Noe

 

Sebagai musisi nama Noe ‘Letto’ tentunya takkan diragukan lagi. Namun bagaimana jika pria yang bernama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh ini merambah ke dunia film? Bukan sebagai sutradara maupun pemain utama, namun sebagai produser. Ya, tepat pada 2 Juni 2010 ...

04 Juni 2010
Posted By: Erfanintya M. P.

Sebagai musisi nama Noe ‘Letto’ tentunya takkan diragukan lagi. Namun bagaimana jika pria yang bernama lengkap Sabrang Mowo Damar Panuluh ini merambah ke dunia film? Bukan sebagai sutradara maupun pemain utama, namun sebagai produser. Ya, tepat pada 2 Juni 2010 vokalis band asal Jogja itu yang duduk bersama Dewi Umaya Rachman sebagai produser Pic K Lock Productions merilis film perdananya berjudul Minggu Pagi di Victoria Park.

Tentunya banyak pengalaman berbeda yang ditemui ketika membuat suatu hal yang pertama kali dilakukan . Seperti halnya yang dialami Noe dalam menggarap film yang menceritakan tentang kehidupan TKW di Negara Hongkong tersebut. “Meskipun saat syuting di Hongkong kita bekerja sama dengan PH (Production House) lokal sana yang membantu pencarian pemain, izin lokasi, dan alat-alat syuting. Jika berbicara lancar ya lancar namun tetap saja bekerja di negara orang punya toto kromonya yang berbeda,” ujarnya saat ditemui dalam acara press conference film Minggu Pagi di Victoria Park di PPHUI, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (02/06).

Pengalaman berharga juga Noe dapatkan saat syuting bersama para kru dari Hongkong yang sangat menghargai waktu, ketika bekerja di Hongkong hanya dengan batas 12 jam. “Saya masih mempelajari bagaimana dari orang-orang yang bekerja dengan waktu 12 jam bisa sama hasilnya dengan orang-orang yang bekerja di Indonesia dengan waktu 20 jam,” kata pria kelahiran Yogyakarta 10 Juni 1979 itu, "untuk itu menjadi pelajaran yang sangat luar biasa syuting bersama orang Hongkong,” tambahnya.

Memilih tema kehidupan TKW bukanlah tanpa alasan bagi Noe. Menurutnya ia hanya ingin membuat film dengan tema yang berbeda, menggigit tapi juga renyah. Banyak hal yang bisa digali dengan tema TKW tersebut. “Banyak fakta sosial yang bisa digali, mau positif ataupun negatif, makanya kita riset sampai 2 tahun untuk film ini untuk mencari titik dimana kita bisa membuat film yang objektif. Kita nggak pro, nggak kontra, tidak meng-endorse tapi juga tidak melarang, kita tampilkan sebuah fakta yang bisa dinikmati oleh penonton,” jelas Noe yang merupakan putra penyair Emha Ainun Najib itu.

Namun ketika ditanya lebih enak mana bermain musik atau menjadi produser film, Noe dengan cueknya menjawab, “Mau enak atau nggak enak, yang penting sekarang adalah mencari susu untuk anak.” (eM_Yu)
 

COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON