Salman Aristo : Terlalu Banyak Ide

Salman Aristo

Bagi anda yang menggemari film-film indonesia, nama Salman Aristo pastinya tidak asing didengar lagi. Pria yang kerap disapa Aris ini sudah membuktikan kredibilitasnya sebagai penulis skenario yang patut diperhitungkan lewat karya-karyanya yang kerap menjadi film box office. Sebut saja Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi, atau Garuda Di Dadaku. Pria kelahiran ini Jakarta 13 April 1976 ini pun menyambut ramah saat disambangi untuk wawancara bersama 21cineplex.com di daerah Cikini.

Awalnya Aris memang menyukai film dan menulis sejak kecil. Di umurnya yang masih lima tahun, ia sering  diajak orangtuanya ke gedung bioskop untuk menonton film Warkop. Sejak dari kecil itulah dirinya menjadikan menonton sebuah kegiatan utama. Sampai akhirnya ia kuliah di Universitas Padjajaran Bandung dengan mengambil jurusan jurnalistik. Hobi menulisnya ia tuangkan dengan menulis skenario film pendek, tapi itu semua menurutnya, film dan menulis skenario hanya sekedar hobi, karena ia lebih memilih bermusik. “Waktu itu memang saya benar-benar ingin menjadi musisi, karena saat itu sedang ada pergerakan musik indie, tapi saya tetap mengikuti perkembangan dunia film sampai uang saya habis untuk menonton di bioskop,” ujarnya.

Jalan menuju dunia film terbuka lebar saat dirinya menjadi wartawan di majalah musik, Trax Magazine. Ia memegang rubrik film kala itu. “Rubrik film yang saya pegang membuat saya menjadi banyak bertemu dengan orang-orang film seperti Hanung Bramantyo, Rizal Mantovani, dan Erwin Arnada yang memberikan saya banyak peluang untuk terjun di dunia film,” paparnya. Ia pun bergabung dengan Komunitas Film, Kine 28. Saat itu dirinya banyak berbincang dengan Hanung. “Waktu itu ada produser yang ingin membuat film dengan skrip saya yang sudah jadi, tapi belum ada sutradaranya, saya coba tawarkan pada produser tersebut untuk menjadikan Hanung sutradaranya. Hanung pun suka dengan skrip saya. Tapi sayangnya setelah 8 bulan berjalan, filmnya tidak jadi dibuat karena suatu hal,” ceritanya.

Hubungan dengan Hanung tidak terputus dari kerjasama yang gagal saat itu. Di tahun 2003 Hanung memproduksi Brownies bersama Sinemart, tapi ia merasa tidak cocok dengan skripnya. Ia pun meminta Aris untuk membongkar skripnya, dan akhirnya kerja sama mereka pun berhasil mengantar Hanung mendapat Piala Citra, dan Aris sendiri masuk nominasi Piala Citra untuk penulisan skenario.

Bersamaan dengan Brownies, Aris juga mengerjakan Catatan Akhir Sekolah. Diikuti berturut-turut Cinta Silver, Jomblo, dan Alexandria, semua ia buat tanpa terputus. Dan tanpa disangka, dalam kurun waktu 2 tahun ia berhasil menulis lima skenario. Saat itu pun ia menyadari dirinya harus rehat sejenak. “Saya harus rehat sejenak, karena anak bawang seperti saya tidak bagus jika terus menerus dalam putaran produksi, saya harus mengevaluasi kerja saya,” katanya.

Disaat dirinya rehat dari dunia film, ia mencoba terjun di FTv. Sebanyak 3 judul berhasil ia kerjakan. “Saya pilih FTv hanya ingin mencoba media baru, karena menurut saya kalau televisi itu media yang paling efektif untuk penetrasi kebudayaan. Contohnya waktu jamannya film Si Doel, semua orang ngomong lo, gue,” katanya.

Selesai FTv barulah dirinya ditawari untuk mengerjakan film yang menjadi box office selama berminggu-minggu, Ayat-Ayat Cinta, yang pengerjaan naskahnya ia lakukan secara kolaboratif dengan istrinya, Retna Ginatri S Noer, yang juga berprofesi sama dengan dirinya. “Saya sengaja mengikut sertakan Gina, karena di film ini dibutuhkan sudut pandang wanita,” ujar Aris yang sebelum Ayat-ayat Cinta tayang dirinya sudah menulis Garuda Di Dadaku.

Sisi kreatif seorang Aris sepertinya tidak pernah habis, ada saja ide-ide yang selalu keluar dari dirinya. Ternyata ia mempunyai kiat khusus untuk menampung semua idenya. “Ide itu bisa datang darimana dan kapan saja, untuk itu saya selalu mendisiplinkan diri mencatat semua ide yang keluar,” paparnya. “Karena bekerja di dunia kreatif ide itu terlalu banyak, yang susah justru  memilihnya,” tambahnya.

Selain mencatat semua ide yang keluar dari dirinya, untuk mendapatkan hasil maksimal naskahnya, ia selalu melakukan riset disetiap naskah film yang ia kerjakan. “Karena basic-nya saya seorang wartawan, saya biasa melakukan riset sebelum wawancara, seperti dengan mencari info sebanyak-banyaknya dengan membaca buku ataupun googling, begitu juga dengan film, saya lakukan riset setelah saya selesai membuat sinopsis,” ujarnya. “Seperti pada film Laskar Pelangi, saya pergi ke Belitung selama seminggu bersama Andrea Hirata. Saya banyak melakukan wawancara dengan tokoh asli dalam film tersebut, dan pastinya selama seminggu saya selalu mewawancarai Andrea,” tambahnya.

Sekarang, Aris mengakui dirinya sudah nyaman dengan profesinya. Untuk kedepan ia punya obsesi tersendiri. “Saya mau mencoba menggeser diri saya menjadi filmmaker yang lebih komplit dengan menjadi produser,” harapnya. (eM.Yu)

Nama Lengkap :  Salman Aristo
Nama Panggilan :  Aris
Tempat/Tanggal Lahir :  13 April 1976
Nama Istri  :  Retna Ginatri S Noer

 

Filmografi :
   
Screenwriter :

  • Brownies, Sinemart, 2004
  • Catatan Akhir Sekolah, Rexinema, 2005
  • Cinta Silver, Rexinema, 2005
  • Jomblo, Sinemart, 2005
  • Alexandria, Rexinema, 2005
  • Ayat-Ayat Cinta, MD Entertainment, 2007
  • Karma, Elang Perkasa Film, 2007
  • kambingjantan.com, Vito Production, 2008
  • Laskar Pelangi, Miles, 2009
  • Hari Yang Baik Untuk Amanda, Inter Film, 2009
  • Garuda di Dadaku, SB0, 2009
  • Sang Pemimpi, Miles, 2009
  • Super Pelangi, SBO, 2008 [on developement]
  • Ronggeng Dukuh Paruk, Salto, 2009 [on developement]

 


Storywriter :

  • Asmara Dua Diana, Winmark Pictures, 2009
  • Party Prita, Winmark Pictures, 2008 [on progress]

 

Producer :

  • Aries, 2005 [dir. Faozan Rizal]
  • Foto Kotak dan Jendela, Spidolhitam, 2006 [dir. Angga D. Sasongko]
  • Jelangkung III, Rexinema, 2007 [dir. Angga D. Sasongko]
  • Asmara Dua Diana, Winmark Pictures, 2008
  • Party Prita, Winmark Pictures, 2008 – on progress
  • Queen Bee, Million Pictures, 2009