Serbuan Sineas Asing : Bentuk Tidak Percaya Diri Orang Indonesia?

 

Memasang satu aktor atau aktris terkenal sudah lazim dilakukan untuk mendongkrak sebuah film di pasaran. Selain itu, menjual nama sutradara atau penulis bahkan produser pun biasa dilakukan. Memang banyak jalan untuk menarik masyarakat agar menonton sebuah film. Bahkan ada yang ...

23 Oktober 2009
Posted By:

Memasang satu aktor atau aktris terkenal sudah lazim dilakukan untuk mendongkrak sebuah film di pasaran. Selain itu, menjual nama sutradara atau penulis bahkan produser pun biasa dilakukan. Memang banyak jalan untuk menarik masyarakat agar menonton sebuah film. Bahkan ada yang tak tanggung-tanggung menggaet bintang luar negeri demi popularitas sebuah film.

Bukan, bukan berarti hanya bintang film panas seperti Miyabi yang baru-baru ini ramai. Memang fenomena Miyabi datang ke Indonesia sangat marak jadi pembicaraan dimana-mana. Kontroversinya bahkan sudah merebak jauh sebelum si empunya nama datang. Padahal jika memang mau dibuktikan, apakah sekuat itu nama Miyabi mempengaruhi nilai jual sebuah film?

Jika kembali ke beberapa bulan sebelumnya, tengok saja kehadiran Heather Strom di film Paku Kuntilanak. Aktris yang digembar gemborkan sebagai bintang Hollywood ini sebetulnya di negara asalnya pun hanya aktris kelas 2. Dan sejauh pandangan saya, kontroversi di Paku Kuntilanak malahan lebih kuat pada Dewi Perssik-nya saja.

Tak hanya memasang aktor atau aktris saja, `serbuan` pihak asing kerap terjadi di belakang layar. Seingat saya baru-baru ini 2 film yang temanya sangat Indonesia yaitu Merantau dan Merah Putih justru pembuatnya adalah orang asing. Ini diakui oleh aktor Merah Putih, Darius Sinathrya, “Saya bangga dan kecewa untuk film ini. Bangga karena akhirnya ada film yang bisa membangkitkan rasa nasionalis lewat film perang dan sejarah. Film ini juga yang bergenre beda seperti kebanyakan film sekarang. Tapi saya kecewa kenapa ide awal untuk membuat film ini justru datang dari orang diluar bangsa Indonesia. Ternyata mereka lebih peduli daripada kita”.

Memandang sedikit ke belakang, dunia perfilman Indonesia memang bisa dikatakan banyak dikuasai pihak asing. Lihat saja beberapa production house besar yang rajin memproduksi film, biasanya milik orang asing. Padahal kalau mau diteliti lagi, sineas asli Indonesia pun sebenarnya sudah sangat kuat imej-nya di masyarakat dan mampu menghasilkan karya-karya yang bahkan diakui dunia. Sebut saja duet Mira Lesmana dan Riri Riza yang selalu menghadirkan film-film bernuansa Indonesia yang kental. Mulai dari film remaja Ada Apa Dengan Cinta, film biografi Gie, hingga film anak-anak, Laskar Pelangi. Atau Nia Dinata dengan Kalyana shira-nya yang kerap membuat film tentang cerminan masyarakat kota besar dan masalah sosial didalamnya seperti Arisan atau Berbagi Suami.

Nah, melihat fakta terakhir ini, lalu kenapa filmmaker masih melibatkan orang asing dalam sebuah produksi film ya? Kurang percaya diri atau sekedar menjual nama saja? (lit)
 

COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON