Semakin dewasa seseorang, semakin dewasa pula pola pikirnya. Pengalaman hidup yang berliku-liku, memberikan makna dan arti penting akan kehidupan dan apa yang harus dilakukan dalam mengisi kehidupan. Termasuk bagi aktor gaek, Richard Tiffany Gere atau akrab kita kenal dengan nama Richard Gere. Perjalanan karirnya yang kian panjang dan berliku, serta kehidupan religi yang membuatnya memeluk agama Budha, membawanya menjadi seorang yang memiliki nilai kemanusiaan tinggi.
Berawal pada tahun 1978, ketika Gere berwisata ke negara Nepal dan berjumpa dengan orang Tibet. Di sana ia berbincang dengan para biarawan dan lama, yang pada akhirnya membuat Gere tertarik untuk memperdalam ajaran Buddha, dan mulai mengikuti berbagai kegiatan Dalai Lama.
“Ketika saya berada di sana (Tibet), saya sangat bahagia, rakyat Tibet dapat memberikan pencahayaan kepada saya. Kesucian mereka (Dalai Lama) dapat membangkitkan cinta dan rasa empati serta rasa untuk berbagi dengan sesama,” tukas Gere.
Apa yang ia dapat saat itu ternyata membawa pengaruh kepada kehidupannya sebagai seorang aktor. Gere yang juga seorang produser, sangat mengerti akan kekuatan film yang dapat mengubah persepsi masyarakat. Untuk itu, saat ini Gere lebih banyak memainkan peran film-film yang memiliki nilai kemanusian dan keadilan yang universal.
Contohnya adalah dalam film terbaru miliknya, The Hunting Party yang tengah tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia. Bersama Terrence Howard, Gere berperan sebagai seorang pewarta TV yang memiliki idealisme tinggi, yang selalu bertugas dalam melaporkan perang. Suatu saat, idealismenya membawanya secara pribadi untuk mencari, menemukan dan menangkap penjahat perang kelas dunia dalam masa pembantaian muslim di Bosnia, yang tidak dapat ditangkap oleh CIA ataupun tentara kemanan PBB.
Apa yang dicapai oleh Gere saat ini adalah pencapaian puncak, yang pada akhinrya menyeimbangkan kehidupannya secara spiritual serta duniawi sebagai seorang aktor. Namun bagaimana perjalanan karir berakting Gere sendiri?
Richard Tiffany Gere lahir pada tanggal 31 Agustus 1949 di Syracuse, sebuah kota kecil di negara bagian Philadelphia Amerika Serikat. Di masa kecilnya, menjadi seorang aktor bukanlah menjadi impiannya, ia justru terobsesi untuk menjadi seorang atlet Olimpiade.
Namun seketika niatan itu berubah, ketika ia duduk di bangku SMP ia ditarik untuk bermain drama di sekolahnya. Putra dari pasangan Doris Anna dan Homer George Gere ini pun mulai tertarik dengan dunia seni peran. Tapi yang namanya masih berjiwa muda, masih dalam pencarian jati diri, niatan Gere untuk berkecimpung dalam seni peran pun kembali berubah. Kali ini ia ingin terjun dalam musik rock, namun kembali lagi, ia sadar bahwa dunianya bukan menjadi pemain musik rock. Maka kembalilah Gere ke dunia peran, dan menjadi seorang pemain teater adalah jalan yang ia pilih.
Tepatnya pada tahun 1969, ia bermain dalam sebuah kelompok teater Cape Cod’s Provincetown Playhouse untuk pementasan Rosentcrantz and Guildenstern Are Dead. Bahkan, sangkin cintanya ia kepada dunia hiburan ini, Gere pun memutuskan untuk berhenti kuliah, dan menolak sebuah beasiswa sebesar sepuluh ribu dollar AS yang ditawarkan kepadanya.
Disinilah masa-masa sulit Gere dalam karir bermula. Pementasan yang kerap ia bintangi selalu sepi dikunjungi penonton, hingga ia pun harus berpindah-pindah dari satu teater ke teater yang lain. Pendapatan yang pas-pasan adalah kenyataan yang harus ia hadapi ketika itu, hingga ia pun harus tinggal di sebuah apartemen kecil dan kotor.
Namun kecintanya kepada dunia hiburan tidak membuatnya menyerah begitu saja. Pementasan drama Broadway adalah jawabannya yang membuat ia kembali mendapatkan jalannya. Pada tahun 1973 Gere mendapatkan kesempatan untuk bergabung dengan New London Theatre.
Penampilannya yang begitu memukau dan sangat all out dalam pementasan yang berjudul Grease, mengangkat namanya di mata para penikmat teater di Inggris. Bahkan Sunday Ekspress memuji penampilan Gere, “A Marvelous performance by Ricahrd Gere”.
Mulai dari sini, karir Gere mulai berkembang ke peran layar lebar. Pada tahun 1977 Gere bermain sebagai pemeran pendukung dalam sebuah film thriller berjudul Looking for Mr. Goodbar, sebagai Tony Lo Porto. Setahun berikutnya, Gere kembali bermain dalam sebuah film arahan Terrene Malicks berjudul Days of Heaven. Namun kecemerlangan Gere dalam berakting baru lebih terlihat oleh publik ketika ia bermain dalam sebuah film yang sukses pada tahun 1980 berjudul American Gigolo. Namun peran Gere disini sempat menuai kritik dan membuatnya sempat menjadi simbol seks pada awal era 80-an.
Kritikan yang sempat menuai Gere kala itu, tidak membuatnya gentar. Ia terus membuktikan kalau dirinya adalah seorang calon aktor Hollywood yang patut diperhitungkan.Hal itu dibuktikannya lewat An Officer and A Gentlemen yang penjualannya mencapai penghasilan kotor lebih dari 100 juta dollar Amerika, pada tahun 1982.
Berkat film itu pula, membuat Gere menjadi lelaki pertama yang menjadi sampul muka majalah Vogue. Tidak hanya itu, perannya sebagai Zack Mayo di film tersebut diganjar nominasi Best Drama Actor dalam nominasi Golden Globe.
Karir Gere kian memuncak. Namun sayangnya, meski Gere makin laris membintangi berbagai judul film sepanjang tahun 80-an, seperti Beyond The Limit, Braethless, The Cotton Club, King David, No Mercy atau Miles From Home, tidak ada satu film pun yang berhasil menorehkan kesuksesan berarti.
Hingga pada akhirnya, pada tahun 1990, Gere membintangi sebuah film yang berhasil menjadi hit saat itu, Pretty Woman, yang ia bintangi bersama Julia Roberts. Film yang mencuri hati banyak orang itu berhasil meraih penghargaan Peoples Choice Award sebagai Best Movie.
Di tahun 1991, Gere menikah dengan super model dunia Cindy Crawford. Namun pernikahan pertamanya inihanya mampu bertahan selamaempat tahun. Pada tahun 2000 ia kembali menikah dengan Carey Lowell yang berjalan baik hingga saat ini. Dan dari perkawinannya dengan Lowell, Gere dikaruniai seorang anak bernama Homer James Jigme Gere.
Kembali ke film, kesuksesan Pretty Woman, “memaksa” Gere dan Julia untuk bersatu kembali di dunia akting lewat film Runaway Bride pada tahun 1999. Film ini berhasil menorehkan angka 152 juta dollar Amerika.
Tahun 2002, Gere membintangi tiga buah film sekaligus. Adalah sebuah film horror thriller berjudul The Mothman Prophecies, film drama Unfaithfull, dan sebuah film yang berhasil membawa Gere memenangkan Aktor Terbaik dalam Golden Globe Awards tahun 2003 berjudul Chicago. Di tahun 2004 penampilan Gere kembali terlihat dalam film Shall We Dance.
Kehidupan dunia hiburan sempat membawanya ke dalam kegelapan. Kehidupan malam dan obat-obatan terlarang sempat dijalani dalam keseharian Gere. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama karena ia menemukan pedoman yang menjadi pegangan dalam hidupnya dan menjadikannya kembali ke kehidupan yang normal, yaitu agama Budha.
Kehidupan barunya ini sempat membuatnya memutuskan mengundurkan diri dari dunia keartisan. Ia hanya menjalani kehidupannya untuk membantu orang-orang yang tertindas dengan melakukan berbagi kegiatan menggalang dana. Namun takdir berkata lain, ia akhirnya kembali ke dalam dunia yang membesarkan namanya.
“Semula saya mengira bahwa keputusan untuk berhenti berakting merupakan tindakan yang berani. Namun belakangan saya berpikir, justru tetap bermain film merupakan tindakan yang berani,” ungkapnya.
Sebuah perjalanan yang panjang bagi Gere.Pasang surut dalam kehidupannya tidak membuatnya serta merta menyerah dengan keadaan. Sebagai seorang yang memiliki nilai humanisme tinggi, saat ini ia pun masih aktif dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk dalam kegiatan sosial AIDS. Gere juga memiliki sebuah yayasan bernama Gere Foundation, yayasan sosial dan budaya untuk melestarikan Tibet. (ajo)