Kisah Syuting Film dari Ben Stiller
Nonton film adalah sebuah kenikmatan tak terperi. Tapi membuatnya konon tidak senikmat saat menonton. Inilah yang tak pernah diketahui publik. Maka, alangkah menyenangkan jika ada sineas yang mau berbagi kisah tentang liku-liku di balik produksi sebuah film.
Macam yang ditunjukkan oleh film Tropic Thunder arahan sutradara Ben Stiller. Melalui film perang ini publik bisa lebih mengenal seperti apa persisnya kehidupan di balik dunia nan glamour. Di sana dipertontonkan polah para aktor yang takut kehilangan popularitas, produser yang maha kuasa, hingga agen yang takut kehilangan talent. Pokoknya macam-macam. Ide awalnya macam begini tentu saja menarik untuk diikuti.
Cerita berawal dari sejumlah aktor, yakni Alpa Chino (Brandon T. Jackson), Tugg Speedman (Ben Stiller), Jeff "Fatty" Portnoy (Jack Black), Kirk Lazarus (Robert Downey Jr.), serta Kevin Sandusky (Jay Baruchel) yang sedang syuting film perang yang katanya diadaptasi dari kisah nyata milik Four Leaf (Nick Nolte). Tiba-tiba terjadi petaka lantaran adegan peledakan nan mahal berlalu begitu saja. Sia-sia belaka, lantaran terlewatkan tanpa sempat terekam kamera. Tak ayal, produser Les Grossman (Tom Cruise) sungguh berang kepada sang sutradara, Damien Cockburn (Steve Coogan).
Lantaran sudah banyak keluar biaya sementara film belum juga rampung, mereka putar otak. Akhirnya terbersit gagasan baru. Seluruh aktor tersebut dibawa ke hutan yang sebenarnya agar lebih alami aktingnya, demikian saran sang penulis novel. Tanpa mereka sadari ternyata hutan yang dituju itu adalah sarang petani candu. Mau tak mau masuklah jagoan kita ini ke padang Kuruksetra yang asli. Tugas mereka sekarang bagaimana bisa lolos dan memenangkan perang sejati. Harap diingat, mereka aslinya hanya anak wayang, bukan prajurit kombatan.
Agaknya ini memang film yang pol-polan menariknya. Ide sudah menarik, yakni film tentang film, tepatnya film tentang syuting film. Mesti seseorang yang sangat khatam dengan kehidupan di balik layar yang bisa bercerita soal ini. Bagaimana sih pahit getirnya hidup menjadi seorang aktor, atau bagaimana rawannya nasib seorang sutradara di tangan produser, dan lebih dahsyat lagi tentang produser yang harus cerewet dalam bernegosiasi agar tidak kehilangan uang lebih banyak lagi. Ben Stiller boleh dibilang sukses menuliskan soal ini.
Selanjutnya genrepun sungguh menarik, yakni komedi. Sejak awal penonton sudah diajak untuk menyaksikan trailer dari film yang dimainkan para aktor film perang-perangan ini. Inipun lagi-lagi versi komedi yang sungguh detail. Bayangkan saja jika Robert Downey muncul bersama Tobey Maguire dengan jubah rohaniawan dan bukan lagi superhero. Dahsyat bukan?
Belum cukup sampai di situ, Stiller rajin memelesetkan pula referensi dari film lain untuk mengajak gembira bersama-sama. Sebut saja Platoon, penggila film pasti ingat betul dengan kepalan tangan Sersan Elias ke udara. Dan masih banyak lagi amunisinya untuk menertawakan apa saja. Sesekali dilakukan dengan cerdas, tak jarang pula disuguhkan dengan tolol alias slapstick.
Film ini menjadi kian menarik jika membayangkan biaya yang dikeluarkan untuk produksinya. Alokasi itu tak hanya sekadar untuk mengongkosi set-set yang harus diledakkan sebagaimana galibnya film perang, tetapi juga penampilan dari para superstar yang berseliweran. Mulai dari Robert ”Iron Man” Downey Jr. yang berganti penampilan sebagai orang berkulit hitam, sampai sejumlah nama besar macam Tom Cruise, Matthew McConaughey hingga Tobey Maguire.
Ya, inilah simulasi bagaimana caranya membuat film yang dikemas dalam bentuk film cerita. Terima kasih, Ben Stiller. (bat)

