BIOGRAPHY

Uli Auliani

Biodata:

Nama : Uli Auliani
Tempat, tanggal lahir : Bandung, 20 November 1985
Anak ke : 2 dari 2 bersaudara
Nama Ayah : Surachman
Nama Ibu : Siti Suhanah
Tinggi Badan : 169 cm
Berat Badan : 45 kg
Hobi : Membaca, menyelam, berkuda

 

Filmografi:

1. Virgin (Ketika Keperawanan Dipertanyakan) (2004)
2. Maskot (2006)
3. Legenda Sundel Bolong (2007)
4. Pulau Hantu 2 (2008)
5. Kadang di Atas Kadang di Bawah (2008)

Mulanya hanya sekadar hobi, kemudian ditambah ambisi dan sedikit keberuntungan, maka jadilah karir itu dalam genggaman. Uli Auliani memulai hobi foto-fotonya sejak usia sekolah di kota kelahirannya, Bandung. Ternyata kian lama, kian maju. Tak puas hanya di gambar mati, mulailah ...

ULI AULIANI HOKI BERWAJAH BUNGLON

 
Uli Auliani

Mulanya hanya sekadar hobi, kemudian ditambah ambisi dan sedikit keberuntungan, maka jadilah karir itu dalam genggaman. Uli Auliani memulai hobi foto-fotonya sejak usia sekolah di kota kelahirannya, Bandung. Ternyata kian lama, kian maju. Tak puas hanya di gambar mati, mulailah dia merambah ke gambar hidup, layar beling hingga layar lebar, sampai saat ini.

“Dulu memang saya senang aja difoto-foto hingga dikontrak sebuah agency di Bandung,” demikian kelahiran 20 November 1985 ini membuka percakapan. Jagat modeling itu dilakoni terus sejak bangku SMP hingga Uli mulai merasa jenuh. “Bandung itu kan kecil ya. Saya sudah tampil di mal-mal, kafe-kafe, diskotik-diskotik,” paparnya menggambarkan kegiatan di masa lalu.

Sebenarnya saat masih di Bandung sudah ada panggilan untuk casting sinetron. Namun Uli agak enggan untuk menjalani. “Habisnya kan belum beres sekolah,” kelitnya. Barulah di tahun 2002, usai membereskan bangku sekolah Uli melakoni profesi anak wayang dengan sepenuh hati. Sebuah sinetron panas bertajuk Lautan Asmara menjadi peran pertama yang diterimanya sebagai aktris.

Sejak itulah peran demi peran di televisi mulai menghampirinya. Sutradara macam Sam Sarumpaet atau Hanung Bramantyo, menjadi tempat Uli belajar akting. Ujung-ujungnya, penampilan mojang satu ini memikat sutradara Hanny Saputra untuk bergabung dalam proyek film Virgin (Ketika Keperawanan Dipertanyakan) pertengahan tahun 2004. ”Saat casting penampilan saya dibilang cuek dan eksotik,” lanjut Uli memaparkan alasan sang sutradara ketika itu.

Bukan peran utama memang, namun debut di film remaja itu mungkin momen yang monumental bagi Uli. ”Hari pertama syuting saya bukannya take, tapi malah disuruh ditindik dan ditato dulu,” tuturnya mengenang saat itu. Mulai dari lidah, telinga hingga puser Uli ditempeli benda asing untuk mendukung perannya sebagai musuh dari geng trio peran utama.

Momen lain yang juga akan dikenangnya terus adalah reaksi penonton. Ketika itu Uli bersama keluarga baru keluar dari bioskop Bandung Indah Plaza. Mendadak datang seorang ibu menamparnya seraya berkata,” Eh Luna, gue ngga suka sama gaya elo ya.” Bukannya takut, Uli malah senang mendapat reaksi demikian. ”Tandanya peran saya sebagai Luna berhasil dong di film itu,” cerita anak bungsu ini sambil tertawa. Apalagi jika mengingat film ini termasuk laris di pasaran hingga mencapai lebih dari saatu juta penonton.

Langkah Uli berikutnya mulai terasa ringan di layar lebar. Robin Moran, sineas yang lama bermukim di negeri paman Sam, mengajaknya bermain dalam film Maskot. Sebuah peran utama rupanya. Di sana Uli kebagian peran menjadi kembang desa yang selalu berkebaya bernama Maruti. ”Cocok untuk saya yang berwajah kampung,” celoteh Uli lagi. Pengambilan gambar film ini dilakukan di Kebumen. Agaknya, kendati mendapat peran utama, Uli kurang bisa menikmati pekerjaannya dalam proyek ini. Sosok Robin di matanya terlalu serius. ”Ngga pernah bercanda,” sergahnya lagi.

Kondisi berbeda dirasakannya saat kerja bareng sutradara Hanung Bramantyo di tahun 2007. ”Mas Hanung enak diajak bercanda,” demikian komentarnya atas sosok yang mengarahkannya dalam Legenda Sundel Bolong. Dengan suasana santai macam ini, Uli bisa belajar banyak dari sang sutradara peraih Piala Citra. Hanung, lanjut Uli, juga memuji wajah bunglonnya.”Alhamdulillah, wajahku untuk gadis desa bisa, jadi bitchy juga bisa,” terang Uli.

Dan yang membuatnya girang ternyata namanya tercantum dalam deretan peran utama. ”Sebuah kehormatan besar buat aku. Scene aku nggak banyak, malah lebih sedikit daripada Om Tio Pakusadewo,” ceritanya lagi dengan bangga.

Di luar kegiatan syuting, sekali-sekali Uli masih sempat menggeluti hobinya, mulai dari membaca hingga menyelam. Tak hanya di perairan lokal yang sudah dicemplunginya, perairan mancanegara macam pantai di Mesir atau di Meksiko pernah juga disambanginya. Dasar hoki, di film berikutnya malah Uli kebagian peran berbasah-basah.

”Waktu casting, persyaratannya adalah harus bisa menyelam,” ungkapnya tentang peran dalam film Pulau Hantu 2. Klop sudah. Sudah liburan gratis ke laut Bunaken, dibayar pula. Siapa yang tak mau?

Galibnya film yang berlokasi di pantai, Uli diharuskan untuk berbusana minim. Pun dengan filmnya yang berikut, Kadang di Atas, Kadang di Bawah Uli berperan sebagai penari striptease. Kok sepertinya peran-peran seksi terus sih yang diterima macam debutnya di sinetron Lautan Asmara atau film Virgin? Dengan jujur Uli mengungkapkan,”Habisnya sex appeal-ku tinggi katanya.” Halah.

Walhasil, Uli pasrah jika memang rezeki yang harus diterimanya dengan cara demikian. ”Memang sudah jalannya begitu, mau bagaimana lagi. Habisnya akting sudah mendarah daging sih,” paparnya cuek. (bat)

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON

 
www.vidfor.me