bernostalgia.

Kenangan-kenangan macam ini bisa jadi hanya prioritas nomor sekian bagi Slamet. Pasalnya, faktor yang sangat dikedepankan tetap saja ceritanya. ”Setiap cerita yang mengungkapkan tentang harga diri manusia, saya selalu jatuh cinta,” sergahnya dengan lugas.

”Manusia sekarang ini tak punya harga diri. Kalau ada cerita tentang manusia yang memiliki harga diri, itu menyenangkan,” demikian seloroh sutradara terbaik FFI 1985 dan 1987 ini. (bat)

COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON

 
 
www.vidfor.me