BIOGRAPHY

Andhika Pratama

 

Nama Lengkap  :  Andhika Pratama
Nama Panggilan  :  Andhika
Tempat/Tanggal Lahir  :  Malang, 11 November 1986
Anak Ke  :  1 Dari 2 Bersaudara
Tinggi/Berat Badan  :  176 CM/60 Kg
Film Favorit  :  Titanic, Saving Private Ryan, Kala, Berbagi Suami
Musisi Favorit   :  Incubus, Radiohead

 

Filmografi :

  • The Girls Begins (2006)
  • Lewat Tengah Malam (2006)
  • Love is Cinta (2006)
  • Butterfly (2007)
  • Claudia Jasmine (2007)
  • Kesurupan (2008)
  • Ada Kamu Aku Ada (2008)
  • Glitch (2009)
  • Punk in Love (2009)

Selama 28 hari Andhika Pratama berubah menjadi anak punk. Penampilannya benar-benar berubah total. Dalam film terbarunya, Punk in Love, Andhika berperan sebagai Yoji. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, tokoh Yoji sebenarnya tidak diperankan oleh Andhika. “Sebenarnya tokoh Yoji ...

ANDHIKA PRATAMA, BUKAN KRIMINAL ATAU BERANDAL

 
Andhika Pratama

Selama 28 hari Andhika Pratama berubah menjadi anak punk. Penampilannya benar-benar berubah total. Dalam film terbarunya, Punk in Love, Andhika berperan sebagai Yoji. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, tokoh Yoji sebenarnya tidak diperankan oleh Andhika. “Sebenarnya tokoh Yoji itu ada dalam dunia nyata, dan seharusnya ia yang memerankan, tapi sayang ia telah meninggal lebih dulu,” jelas cowok yang telah bermain 9 film ini. Yoji adalah anak punk sekaligus talent kordinator yang bekerjasama dengan sang sutradara, Ody C. Harahap dalam Film Punk in Love dan merupakan kisah nyata dari dirinya.

Andhika mengakui dirinya tertarik main di film karena perannya yang menantang. “Gue pengen out of the box dari image yang udah menempel di diri gue sebagai pemain drama, dan gue pengen main di film yang perannya nggak biasa,” ujar cowok yang rela rambutnya di mohawk ini.

Berperan sebagai anak punk diakui oleh Andhika cukup berat. Dari awal sebelum syuting, untuk mendalami karakter, Andhika bersama ketiga pemeran lainnya Arok (Vino G. Bastian), Mojo (Yogi Finanda), dan Almira (Aulia Sarah) di uji coba seperti saat mereka diturunkan di derah Tangerang hanya dibekali 5.000 perak dan harus kembali ke daerah Gandaria Jakarta Selatan. Lalu pada saat reading, malamnya mereka tidur diluar tanpa beralaskan apapun. Tidak sampai disitu, siang harinya mereka dijemur agar kulit mereka hitam. Karena menurut Ody, anak punk itu tidak ada yang putih atau bersih, makanya mereka dijemur agar terlihat hitam dan dekil. “Film ini emang berat banget buat ngedaleminnya, tapi justru ini tantangannya, dan berkat itu semua kita jadi lebih menyatu dan mengenal sesama pemain,” papar cowok kelahiran Malang, 11 November 1986 itu.

Proses syuting yang berat seperti saat menuju lokasi syuting  dari Jakarta ke Malang. Lalu ke beberapa daerah seperti Bromo, Blitar, Rembang, Lasem, Semarang, Solo, Cirebon, dan Cianjur dan kembali ke Jakarta lagi dengan menggunakan bis. Ia juga harus berpikir lama untuk memutuskan rambutnya diubah dengan Mohawk Style dan diwarnai pink pula. “Awalnya gue sempet ragu, lagian gue emang suka banget rambut panjang, tapi ini adalah tantangan yang harus dijalanin dan untungnya gue nggak terikat kontrak dengan suatu produk,” jelasnya. Dirinya juga lebih spesial dari pemain lainnya, bukan spesial berati dianak emaskan, tetapi karena ia butuh waktu khusus untuk make up rambutnya. “Buat make up rambut sendiri aja butuh beberapa jam, makanya gue kalo tidur miring biar rambutnya nggak rusak dan besok nggak perlu lama-lama buat make up rambut doang,” cerita cowok penyuka Film Titanic dan Saving Private Ryan itu.

Kriminal, brutal, tidak teratur, dan dipandang sebelah mata adalah image yang terbentuk dalam sebuah komunitas atau individu punk. Andhika yang setuju dengan hal tersebut, setelah menjalani syuting film ini justru tidak menemukan segala sisi negatif komunitas atau individu tersebut.

 

“Gue kaget banget pas syuting bareng anak punk asli. Justru mereka sopan banget, malah melebihi orang biasa, sangat menghargai orang ketika berbicara dan mereka juga update dengan informasi yang sedang berkembang,” kagum Andhika. “Menurut mereka anti kemapanan itu berarti bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa harus bergantung dengan orang lain,” tambah Andhika yang sampai tidak percaya jika anak-anak punk tersebut juga ada yang seorang lawyer, punya usaha tato, dan sering membantu ibu-ibu arisan. Oleh karena itu Andhika menganjurkan agar film ini banyak ditonton orang karena membuka mata penonton bahwa anak punk itu tidak seperti kebanyakan orang lihat, kasih tempat dan kesempatan untuk mereka berkarya, karena mereka bukan kriminal atau berandal. (eM.Yu)

 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON