BIOGRAPHY

Ikranagara

Nama : Ikranagara
Tempat/Tanggal Lahir : Bali, 19 September 1943
Tinggi/Berat Badan : 165 Cm/60 Kg
Hobi : Memasak


Karya Teater :

  • Topeng (1972),
  • Saat-saat Dramband Mengerang-ngerang (1973)
  • Angkat Puisi (1979)
  • Tirai (1984)



Filmografi :

  • Pagar Kawat Berduri (1961)
  • Bernafas Dalam Lumpur (1970)
  • Si Doel Anak Modern (1976)
  • Cinta Biru (1977)
  • Dr. Siti Pertiwi (1979)
  • Untukmu Indonesiaku (1980)
  • Djakarta 66 (1982)
  • Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985)
  • Keluarga Markum (1986)
  • Bintang Kejora (1986)
  • Laskar Pelangi (2008)
  • Under The Three (2008)
  • Garuda Didadaku (2009)


Sinetron :

  • Sebuah Pintu Kalbu (1992)
  • Dukun Palsu (1995)
  • Masih Ada Waktu (1997)


Penghargaan :

  • Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (2009)
  • Pemeran Utama Pria Terbaik Indonesian Movie Award (2009)

Umurnya memang sudah tidak muda lagi. Tapi pengalamannya di dunia seni jangan pernah ditanyakan. Awalnya saat duduk di bangku SD, pria kelahiran 19 September 1943 ini sudah diperkenalkan dengan seni dalang oleh teman Ayahnya yang selain dalang juga pembuat wayang. ...

IKRANAGARA, MAU MAIN FILM BARENG SUZANA

 
Ikranagara

Umurnya memang sudah tidak muda lagi. Tapi pengalamannya di dunia seni jangan pernah ditanyakan. Awalnya saat duduk di bangku SD, pria kelahiran 19 September 1943 ini sudah diperkenalkan dengan seni dalang oleh teman Ayahnya yang selain dalang juga pembuat wayang. Selain itu darah seninya juga mengalir, sang Ibu yang suka membaca novel membuat dirinya suka menulis, baik itu puisi maupun cerpen. Ikra juga diperkenalkan seni lukis oleh teman ayahnya.

Puisi-puisi pria keturunan Madura-Makasar dari sang ayah serta campuran Jawa-Bali dari sang ibu ini sangat dipengaruhi oleh gaya berpuisi Chairil Anwar. Puisi tersebut pernah dimuat di Koran Bali. Lalu beranjak SMA, Ikra membuat grup teater bersama Putu Wijaya yang satu sekolah dengannya. Tapi karena dirinya pemalu, maka ia memutuskan hanya menjadi pengarang saja. Melihat hal tersebut Putu Wijaya tidak tinggal diam, ia memaksa Ikra untuk bermain teater. “Selain karena Putu Wijaya, juga karena saya tidak mau jadi pemalu. Saya ini malu berhadapan dengan wanita, dan saat itu saya juga mau punya pacar seperti teman-teman yang lain,” kenangnya yang mengakui juga karena keasikan berteater dirinya pernah tidak naik kelas.

Saat pindah sekolah ke SMA Banyuwangi, ia kos dengan Armaya, seorang penyair yang membuat jiwa seni dalam dirinya semakin menjadi-jadi. Di daerah tersebut dirinya juga bergabung di HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) dengan tokohnya Hasnan Sibgodimayan. Ia mulai belajar ideologi kesenian lewat Lewat Hasnan dan Armaya.


Kemudian Ikra masuk ke Fakultas Kedokteran UGM. Tapi sayang ia semakin larut dan asyik dengan seni yang semakin melekat dalam dirinya. Impian orangtua dan masyarakat mengenai titel menjadi tidak penting lagi baginya.

Keterlibatannya di dunia film sendiri diakui Ikra karena faktor keisengan belaka. Ia selalu ditawari temannya untuk bermain film, namun dirinya selalu menolak. “Saya selalu bilang mau main film kalau bareng Suzana,” ujarnya yang di lontarkan dengan gaya bercanda. Beberapa waktu kemudian tiba-tiba ia langsung disuruh datang ke lokasi syuting untuk main bareng Suzana. Saat itu ia bermain di film keduanya yang berjudul Bernapas Dalam Lumpur.

Sekurangnya hingga detik ini sudah sekitar 13 film berhasil ia bintangi. Tidak hanya bermain film, penghargaan pun berhasil ia raih, seperti Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (2009), dan Pemeran Utama Pria Terbaik Indonesian Movie Award (2009). Kedepannya Ia ingin menerbitkan beberapa puisinya yang telah ia hasilkan. (eM.Yu)

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON