Sensor dan Realitas dalam Film Kita

 

Pada pekan permulaan bulan Januari 2009 sebuah pesan singkat masuk di ponsel saya dari sutradara Cassandra Massardi. ”Hahaha buat pertama kalinya, film gw ngga lolos sensor!...” Kendati ada tawa dalam teks tersebut, tetap saja sebuah hal itu sebuah realitas yang ...

09 Januari 2009
Posted By:

Pada pekan permulaan bulan Januari 2009 sebuah pesan singkat masuk di ponsel saya dari sutradara Cassandra Massardi. ”Hahaha buat pertama kalinya, film gw ngga lolos sensor!...” Kendati ada tawa dalam teks tersebut, tetap saja sebuah hal itu sebuah realitas yang pahit. Sineas mana sih yang mau karyanya tidak lolos sensor?

Film yang dimaksudkannya bertajuk Kawin Laris. Sebuah penggalan kisah tentang rivalitas dua pejabat penghulu yang berbeda tabiat, ada Agus (Zumi Zola) yang jujur dan ada Deon (Vincent Rompies) yang materialistis. Persaingan itu menjadi bahan yang bernas untuk mengundang tawa lantaran polahnya yang sungguh jenaka.
 
Kembali kepada Kasih, demikian panggilan akrab sang sineas. Sebenarnya dia juga menyebut salah satu institusi agama di dalam pesan itu. Institusi inilah yang kemudian sulit menerima konsep cerita yang disuguhkannya dalam filmnya. Selain menjadi sutradara, Kasih juga menjadi penulis skenario dari produk yang dibiayai oleh MM INSA ini.
 
”Stress juga sih,” ucapnya. Tak kenal menyerah, dia berusaha mencari tahu apa penyebab munculnya hambatan tersebut. Kamis (8/1) dia berangkat ke Lembaga Sensor Film mencoba bernegosiasi dengan Ketua LSF, Titie Said. Upayanya membuahkan hasil. ”Alhamdulillah setelah beberapa dialog diputuskan di mute, dan angkat satu action film Kawin Laris lolos sensor,” cerita Kasih.
 
Mute adalah semacam teknologi sensor yang membuat suara pemerannya hilang beberapa saat. Kira-kira seperti bunyi ”tit” kalau di televisi. Konon, ada beberapa dialog yang tidak berkenan di hati para perwakilan institusi di atas. Sama dengan aparat keamanan, penghulu adalah pejabat negara yang diangkat di bawah sumpah. Jadi tidak boleh dipermainkan, begitu kira-kira. Apa boleh buat, Kasih harus melakukan kompromi ketimbang filmnya tidak lolos sama sekali.
 
Perilaku meledek pejabat negara atau aparat sebenarnya sudah berkali-kali muncul dalam film nasional pasca reformasi. Tengok saja yang dilakukan Deddy Mizwar dalam film Naga Bonar Jadi 2 misalnya. Dia memarahi seorang aparat kepolisian saat bajajnya tak boleh masuk ke kawasan jalan protokol. Atau tengok juga, lagi-lagi, aparat kepolisian dalam film Janji Joni. Ketika Joni (Nicholas Saputra)melaporkan ada orang yang melarikan sepeda motornya, sang petugas malah menyuruhnya membuat laporan kehilangan di pos dan bukannya mengejar sang maling. Ternyata adegan tersebut semuanya lolos sensor.  
 
Berkaca dari kasus yang dialami Kawin Laris, ternyata otoritas badan sensor sangat berkuasa untuk menjaga kewibawaan aparat negara. Institusi apa saja masih boleh untuk merasa tersinggung terhadap isi sebuah film yang tidak berkenan di benak mereka. Padahal, yang namanya film cerita dibuat untuk mendramatisasi (kendati kadang-kadang berlebihan) terhadap perilaku manusia dan kadang berangkat dari realitas sehari-hari. Sikap tamak terhadap materi bisa terjadi di mana saja, kapan saja dan kepada siapa saja.
 
Boleh jadi ini juga menjadi sebuah jawaban, mengapa film tentang korupsi sungguh langka di negeri ini. Anak kecil juga tahu jika korupsi adalah realitas sehari-hari kok. Tapi sudahlah, mungkin hantu merupakan realitas di negeri ini sehingga lebih baik bicara tentang hantu saja.
 
Tak hanya di sini rupanya, di belahan bumi kulon sana pun seorang Edward Cullen cowok ngganteng yang sedang digila-gilai kaum hawa dan juga gay seluruh dunia itu seorang hantu tuh. (bat

COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON