
Namanya mungkin lebih berkibar di dunia sinetron dan FTV. Tidak mengherankan karena memang baru 3 judul film layar lebar yang disutradarainya. Ikut tren. Begitu alasannya ketika ditanya kenapa memulai debut karirnya lewat film horror “karena waktu itu kebetulan memang film horror yang sedang tren”, begitu alasan pria yang juga berprofesi sebagai dosen sinematografi di Next Academy ini.
Toto merasa sangat bangga bisa menyutradarai film Capres (Calo Presiden), menurut sutradara yang dulunya jebolan fakultas ekonomi ini, film Capres bisa menjadi alat komunikasi kepada penonton untuk menyampaikan pesan bahwa bangsa Indonesia itu merupakan bangsa yang besar serta jangan selalu merendahkan bangsanya. “Pokoknya film ini ingin menyentil nasionalisme masyarakat hingga lapisan terbawah.”
Itulah sebabnya ia juga sangat selektif dalam memilih pemain, menurutnya film ini harus dimainkan oleh aktor-aktor yang berkarakter kuat. Maka dipilihlah nama-nama seperti Dwi Sasono, Sudjiwo Tedjo, Catherine Wilson, dan masih banyak lagi. Bukan hanya faktor pemilihan pemain saja, namun masih banyak kendala yang harus dihadapi Toto dilapangan, misalnya faktor waktu syuting yang hanya 16 hari.
Ada scene-scene yang menurut Toto lumayan sulit dilakukan dalam film ini yaitu scene saat mobil terbalik. Kenapa sulit? Karena budget yang terbatas dan mobil nggak boleh 2 kali diambil takenya, jadi harus sempurna dan faktor bahaya juga harus diperhitungkan. Namun di scene ini juga Toto merasa ‘dapat’ kepuasan, selain tentunya scene transisi antara Hartono kecil dengan Hartono dewasa, serta scene ketika dimana si kembar Hartono sungguhan dan Hartono tukang sate bertemu di Rumah Sakit.
Ketika ditanya tentang style penyutradaraannya, pria yang penuh senyuman ini mengatakan kalau teman-temannya sering menjulukinya sutradara yang santai , “Saya pikir kalau kerja dibuat stress malah makin kacau.”
Buat seorang Toto Hoedi, film adalah komunikasi melalui gambar serta dialog, dan sutradara adalah komunikatornya. Pria yang dulunya pernah berprofesi sebagai penyiar radio Suara Kejayaan (SK) ini juga memiliki suatu obsesi untuk menjadikan menonton itu suatu budaya, serta menjadikan namanya sebagai jaminan saat penonton akan memilih sebuah film.
Mengawali karirnya dari nol, membuat penggemar film G30S/PKI ini konsen terhadap perkembangan sineas di seluruh nusantara. “Saya sangat senang kalau misalnya disuruh pergi ke daerah-daerah asalkan untuk urusan film pasti akan saya kerjakan, karena saya juga dulu merasakan bagaimana rasanya berjuang seperti mereka."
Lewat film ketiganya, sutradara yang sebelumnya menyuradarai film-film horror seperti Film Horor (Scary Movie Indonesia) dan juga Hantu Aborsi ini ingin manyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar lebih mencintai tanah airnya.“Tancapkan merah putih didada kamu karena sejelek apapun, ini tetap negara kamu.” (Ind)
| Nama Lengkap | : |
Toto Hoedi
|
|
Tempat Tanggal Lahir |
: | Jakarta, 3 September |
| Tinggi/berat badan | : | 165 Cm/65 Kg |
| Anak ke | : | 7 dari 9 bersaudara |
| Film Favorit | : | Grace, G30S/PKI |
| Sutradara Favorit | : | Michael Bay, Steven Spielberg, Oliver Stone, Arifin .C. Noer |
| Musik Favorit | : | Barbara Straissand dan Michael Jackson |
| Makanan dan Minuman Favorit | : | Tempe, tahu, lemon tea |
| Quote | : | Honesty is the Policy |
Filmografi :
- Film Horor (2007)
- Hantu aborsi (2008)
- Capres (Calo Presiden) (2009)


Aldy Zulfikar : Grogi Sekaligus Senang
Noah Ringer : Taekwondo, Pintu Menuju Hollywood
Hasan Faruq Ali : Mimpi Yang Jadi Kenyataan
Megan Fox : Si Rubah Jelita
Chindy Anggrina : “Akting Itu Nagih!!!”
Kimmy Jayanti : Peran Sesuai Karakter Diri
Herfiza Novianti : Antara Karir dan Pendidikan
Ratu Tika Bravani : Dunia Hiburan Abstrak
Rini Yulianti : Semakin Fokus Di Dunia Akting
Laura Basuki: Image Lebih Mahal Daripada Uang
Grace J. C. Setiawan: Dokter Akting
Anita Hara: Suka Tantangan
Reynavenzka: Tidak Mau Ditindas Lelaki
Aurellie Moeremans: Lari Sambil Menutup Mata
Samuel Zylgwyn : Masih Harus Belajar
Imelda Therine: Pemakan Manusia Yang Takut Darah
Gina S. Noer: Membaca Putu Wijaya Di Kelas 4 SD
Fanny Fabriana: Ingin Jadi Orang Jahat
Reza Rahardian: Akhirnya Raih FFI
Desta: Ingin Main Film Joko Anwar