BIOGRAPHY
Qausar Harta Yudana
| Nama Lengkap | : | Qausar Harta Yudana |
| Nama Panggilan | : | Qausar |
| Tempat Tanggal Lahir | : | Banda Aceh, 2 September 1992 |
| Pendidikan | : | IKJ Jurusan Film |
| Anak Ke | : | 2 dari 6 Bersaudara |
| Nama Ayah | : | Ir. Suhardinur M |
| Nama Ibu | : | Yusnizar |
| Hobi | : | Olahraga, Akting, Nonton Film |
| Film Favorit | : | My Name is Khan |
| Musik Favorit | : | Jazz, Pop |
| Tinggi dan Berat Badan | : | 173 cm - 62 Kg |
Filmografi :
- Sang Pencerah (2010)
- Pengejar Angin (2011)
Qausar Harta Yudana, pindah ke Jakarta untuk memulai karirnya di dunia seni peran pada tahun 2005 setahun sesudah bencana tsunami menerjang tanah kelahirannya, Nangroe Aceh Darusalam. Beberapa bulan awal menjejakan kakinya di ibukota, Qausar sempat wara-wiri ke beberapa production house, ...
QAUSAR HARTA YUDANA :
Qausar Harta Yudana, pindah ke Jakarta untuk memulai karirnya di dunia seni peran pada tahun 2005 setahun sesudah bencana tsunami menerjang tanah kelahirannya, Nangroe Aceh Darusalam. Beberapa bulan awal menjejakan kakinya di ibukota, Qausar sempat wara-wiri ke beberapa production house, akhirnya bersama Cinta Manajemen mengantarkannya untuk mencicipi juara favorit ajang modeling.
Habibi dan Habibah, Samson Betawi dan Syamsul Badriah adalah beberapa judul sinetron yang menjadi tempat persinggahan untuk mengasah kemampuannya dalam berakting. Hingga akhirnya datang kesempatan di tahun 2010 untuk berperan di film biografi Ahmad Dahlan besutan Hanung Bramantyo, Sang Pencerah.
Quasar mengaku jika kemampuannya dalam berakting dipelajarinya secara otodidak dan juga diturunkan dari sang bunda yang juga seorang penari Aceh, “Aku dari kecil seneng berakting, mama aku juga penari, jadi kayanya mama aku yang nurunin bakat seni ke aku,” jelas Qausar.
Qausar menambahkan, selain menurunkan bakat berkesenian, ibu dari aktor yang berusia 19 ini juga menjadi mentornya dalam berperan, “Sebelum casting Mama kalo di mobil sering bilang, ‘kamu kalo akting biasa aja, jangan keliatan berakting, natural aja’.”
Di film Pengejar Angin yang merupakan film keduanya bersama Hanung, ternyata pemeran Dapunta yang mengaku belum pernah berkelahi dan belum pernah mengecap dasar ilmu beladiri ini sebagian besar melakoni adegan perkelahian tanpa pemeran pengganti.
“Di adegan perkelahian yang di motor, kita sempat mau pake stuntman, karena muka stuntmannya keliatan di kamera, jadi saya bilang nggak usah pake stuntman, saya cobain terus biarpun sering ngulang, dan hampir semua adegan action saya yang ngelakuin, cuma ada dua adegan yang dilakuin sama stuntman,” beber Qausar.
Pengalaman lucu saat beradu lari dengan atlit lari profesional ketika menjalani proses produksi Pengejar Angin yang memakan waktu kurang lebih 27 hari di bulan Ramadhan, dan sebagian besar mengambil lokasi di wilayah Sumatera Selatan, sempat dialami oleh Mahasiswa Jurusan Film IKJ semester tiga ini.
“Pas lawan atlit-atlit dari Palembang pada saat take pertama mereka sempet lupa kalo mereka lagi syuting, lari mereka kenceng banget, ngebut..saya ketinggalan jauh di belakang, saya bilang, ‘tolong..saya yang menang di sini’,’’ ungkap Qausar seraya tertawa.
Setalah menyaksikan hasil olah perannya di film Pengejar Angin yang merupakan film pertamanya sebagai pemeran utama, Qausar mengaku masih ingin terus mengembangkan kemampuannya dalam berakting. “Awalnya sempet deg-degan nonton filmnya, dan aku puas ngeliat akting aku, tapi aku nggak boleh stuck disini, harus melompat dan melompat lagi,” pungkas Qausar. (r2p)

Meriza Febriani Batubara
Mouly Surya
Dinna Jasanti
Petra Sihombing
Yuki Kato





