Ifa Isfansyah : Sang Penari Pekerjaan Cinta

 

Setelah menyedot animo tidak kurang dari satu juta penonton dalam film Garuda Di Dadaku, sutradara muda berbakat Ifa Isfansyah kembali menelurkan karya sinema dengan tajuk Sang Penari yang mengadaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari. Film yang disebut oleh ...

Posted By: Erfanintya M. P., 07 November 2011

Setelah menyedot animo tidak kurang dari satu juta penonton dalam film Garuda Di Dadaku, sutradara muda berbakat Ifa Isfansyah kembali menelurkan karya sinema dengan tajuk Sang Penari yang mengadaptasi novel Ronggeng Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari. Film yang disebut oleh para pemeran dan tim produksi sebagai labour of love, diakui oleh Ifa menjadi salah satu film yang menguras dan menghabiskan energinya.

Ifa pun merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab dari pemotongan reel film sepanjang 100 meter dari film Sang Penari. Karena ia merasa tidak bisa memperjuangkan kerja keras dari para pemain dan tim produksi dari film Sang Penari yang menurutnya setiap karya film itu akan menjadi karya yang abadi. 

Ditemui oleh 21cineplex.com di acara konferensi pers Sang Penari di pusat perbelanjaan bilangan Sudirman, Ifa yang juga menuliskan skenario untuk film Rindu Purnama arahan Mathias Muchus bercerita banyak tentang film Sang Penari yang akan segera tayang pada tanggal 10 November 2011.

Kenapa Anda mengangkat novel Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari untuk difilmkan?

"Yang jelas kalo sudah baca novelnya, apalagi saya sebagai sutradara dan sebagai pecinta film Indonesia, novel ini cepat atau lambat harus difilmkan, penting bagi Indonesia untuk punya karya seperti ini, terlepas director-nya siapa, tinggal masalah kapan film ini untuk dieksekusi. Dan ketika saya ditawarin, ya… buat saya ga ada alasan untuk bilang nggak."

Apa yang menjadi dasar penilaian bagi Anda untuk menjadikan novel ini penting? Apa yang menarik dari cerita novel ini?

"Novel ini literatur, bukan sekedar novel, tapi menjadi lembaran-lembaran saksi yang tidak banyak buku seperti ini. Menariknya tidak hanya di ceritanya, saya percaya buku ini hidup, harus ada turunan dari media lain yang bisa membuat buku ini kembali bisa dibaca lebih luas lagi."

Ada tema tentang kejadian 1965 di film ini, seberapa besar porsi antara romansa cinta dengan muatan politik dalam film ini?

"Saya 100% concern ke tema cinta, film ini menggambarkan dari sudut pandang Rasus tentang kisah cintanya dengan Srintil yang terjadi pada jaman yang salah. Politik menjadi background dari film ini, saya tidak concern ke politik, saya tidak tertarik politik dan sudut pandang saya disini 100% adalah cinta."

Tapi tidak bisa dipungkiri dalam film ini menggambarkan kejadian tragis di tahun 1965.

"Memang tidak bisa dipungkiri di film ini menggambarkan peristiwa itu, sebenarnya ini bukan sebuah pola yang baru dalam formula membuat film, contohnya Titanic, percintaan di film Titanic adalah kisah percintaan biasa tapi terjadi dalam sebuah kecelakaan yang besar, se-simple itu aja."

Jadi Anda berharap penonton lebih menangkap tentang tema percintaan?

"Terserah penonton interest mau melihat dari sudut pandang politik atau cinta, itu nggak menjadi masalah buat saya, justru hal ini yang saya suka dari film ini karena bisa dilihat dari layer-layer yang berbeda, tapi kalo ditanya ke saya, saya lebih concern ke kisah cinta Rasus dan Srintil."

Proses pembuatan dari film ini membutuhkan waktu 3 tahun. Di mana hambatannya?


Bukan hambatan sebenarnya, memang proses film ini membutuhkan waktu sebanyak itu, sebenarnya kita punya sesuatu yang tidak dimiliki film lain,yaitu waktu. Kita punya waktu yang cukup lama sehingga saya bisa mem-push para pemain untuk tidak berakting tapi menjadi, Oka menjadi Rasus, Pia menjadi Srintil, dan ketika para pemain sudah menjadi karakter yang diperankannya, di lokasi saya sangat enak, saya tinggal ngobrol aja apa yang ingin dilakukan, dan proses pembuatan film ini mengalir begitu saja.

Adakah treatment yang berbeda dari pengerjaan film Sang Penari?


Saya menggunakan konsep directing yang sangat-sangat sederhana sekali di film ini, blocking pemain sederhana, movement kamera ngga ada, saya syuting semuanya pake tangan, misalnya kalo pergerakan kamera ke kanan bisa pake tangan kenapa harus pake alat, konsepnya sangat sederhana sekali, dan hal ini yang menjadi perbedaan, saya ngga ada tuntutan khusus di film ini.

Dengan banyaknya properti yang menciptakan realitas di tahun 1965, berapa budget yang dihabiskan untuk film ini?

Itu pertanyaan buat produser, kalo ditanya bayaran saya berapa itu saya bisa jawab,hahahaha….

Dalam konferensi pers Anda mengatakan akan selamanya dengan Shanty Harmayn (Produser), apakah akan menjadi duet baru seperti Riri Riza dan Mira Lesmana?

Chemistry itu kan ngga bisa dipaksakan, yang saya rasain kita punya energi yang sama, kami tidak terlalu merancang sesuatu, semua mengalir secara organik.

Adakah rencana untuk mengirmkan Sang Penari ke festival film?

Pasti, tapi bukan dalam konteks untuk memenangi award, tapi dalam konteks film ini bisa ditonton orang sebanyak-banyaknya karena pangsa pasar penonton bioskop Indonesia dan luar negeri itu berbeda.

Tadi dalam konferensi pers film Anda menuai banyak menuai pujian dari para penonton dan jurnalis film, bagaimana anda menanggapinya?

Ini bukan masalah pencapaian ku disni seberapa besar, setiap dapat award atau reward, muncul kemudian pemikiran yang lebih besar adalah bagaimana mempertahankan dan menjaganya, seperti saat film pertama saya Garuda di Dadaku ditonton oleh satu juta orang lebih penonton, saya seneng tapi kemudian muncul pemikiran adalah bikin film apa lagi nih.

Garuda Di Dadaku mengusung tema nasionalisme, Sang Penari juga menyisipkan tema nasionalisme, apakah tema nasionalisme menjadi ciri dari film arahan Anda?

Saya ga pernah secara sengaja untuk mencitrakan diri saya sebagai pembuat film nasionalisme, itu hanya penilaian dari penonton film saja, saya hanya percaya membuat  film yang menurut saya bagus apapun itu temanya.

Harapan anda untuk film Sang Penari?

Harapan saya film ini bisa komunikatif, karena film ini sederhana sekali, kalo sampe ada orang yang ngga mudeng sama ceritanya sama pingin ketemu sama orang itu, karena buat saya film ini ringan sekali, secara cerita film ini menceritakan kisah cinta biasa, cerita cinta biasa.

Ingin membuat film dengan tema seperti apa lagi?


Saya bukan orang yang merencanakan dan mendesain hidup saya, saya hanya ingin berbuat baik dengan membuat film.


Sudah siap memborong penghargaan?


Itu bukan target saya, di film ini saya berkerja dengan orang-orang  yang sudah dalam tahap tidak ingin membuktikan sesuatu, jadi mengalir saja.



 

COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z
 
 

COMING SOON