Salam Metal a la Liar

 

Judulnya saja sudah Liar. Jika kemudian mood-nya benar-benar liar tak usah kaget. Pasalnya, film karya sutradara Rudi Soedjarwo di pertengahan tahun 2008 ini menyuguhkan aroma maskulin yang sungguh liar di balik persaingan adu balap motor nan liar. Alasan membuat film ini ...

07 Juli 2008
Posted By:

Judulnya saja sudah Liar. Jika kemudian mood-nya benar-benar liar tak usah kaget. Pasalnya, film karya sutradara Rudi Soedjarwo di pertengahan tahun 2008 ini menyuguhkan aroma maskulin yang sungguh liar di balik persaingan adu balap motor nan liar.

Alasan membuat film ini bagi Rudi berawal dari tawaran Philipus Wirjadi, produser dari Astral Pictures. ”Eh, kita bikin film tentang motor yuk...,” demikian Rudi menirukan tawaran proyek itu.

Ndilalah, Rudi memang sedang keranjingan membuat film keras, tak heran jika tawaran itupun disambut. ”Kenapa tidak membuat yang seru dan tidak setengah-setengah?” tanyanya sedikit retoris. Racikan yang ingin disodorkan kepada penonton adalah sebuah film yang menghibur dan ada dramatisasi di sana.

Menghibur a la Rudi bagi sebagian orang sudah jelas. Jika berkaca pada istilah film keras yang disodorkan silakan dimaknai sendiri. Sejak merilis Tragedy di tahun 2001, pakem itu sudah terasa. Adu maki yang diteriakkan Indra Birowo, Rako Prijanto dan Gary Iskak kepada lawan-lawannya sudah mengisyaratkan hadirnya aroma kekerasan itu. Kemudian Rudi mengulanginya dalam Mengejar Matahari dan In The Name of Love dengan kemasan kontak fisik layaknya sebuah fight club.

Inti cerita Liar sendiri adalah keinginan kakak beradik Indra (Irgi Ahmad Fahrezi) dan Bayu (Raffi Ahmad) yang ingin menjadi pembalap motor. Jalan apapun mereka tempuh untuk menggapai asa. Berapapun harganya mereka siap membayar, hingga sebuah pilihan sulit menghadang.

Sekeras-kerasnya film ini bukan berarti tak ada elemen pemanis dan ini bagian dari dramatisasi itu. Sesekali, Rudi sebagai pemilik cerita, berkompromi untuk menyelipkan adegan yang menonjolkan keluguan sosok pemainnya. Di sini, Intan Nuraini yang didapuk untuk melakukan tugas itu. ”Lesung pipitnya itu tak bisa dilupakan,” komentar Rudi terhadap finalis Gadis Sampul 2001 itu. Kehadiran Intan memang menyegarkan di tengah wajah sangar yang saling menyimpan dendam kesumat.

Bicara tentang musik, Liar ibarat nostalgia bagi Rudi Soedjarwo. Pasalnya, tembang-tembang cadas yang hadir di dalamnya merupakan milik band Razzle. Band ini pernah besar di era 1980-an dan 90-an dan biasa membawakan lagu-lagu milik kelompok Guns N Roses. Rudi, kemudian Riri Riza, pernah tergabung dalam band ini jauh sebelum mereka dikenal sebagai sineas akbar di negeri ini. ”Sebelum bergabung dalam Syc Minded, gue sempat bergabung di band ini. Nah pas gue keluar, Riri masuk,” terang Rudi.

Beberapa tembang milik Razzle memang sempat berkumandang seraya mengibarkan aroma maskulin di dalamnya. Rupanya, musik-musik macam inilah yang sempat menaungi Rudi hingga kecanduan menyuguhkan aroma nan macho dalam gambar hidup buatannya belakangan ini. Seolah-olah dia ingin meniupkan pesan: mereka yang dibesarkan dalam lingkungan musik heavy metal dipersilakan menonton film Liar.

Salam metal a’... (bat)
 

COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON