23 April 2009
Posted By:
Menyebut nama sineas lokal saat ini ibarat menyebut sebuah merek produk. Sebut saja Salman Aristo misalnya. Namanya identik sebagai penulis skenario spesialis adaptasi, hanya karena dua film terlaris di negeri ini, Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi menjadi buah karyanya. Padahal masih ada juga film adaptasi yang tidak sukses-sukses amat dan skenarionya merupakan hasil tulisannya. Tentang judulnya tak usah disebutkan di sini lah ya.
Sutradara Rizal Mantovani agaknya bernasib serupa. Mengawali karirnya di layar lebar lewat sebuah film omnibus bertajuk Kuldesak, nama Rizal kini malah identik dengan film horor laris. Diawali dengan film Jelangkung, kemudian diikuti para epigon yang latah membuat film horor, dilanjutkan dengan trilogi Kuntilanak. Tak pelak, Rizal mengukir namanya sebagai empu film horor laris. Padahal, dia tidak melulu pula membesut film seram. Apa mau dikata.
Garansi inilah yang agaknya membuat Rizal dipercaya rumah produksi Maxima Pictures untuk mengeksekusi satu karakter horor. Kali ini bukanlah sebuah legenda urban. Berbekal skenario Alim Sudio, Rizal mengutak-utik jalan cerita yang berawal dari sebuah proses mati suri. Mati Suri pula yang kemudian dipakai sebagai judulnya.
Berawal dari seorang gadis bernama Abel (diperankan oleh Nadine Chandrawinata) yang sedang menanti hari pernikahannya dengan Wisnu (Yama Carlos). Mendadak muncul kabar mengagetkan. Seorang gadis mendatanginya dan mengaku dihamili Wisnu. Rasa putus asa membuat Abel bunuh diri, namun tak jadi mati. Sejak itu serangkaian peristiwa aneh kerap mendatanginya.
Konsep tentang mati suri memang ranah yang masih jarang dieksplorasi dalam film lokal. Maklumlah wacana tentang ini perlu pemahaman yang lebih jauh. Tak pelak, bermain-main di wilayah interval alam di sini dan di sana benar-benar sebuah tantangan. Baru di tingkat ide cerita saja sudah terasa njelimetnya. Maka pengakuan Rizal tentang betapa sulitnya membuat film horor yang bukan berasal dari legenda urban memang beralasan.
Setelah cerita beres, selanjutnya masih ada perkara artistik. Terbiasa membesut klip video dengan segala perniknya membuat gambar dalam film Rizal selalu elok dipandang mata. Permainan warna dan cahaya di sana bukan lagi berada di kelas pemula. Entah memang sudah menjadi standar rumah produksinya, di FFI tahun lalu salah satu filmnya, The Butterfly masuk nominasi untuk tata kamera. Dan memang beginilah sebuah film dibuat seharusnya.
Bicara tentang kadar keseraman mungkin relatif. Setidaknya ketakutan yang dialami pemerannya menjadi representasi dari ketakutan penonton. Satu hal yang patut dicatat akan lebih baik jika film ini dimasukkan ke dalam genre thriller. Pasalnya, ada beberapa bagian yang akan mengingatkan kita pada film Diabolique misalnya. Jadi tak melulu penampakan seram yang bolak-balik muncul macam banci tampil di perempatan jalan.
Ketika begitu banyak film horor lokal berseliweran di bioskop, karya Rizal yang satu ini ibarat oase di padang pasir. Sulit rasanya untuk memaksakan sebuah standar estetika yang tinggi kepada film kita belakangan ini. Namun Rizal mengambil pilihan sikap berbeda. Bahkan hal ini dilakukannya sejak masih dalam bentuk konsep cerita. (bat)
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone