BIOGRAPHY

Fachri Albar

 

Biodata
 
Nama Lengkap             : Fachri Albar
Nama Panggilan                        : Ai
Tempat Tanggal Lahir               : Jakarta, 15 November 1981
Tinggi Badan/Berat Badan        : 180 cm/ 70 kg
Nama Ayah                              : Achmad Albar
Nama Ibu                                 : Rini S Bono
 
 
Filmografi
Aktor
  1. Alexandria (2005)
  2. Jakarta Undercover (2007)
  3. Kala (2007)
  4. Pintu Terlarang (2009)

 

Gambir namanya. Boleh jadi dia merupakan gambaran seorang pria yang ideal. Karirnya sebagai seorang seniman pembuat patung sungguhlah mulus. Dia memang memiliki apa yang diidamkan oleh kaum adam, mulai dari harta, karir hingga istri yang cantik. Apalagi sih yang dia ...

FACHRI ALBAR, TITISAN DINASTI ANAK WAYANG

 
Fachri Albar

Gambir namanya. Boleh jadi dia merupakan gambaran seorang pria yang ideal. Karirnya sebagai seorang seniman pembuat patung sungguhlah mulus. Dia memang memiliki apa yang diidamkan oleh kaum adam, mulai dari harta, karir hingga istri yang cantik. Apalagi sih yang dia tidak miliki? Tentu saja ada, yakni jawaban yang tersimpan di balik sebuah pintu.

Deskripsi di atas menjadi tinjauan sekilas sosok yang dimainkan aktor Fachry Albar, atau sering juga ditulis dengan Fachri Albar, dalam film teranyarnya di tahun 2009 bertajuk Pintu Terlarang. Rupanya dia masih berkolaborasi dengan sutradara Joko Anwar, setelah mereka kerja bareng dalam Kala di tahun 2007. Ai’, demikian dia biasa disapa ternyata sungguh antusias bisa kembali berkolaborasi dengan pria kelahiran Medan tersebut. Mengapa? ” Dia memberikan saya tantangan yang besar dalam film ini, benar-benar film yang berat,” demikian ungkapnya saat konperensi pers film ini di Jakarta pekan silam (15/1).
 
Kemampuan akting putra rocker Achmad Albar ini memang dikuras habis-habisan dalam film thriller tersebut. Apapun yang diminta, dia pasrah saja melakoninya, termasuk juga adegan tanpa busana saat mandi di shower. Dengan jujur Ai’ mengakui adegan tersebut. ”Saya benar-benar telanjang,” tuturnya saat itu. Atas nama profesionalisme, Ai’ acuh beibeh saat melakukannya. Bahkan merasakan kepuasan yang luar biasa bisa memperoleh kebebasan dari Joko untuk menafsirkan seperti apa sosok Gambir. 
 
Terjunnya Ai’ ke dunia hiburan memang didukung oleh parasnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis. ”Awalnya saya engga pernah mau main sinetron, karena engga ngerasa bisa,” kenangnya suatu kali. Beberapa judul sinetron sempat ditolaknya, hingga akhirnya dia terdampar dalam kisah tradisional bertajuk Malin Kundang. Ternyata sinetron yang ditayangkan awal tahun 2005 itu meraih sukses besar.
 
Namun sukses itu tidak membuat Ai’ kemaruk. Dia tetap membatasi diri untuk tidak berlama-lama main di sinetron tersebut dan ingin coba merambah bidang lain, yakni layar lebar. Ai’ merasa main film lebih maksimal kepuasannya. ”Aku sangat menikmati itu karena tantangannya dalam menghayati peran harus benar-benar matang,” ucap Ai’ tentang perbedaan akting di layar kaca dan layar lebar.
 
Penantian Ai’ tak makan waktu lama. Debutnya segera dimulai akhir tahun 2005 lewat sebuah film drama arahan Ody C Harahap berjudul Alexandria. Ini adalah kisah cinta segitiga tokoh utamanya. Ada Bagas (Marcell Chandrawinata) yang lama memendam cinta pada gadis sebelah rumah, Alexandra (Julie Estelle). Bagas tak kunjung menyatakan itu pada Alex, hingga dia hijrah kuliah di Australia. Sepulangnya Bagas ke tanah air, Alex sudah bertunangan dengan Rafi (Fachri), sahabatnya. Rafi konon adalah playboy kelas kakap, namun mengaku insyaf saat bertemu Alex.
 
Alasan sang sutradara untuk memilihnya bermain di sana memang agak unik dan cukup membuat Ai’ kaget. Menurutnya, kehidupan malam anak muda yang suka clubbing dan suka gonta ganti pacar adalah gambaran dari diri Rafi (sosok yang diperankan Ai’). ”Nah, begitu juga halnya dengan Fachri, makanya saya tidak salah memilih dia memerankan tokoh ini," ungkap Ody beberapa tahun silam.
 
Terang saja Ai’ gelagapan dibuatnya. Awalnya dia mengelak untuk mengakui apa yang dipaparkan Ody. Namun setelah kepepet dia mengaku jua bahwa pengalaman Rafi memang ada dalam dirinya. ”Ya, namanya juga anak muda jadi saya menikmatinya saja," celotehnya beberapa tahun silam.
 
Ibarat memerankan diri sendiri, Ai’ nyaris tanpa tantangan di film debutnya. Justru lewat proyek berikutnya yang dirilis bulan Maret 2007, Jakarta Undercover dia mendapati peran yang jarang-jarang hadir dalam film Indonesia. Ya, penggebuk drum kelompok Jibril ini mencoba-coba jadi waria. Walhasil, dia kudu rela mendapati bulu yang ada di sekujur tangan dan kaki harus dicukur. ”Aduh, sakit banget diwax,” kenangnya ketika ditanya wartawan.
 
Film arahan Lance ini memang memiliki makna istimewa. Di sana sosok Ai’ yang macho dan maskulin itu tiba-tiba buyar 180 derajat dengan logat binannya. Tentu saja ini tidak mudah, dia harus melakukan observasi sendiri agar perannya bisa seperti yang diharapkan. ”Ya, lihat sehari-hari aja. Bagaimana sih cara wanita bicara atau berjalan,” ceritanya dengan bersemangat.
 
Dan film ini pula yang menjadi ajang perkenalan Ai’ dengan sineas Joko Anwar. Seperti diketahui, Jokolah yang menjadi penulis skenario filmnya. Pasca kolaborasi dalam Jakarta Undercover, berturut-turut Ai’ bermain dalam film arahan sutradara bertubuh besar tersebut, masing-masing adalah Kala dan yang sekarang Pintu Terlarang. Kala sendiri adalah film noir yang unik. Jarang-jarang pihak yang mau membuatkan film macam ini. Berperan sebagai seorang wartawan bernama Janus, Ai’ bermain gemilang hingga menjadi nomine untuk kategori aktor utama pria di ajang FFI 2007.
 
Kolaborasi itu berlanjut lagi. Ai’ kebagian peran yang tak pernah terbayangkan beratnya. “Wah, ini berat banget, ” keluhnya. ”Gue adalah satu-satunya pemain yang engga istirahat selama 30 hari syuting,” keluhnya kepada wartawan. Dia menggambarkan, setiap adegan selalu memerlukan kehadiran dirinya. ”Gue break ketika semua crew juga break,” tandasnya. Namun totalitasnya seolah terbayar dengan kualitas film buatan sang sineas.
 
Bagaimana respon keluarga Ai’ atas kiprahnya di layar lebar? Tak urung ini sungguh membuat bangga mereka. Termasuk juga sang ibu, Rini S Bono yang pernah beken sebagai aktris di tanah air. ”Bangga sekali apabila dia telah bisa membawa nama, padahal awalnya sama sekali tidak ada dorongan ke arah situ, mungkin karena darah seni yang mengalir,” komentarnya dua tahun silam.  
 
Ya, Ai’ memang secara biologis berasal dari keluarga seni. Selain sang ibu, kakeknya S Bono adalah juga aktor terkenal di masa lalu. Dari sang ayah, Achmad Albar Ai’ menurunkan bakat musik yang juga ditekuninya bersama abangnya Fauzi lewat band Jibril.
 
Kok seperti deja vu ya. Kedua orang tua kandung Ai’ pernah bermain bareng dalam film Laila Majenun. Kini, Ai’ juga bermain bareng dengan kekasihnya yang sekarang, yaitu Marsha Timothy. Agaknya ini bukan kebetulan. (bat)

 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON