Ada yang unik dalam perjalanan karir Jenny Chang, seorang aktris pendatang baru. Pasalnya, film yang menjadi debutnya malah muncul belakangan. ”Film Karma sudah selesai syuting setahun lalu, tapi baru sekarang-sekarang ini launching-nya” ungkap Jenny suatu kali.
Urutan munculnya begini: May dirilis bulan Juni silam. Di sana, May eh Jenny (peran Jenny memang sebagai May) kebagian peran utama. Sebagai muka baru dia beruntung bisa berdampingan dengan nama besar macam Tutie Kirana, Tio Pakusadewo, Lukman Sardi hingga Ria Irawan. Tak urung namanyapun dimunculkan dalam poster. Maka, ketika film debutnya diedarkan, nama Jenny sudah terangkat dan layak untuk dipasang di poster Karma.
”Ah, peran saya di sana cuma hantu,” papar gadis berpostur jangkung ini merendah. Jenny dipasang sebagai gadis Tionghoa rantau bernama Ling Ling.
Menariknya, peran mantan atlet basket ini nyaris tanpa dialog. Sepintas memang ini mudah dijalani. ”Ah, engga juga, justru malah tegang. Kan ini baru pertama kali akting,” kilahnya. Selain itu, seperangkat prosesi aneh masih harus dijalaninya ketika pengambilan gambar. Maklumlah, Jenny berperan sebagai hantu dengan busana tradisional pula. Sejenak dia sempat curhat colongan,”Kostum hantunya panas banget.” Belum lagi gelungan konde yang membebani kepalanya. Macam itulah debut Jenny di layar lebar, tidak mudah juga rupanya.
Dilahirkan di kota Medan dua dekade silam dari ayah berdarah Tionghoa dan ibu Banten, di masa remaja Jenny sempat keranjingan olahraga bola basket. Bahkan sampai ikut-ikutan klub segala dan ikut kompetisi. ”Posisi saya center,” sergah Jenny tentang masa lalunya. Apa mau dikata, hobi itu harus kandas di tengah jalan. Keluarga Jenny menyuruhnya untuk berhenti lantaran dia sempat menderita sakit parah. ”Sebenarny karena kecapekan aja sih,” terangnya dengan mimik serius.
Lepas dari basket, Jenny mencoba-coba bidang lain. Salah satunya, pernah merasakan menjadi tenaga marketing di kota kelahirannya. Namun akhirnya justru dunia model membuatnya kepincut. ”Diajak terus, sampai engga enak untuk nolak,” kilahnya. Maka sejak tahun 1999 mulailah Jenny menjadi seorang model hingga memutuskan untuk merantau ke ibukota pada tahun 2006.
Agensi Look’s tempatnya bernaung ternyata lumayan memberikan banyak proyek. Belum setahun bergabung, Jenny sudah kebagian iklan televisi produk pasta gigi Pepsodent untuk diedarkan di Vietnam dan China. Setelah itu barulah dia mencoba debut di layar lebar. Di bawah arahan sutradara Allan Lunardi, Jenny beradu akting dengan aktor Jonathan Mulia namun baru diedarkan akhir bulan Juli ini. Sebuah peran singkat namun penting dalam film berlatar budaya Tionghoa itu.
Kembali Jenny menjalani karirnya seperti biasa, pemotretan ataupun lenggak-lenggok di atas catwalk. ”Saya sih let it flow aja. Sebenarnya yang utamanya tuh model dan mungkin ngga akan saya tinggalin sampai kapanpun,”jelas cewek kelahiran Medan 10 Agustus 1980 ini tentang prioritas karirnya. Namun dia sadar jika berkarir menjadi modelpun ada batasnya.“Model ada waktunya sih. Waktu usia sudah berapa, badannya sudah mulai melar, mungkin bisa main di film,” tutur Jenny berharap.
Harapan itu agaknya bukan omong kosong. Seorang rekan mengabarinya tentang audisi yang mencari pelakon berparas oriental. Memang dasar rezeki, Jenny kebagian peran utama dalam film arahan sutradara Viva Westi, yakni May. Sempat juga dia gugup saat berakting dengan nama besar yang bermain di sana. ”Soalnya belum pernah kan,” tuturnya sedikit minder. Sempat pula Jenny balik minta komentar tentang kualitas aktingnya dalam film itu. ”Saya sih ingin dikritik,” pintanya.
Mengangkat tema besar tentang peristiwa kelam yang pernah terjadi di negeri ini, May juga merupakan film yang mengambil banyak lokasi indah di tanah air maupun mancanegara. Tak urung, Jenny termasuk yang merasakan senangnya jalan-jalan dadakan itu. Namun ada sedikit catatan bahwa dia sudah pernah beberapa kali singgah sebelumnya di kota Kuala Lumpur. ”Karena dari Medan cuma 45 menit naik pesawat dan murah banget,” kelakarnya.
Cewek yang fasih bahasa Hokkian ini ternyata sempat tak menyadari jika film yang dimainkannya selama ini semuanya berbau oriental. Apa boleh buat, selorohnya, jika memang sudah seperti itu karakter yang dibutuhkan produser. ”Tapi pengen juga sih mainin karakter lain,” harapnya. Belakangan ini Jenny mulai lagi mendatangi tempat casting. ”Maunya sih dapat film drama,” tukasnya lagi. (bat)