BIOGRAPHY

Marshanda

 

Biodata:
Nama                           : Andriani Marshanda
Nama Panggung           : Marshanda
Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 10 Agustus 1989
Anak ke                       : 1 dari 3 bersaudara
Hobi                             : Nonton film, nyanyi, beres-beres rumah
Nama Ayah                  : Irwan Yusuf
Nama Ibu                     : Riyanti Sofyan
 
 
Filmografi:
Aktris:
  1. Petualangan 100 Jam (2004)
  2. Kalu Cinta Jangan Cengeng (2009)

Yani adalah gadis cantik yang hidup sebatang kara. Sejak ditinggalkan oleh kedua orangtuanya dia merasa seolah tidak ada lagi harapan hidup. Akibatnya, dia terjerat menjadi pemakai narkoba yang ujungnya harus tinggal di sebuah panti rehabilitasi. Tentu saja perilakunya tidak selalu ...

MARSHANDA BERHARAP AKTING SAMPAI TUA

 
Marshanda

Yani adalah gadis cantik yang hidup sebatang kara. Sejak ditinggalkan oleh kedua orangtuanya dia merasa seolah tidak ada lagi harapan hidup. Akibatnya, dia terjerat menjadi pemakai narkoba yang ujungnya harus tinggal di sebuah panti rehabilitasi. Tentu saja perilakunya tidak selalu otomatis menjadi baik, lantaran kelakuannya ternyata masih pemberang dan cepat naik pitam bahkan karena hal sepele. 

Sosok Yani di atas hanyalah karakter fiktif dalam film anyar arahan sutradara Monty Tiwa bertajuk Kalau Cinta Jangan Cengeng. Namun terbayangkah di benak anda jika sosok di atas diperankan oleh seseorang dengan citra tanpa cacat macam Marshanda? Boleh jadi semua orang meragukannya. Bahkan produser dari Sinemart Pictures yang membiayai film ini sekalipun juga bersikap serupa. ”Pak Leo bilang “ada nih Ca cerita yang karakternya beda banget sama kamu biasanya, tapi karena perannya sebagai pemakai, takut berimbas nantinya ke image kamu,” demikian tutur bintang cilik yang kini beranjak dewasa tersebut.
 
Memang, peran Caca -begitu dia biasa disapa- sebagai Yani sungguh berbanding terbalik dengan citra yang disandangnya selama ini di layar kaca. Dari anak manis kini jadi anak junkies yang tak segan-segan untuk bertindak destruktif. ”Aku mikir, ceritanya bagus, kenapa kesempatan ini engga aku ambil aja, toh perannya kan engga antagonis juga. Cuma dia korban drugs aja,” tutur dara kelahiran Jakarta, 10 Agustus 1989 ini.
 
Maka proses selanjutnya adalah bagaimana mendalami karakter sang gadis junkies. ”Aku baca skenarionya cepet banget, sebentar aja dah selesai. Karena ceritanya bagus banget jadi engga mau berhenti gitu bacanya,” terang Caca antusias. Setelah membaca, Caca melakukan observasi ke tempat rehabilitasi pengguna narkoba. Di sana dia belajar macam-macam ekspresi layaknya seorang pecandu yang sungguhan. ”Aku minta dikasih tau kalau lagi high itu gimana, kalau lagi sakaw itu gimana, kalau lagi makai itu caranya kayak apa, kalau lagi nyuntik itu gimana, aku juga diajarin cara ngeracik putaw itu gimana, karena aku kan ceritanya pemakai putaw,” lanjutnya lagi.
 
Untuk proses pendalaman karakter, Caca juga melihat referensi dari film-film lainnya seperti yang diisyaratkan oleh sang sutradara. Dengan fasih dia menyebutkan judul tersebut satu demi satu. ”Mulai The Brave One-nya Jodie Foster, Trainspotting, Girl, Interrupted sampai Detik Terakhir,” ceritanya dengan lugas.
 
Antusiasme yang ditunjukkan Caca dalam film ini agaknya wajar. Maklumlah, dia sempat menanti lama untuk bisa berakting di layar lebar. ”Aku kontrak layar lebar sama Sinemart sudah lama, tapi memang sengaja syarat aku adalah aku maunya setelah lulus SMA,” begitu ungkapnya. Mengapa harus menunggu lulus bangku sekolah? ”Kalau sudah kuliah kan jadwalnya bisa diatur,” kelit Caca.
 
Sejatinya, film ini merupakan kali kedua bagi anak sulung dari tiga bersaudara ini. Beberapa tahun silam, dia sempat bermain dalam sebuah film bertajuk Petualangan 100 Jam ini diproduksi oleh MultiVision Plus Picture. Sutradaranya Winalda Melalatoa, sedangkan penulis skenarionya adalah Jujur Prananto. Film ini dibuat ketika Marshanda masih menjadi anak emas pabrik gambar hidup dinasti Punjabi. ”Aku masih kecil banget saat itu,” kelit Caca. Dia beranggapan bahwa film itu sebenarnya hanya sebuah FTV yang diputar di bioskop.  
 
Di layar lebar kiprah Caca boleh saja masih sedikit. Namun tidak untuk di layar kaca. Berawal dari bintang iklan lalu kemudian beranjak ke sinetron, tak pelak Caca merupakan bintang papan atas di negeri ini. ”Aku baru saja menyelesaikan sinetron Aqso dan Madina, sepertinya aku mau istirahat dulu deh,” selorohnya akhir pekan lalu (31/1) di sebuah mal kawasan Jakarta Pusat.
 
Begitulah, Caca mengaku sedang senang-senangnya membereskan kamarnya. ”Selama ini kan sibuk syuting, jadi selalu terbengkalai,” tuturnya sembari bercanda. Selain itu disempatkannya juga membaca buku-buku praktis macam Chicken Soup misalnya. Dan satu lagi hobi yang tak bakal terlewat adalah nonton film. ”Seminggu bisa dua film deh,” ucapnya lagi. Film Indonesia termasuk juga dalam agendanya. ”Aku terakhir kali nonton Perempuan Berkalung Sorban sama Ben,” ucap Caca seraya menyebut nama pujaan hatinya kini.
 
Mungkin saat ini Caca mengaku break, namun bukan berarti break untuk seterusnya. ”Aku mau berakting terus sampai jadi nenek-nenek,” demikian disampaikan mahasiswi Fisip Universitas Pelita Harapan (UPH) ini dengan suara mantap. (bat)
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON