BIOGRAPHY

Yama Carlos

 

Data Pribadi

Nama : Hamba Ramanda

Tempat Tgl Lahir : Semarang, 28 Desember 1980

Nama Panggilan : Yama Carlos

Orang Tua : Carlos Roxas Carcia (ayah) & Mehas Festi Mariani (ibu)

Hobi : Basket, Renang

Filmografi

- Belahan Jiwa (2005)

- Angker Batu (2007)

- Merah Itu Cinta (2007)

- In The Name Of Love (2008)

- May (2008)

- Pencarian Terakhir (On Progress)

Pemilik nama asli Hamba Ramanda ini, akrab dikenal dengan sapaan Yama Carlos. Anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Carlos Roxas Carcia dan Mehas Festi Mariani ini mengawali karirnya di dunia hiburan, sebagai model. Panggung catwalk sudah mulai ia geluti sejak ...

YAMA CARLOS

 
Yama Carlos

Pemilik nama asli Hamba Ramanda ini, akrab dikenal dengan sapaan Yama Carlos. Anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Carlos Roxas Carcia dan Mehas Festi Mariani ini mengawali karirnya di dunia hiburan, sebagai model. Panggung catwalk sudah mulai ia geluti sejak tahun 2001 hingga pada akhirnya ia masuk ke dalam sebuah agency model ternama, Look Model di tahun 2004. Namun bukannya menjadi tambah pede untuk terjun di dunia model, pria bertubuh atletis ini justru menyadari bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan dan akan kalah bersaing nantinya.

“Model-model cowok yang sekarang kepake, yang sehari bisa 3 kali show itu adalah model yang punya tinggi badan 180 ke atas, dan mereka itu indo atau oriental, sedangkan gue, dari tampang aja gue Indonesia banget,” ungkap Yama. Dan akhirnya, pria yang juga terjun di dunia iklan ini menyadari bahwa pertempuran di dunia modeling sangat ketat, dan ia akan tersisih.”Itu gue sadarin banget, kalo terus di dunia modeling gue ngga akan berkembang,” ujar Yama.

Menyadari hal tersebut, Yama akhirnya memilih banting stir, dan pilihannya adalah dunia akting. Perjalanan pria kelahiran Semarang 28 Desember 1980 ini untuk mencicipi dunia akting sendiri tidaklah mudah, karena lagi-lagi ia sadar diri bahwa dirinya memiliki kekurangan yang cukup berpengaruh untuk terjun ke dunia akting. “Gue punya kekurangan, gue punya penyakit gagap,” ungkap Yama.

Sebuah hambatan yang cukup besar bagi Yama untuk terjun ke dunia akting. Tetapi untungnya, Yama memiliki teman yang begitu care dengannya. Mereka adalah teman dekat Yama, yang selalu memberikan dorongan dan menyadari bahwa Yama memiliki bakat dalam berakting.

“Temen deket gue ngga lebih dari 10 oranglah, mereka yang nyaranin gue untuk terjun ke dunia akting,“ jelas Yama. Bahkan diakui oleh Yama, mereka juga yang justru melihat adanya bakat akting di dalam diri Yama. “Teramat care-nya mereka sama gue, sampe-sampe mereka yang justru ngeliat bakat yang ada di diri gue, dan mereka percaya sama gue kalo gue bisa.”

Yama bukanlah sosok yang dekat dengan keluarga. Ia tinggal sendirian di Jakarta, sementara kedua orang tuanya tinggal di Surabaya. Karena itulah, ia lebih banyak mendiskusikan masa depannya dengna teman-temannya. Orang tua sebatas memberikan kekuatan dan dorongan. “Mereka cuma nanya gue yakin apa ngga sama keputusan yang gue ambil. Kalo emang gue yakin mereka ngingetin kalo gue harus ngejalaninnya dengan serius.”

Walaupun Yama telah memiliki nama di dunia model, bukan berarti langkahnya dengan mudah menapaki dunia akting. Dia harus menjalani casting demi casting seperti oran kebanyakan. Kegagalan demi kegagalan yang dialaminya membuat Yama sempat ragu, apakah memang pilihannya untuk meniti karir di dunia akting sudah benar adanya.

“Banyak yang ngeledekin gue, kata mereka ‘Gagap mana bisa main film.’ Awalnya beban dan gue ngerasa sedih banget, tapi gue memotivasi diri gue dengan menganggap bahwa kekurangan adalah kelebihan.”

Kesabaran dan ketabahan memang selalu berbuah manis. Ia akhirnya mendapat peran dalam film Belahan Jiwa (2006), arahan Sekar Ayu Asmara. Meski tidak mendapat porsi yang besar, Yama mengaku mendapat pengalaman yang cukup berharga sebagai awal karirnya itu.

Untungnya, saat syuting, penyakit gagap yang dideritanya bisa hilang begitu saja. “Ngga tau kenapa ya, kalo gue berhadapan dengan kamera, gagap gue itu bisa ilang gitu aja. Kayak udah ke-slot aja di otak gue kalo gue ngga boleh gagap saat itu.” Walaupun sesekali masih muncul juga.

Setelah berhasil membuktikan bahwa ia bisa bermain di layar lebar, Yama kemudian menguji keberuntungannya di layar kaca. Di tahun yang sama, ia bermain dalam sebuah serial TV bertajuk Arisan The Series.

Mendapat kesempatan yang cukup besar, Yama pun tidak mau menyia-nyiakannya. Latihan dan latihan dilakukan oleh Yama untuk bisa mengurangi gagapnya itu. “Gue belajar bicara lancar, mulai dari baca koran atau majalah,” ungkap Yama. Bukan hanya sekedar membaca, Yama melakukannya dengan tehnik olah vokal. “Bacanya gue ucapin dengan tehnik vokal tertentu, misalnya satu paragraf gue pake suara perempuan, trus satu paragrafnya lagi gue pake suara anak kecil, lebih ke hal-hal yang gitu aja sih,” terang Yama. Akhirnya Yama pun dapat melewati akting perdananya di layar kaca dengan mulus.

Keyakinan Yama semakin bertambah setelah serial TV tersebut. Casting demi casting terus ia jalani hingga ia mendapatkan peran utama dalam film arahan Jose Poernomo berjudul Angker Batu. Disinilah titik awal bagi Yama untuk masuk dan berkembang dalam dunia layar lebar. Namun apa yang menjadi tantangan titik tolak awal bagi Yama, tidaklah mudah ia dapatkan. Ia harus membuktikan ke Jose Poernomo kalau dirinya memang mampu dan layak untuk memerankan Yudha di film tersebut.

“Apapun pendapat orang tentang Angker Batu, gue ngga gampang untuk dapetin peran Yudha disitu, gue harus bolak-balik tujuh kali casting, dan di setiap casting gue selalu ditantang sama mas Jose untuk bisa meranin Yudha,” cerita Yama. “Thanks to mas Jose Poernomo. Gue bener-bener dididik keras dan dia pengen gue maju. Itu yang gue dapet dari seorang Jose Poernomo,” tambah Yama.

Didikan Jose tak percuma. Setelah Angker Batu, Yama mulai menjadi incaran banyak sutradara, mulai dari Rako Prijanto dalam Merah Itu Cinta, Rudy Soedjarwo dalam In The Name Of Love, serta dua buah film terbarunya yang berjudul May dan Pencarian Terakhir yang akan segera tayang di bioskop Indonesia.

Puaskah Yama dengan apa yang telah dicapai olehnya? “Yang jelas gue pengen banget sekolah akting buat ningkatin lagi kualitas akting gue,” ujar Yama yang dulu senang menonton film-filmnya Jackie Chan.

Yama pribadi tidak berharap muluk-muluk dari karirnya di dunia akting. “Cita-cita gue adalah gue ingin diakui oleh para sineas lain dan penonton.” Hanya waktu yang bisa memberi bukti. (ajo)

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON