BIOGRAPHY

Hary Dagoe Suharyadi

Nama : Harry Dagoe Suharyadi
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 12 Desember
Tinggi/Berat Badan : 171Cm/72Kg
Hobi : Traveling, nonton, baca, musik dan olahraga

Pendidikan

:

  • Lulusan Institut Kesenian Jakarta tahun 1995, jurusan film & Tv, major : penyutradaraan film
  • Lulus workshop dramatic screen writing dengan pengajar dari TISC school of arts New York University tahun 90-an.

Prestasi :


1996
Film pertamanya (short film) berjudul Happy Ending (1995) menjadi official selected pada Toronto World Wide Short Film Festival di Kanada, Palm Spring International Short Film Festival di USA, dan Singapore Film Festival, juga berhasil meraih penghargaan pada 1st Pusan International Film Festival di Korea sebagai Outstanding Short Film dan juga diputar di beberapa festival internasional yang diadakan di Tampere, Finlandia, Melbourne, Tokyo dan juga di beberapa negara lainnya.


1998
Dinobatkan menjadi Sutradara Terbaik, dan film televisi terbaik pada Festival Sinetron Indonesia 1998, lewat film tv musikal anak-anak Mencari Pelangi. Film televisi musikal anak-anak pertama tersebut juga berhasil meraih 8 piala Vidia.


1999
Mendapatkan penghargaan Fellowship Award dari pemerintah Jepang atas prestasinya di usia muda


2000

  • Memproduksi film independent jepang berjudul Pachinko and Everyone’s Happy film ini selain di putar di bioskop 21, juga di Melbourne Australia dan Jakarta international film festival 2000 dan mendapat sambutan positif dari kritisi Indonesia dan luar negri saat itu.
  • Film ini juga film jepang pertama yang di sutradarai dan di produksi oleh orang Indonesia (atau bisa jadi orang selain jepang).


2002-2004
Memproduksi, menulis dan menyutradari serial musikal petualangan anak-anak
Ratu Malu & Jendral Kancil yang di putar prime time selama 63 episode di salah satu stasiun televisi swasta. Sinetron ini dinobatkan sebagai sinetron anak-anak terpuji dan juga menobatkan Harry Dagoe sebagai penulis terpuji pada Festival Film Bandung 2004


2005
Menyambung sukses serial Ratu Malu & Jendral Kancil harry memproduksi film musikal petualangan anak-anak berjudul Ariel & Raja Langit


2006
Menerima scholarship dari pemerintah jepang untuk study banding film bussiness dan digital cinema di jepang.


2008
Cinta Setaman (Love Potpourri) dinobatkan sebagai film pembuka Festival film Asia di Berlin, dan jerman pada januari 2009. Pada bulan April 2009 film ini juga dinobatkan sebagai nominator film terbaik pada 22nd International Singapore Film Festival


2009
Memproduksi, menyutradarai dan menulis film Dikejar Setan

Filmografi :

  • Happy Ending (1995)
  • Pachinko and Everyone’s Happy (2000)
  • Ariel & Raja Langit (2005)
  • Cinta Setaman (2008)
  • Dikejar Setan (2009)

Harry Dagoe breaking the record! Jika sutradara lain populer dulu baru membuat film di luar negeri, Harry menjungkirbalikkan semuanya. Harry Dagoe bikin film dulu diluar negeri baru populer di Indonesia. Sutradara yang dulunya mantan guru gitar klasik ini selalu bereksperimen membuat ...

HARY DAGOE SUHARYADI, TOTALITAS BEREKSPERIMEN

 
Hary Dagoe Suharyadi

Harry Dagoe breaking the record! Jika sutradara lain populer dulu baru membuat film di luar negeri, Harry menjungkirbalikkan semuanya. Harry Dagoe bikin film dulu diluar negeri baru populer di Indonesia.

Sutradara yang dulunya mantan guru gitar klasik ini selalu bereksperimen membuat gebrakan baru lewat karya-karyanya. Di film panjang pertamanya, ia dengan sangat berani membuat film Pachinko and Everybody’s Happy yang dibintangi oleh bintang-bintang asli negeri Sakura. Konon film ini merupakan film Jepang pertama yang disutradarai dan diproduksi oleh orang Indonesia. Tidak cukup puas berlaga di negeri orang, Harry kembali ke tanah air dan membidik pasar film anak-anak. Harry bahkan rela bersusah payah mendatangi langsung sekitar 100 sekolah dasar (SD) demi mencari bibit unggul yang akan mengisi film Ariel si Raja Langit yang tayang tahun 2005 lalu. Namun puncaknya, film anthology Cinta Setaman yang dibintangi oleh 27 aktor dan aktris terbaik Indonesia lah yang membuat nama Harry Dagoe makin populer di dalam maupun luar negeri.


Sutradara yang juga pernah merilis buku "Jadi Bintang Film Cilik, Yuk?" rupanya belum merasa puas kalau belum mencoba genre yang paling laris manis di Indonesia yaitu genre horror. Maka terciptalah film Dikejar Setan yang merupakan jenis Horror-of-the-Demonic dengan konsentrasi gagasan balas dendam serta perusakan tokoh tak berdosa. Sekilas memang mirip dengan film horror lainnya, tapi bukan Harry Dagoe namanya kalau tidak eksperimental. Ia berhasil mengeksplore dengan meminimkan penampakan si setan dan lebih memilih mengarahkan penonton kepada sisi adventure yang dialami oleh para pemainnya.


Kali ini Harry Dagoe kembali memakai pemain-pemain yang terbilang baru didunia layar lebar. Meskipun mengaku banyak memiliki kendala dalam mengarahkan pemain baru tersebut, namun ia juga cukup puas melihat ketotalitasan para pemainnya, “Jadi ada adegan di puncak yang udaranya 15 derajat. Saya sampai kedinginan, pakai jaket dan juga waktu adegan bathub yang saya pakai 3 lapis jaket, tapi mereka malah tahan walau harus rendaman di air dingin. Hal-hal yang kayak gitulah yang membuat saya tambah bersemangat.”.

Pria yang terkenal murah senyum ini mengatakan bahwa inspirasi film Dikejar Setan berdasarkan pengalaman pribadinya yang 2 kali bertemu dan hampir dicekik setan. Tapi Harry juga menekankan kalau setan sebenarnya bukan ada untuk menakut-nakuti tapi setan ada karena hasil pikiran manusia sendiri.

“Saya dari kecil sudah terbiasa melihat paranormal, orang kesurupan ataupun upacara pemanggilan setan. Itu sebenarnya seperti sudah jadi bagian hidup kita sebagai orang Indonesia.” Tutur pria yang pernah berakting di film Kuldesak ini. (Ind)

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON