Ingin Tingkatkan Kualitas Horor, Abimana Aryasatya Jadi Co-Produser di Sebelum Iblis Menjemput

 

  Setelah tampil di depan layar sejak tahun 1995 lewat serial Lupus dan membintangi lebih dari 20 layar lebar, Abimana Aryasatya akhirnya menjalani debutnya di belakang layar sebagai co-produser di film Sebelum Iblis Menjemput. Ini adalah impiannya sejak lama setelah sekitar ...

Posted By: Alit Bagus Ariyadi, 04 Agustus 2018
abimana aryasatya
 
Setelah tampil di depan layar sejak tahun 1995 lewat serial Lupus dan membintangi lebih dari 20 layar lebar, Abimana Aryasatya akhirnya menjalani debutnya di belakang layar sebagai co-produser di film Sebelum Iblis Menjemput. Ini adalah impiannya sejak lama setelah sekitar 20 tahun berkecimpung di industri hiburan tanah air.
 
Co-produser adalah seorang produser yang melakukan sebagian besar fungsi produksi kreatif atau yang terutama bertanggung jawab untuk satu serta lebih fungsi memproduksi manajerial. Sadar dengan tanggung jawab besarnya itu, Abimana berusaha keras agar hasilnya tidak mengecewakan di proyek perdananya di belakang layar.
 
Karena baru pertama kali sebagai co-produser, bintang Warkop Dki Reborn: Jangkrik Boss ini mengaku banyak belajar dalam produksi layar lebar. Apa saja tugasnya sebagai co-produser? Kenapa memilih genre horor sebagai debutnya di belakang layar? Berikut adalah wawancara eksklusif 21Cineplex.com bersama Abimana, di Plaza Indonesia XXI, Jakarta Pusat.
 
Bagaimana awalnya Anda bisa menjadi co-produser di film Sebelum Iblis Menjemput?
"Gue nggak pernah memilih. Gue dipilih, sama halnya ketika jadi aktor juga begitu, kayaknya asik. Gue sesederhana itu sih, ribet bro mikir panjang-panjang, hidup sudah susah. Gue belajar 20 tahun di bisnis ini dan itu nggak mesti ke sekolah kan."
 
Kenapa memulainya dengan genre horor?
"Gue dari dulu memang ingin di belakang layar. Horor karena sutradranya (Timo Tjahjanto) lagi tertarik itu, dia kan sukanya kalau nggak horor ya action. Awalnya ya dia (Timo) telefon gue, bilang lagi ada proyek sama Wicky V. Olindo (produser), belum ada skenarionya tapi proses berjalan aja."
 
Pengalamannya bagaimana nih jadi co-produser untuk kali pertama?
"Banyak belajar dan pengalaman juga, sama sakit kepala. Apalagi urus Timo itu agak susah, kita tipe orang yang beda. Timo serta Kimo Stamboel (Mo Brothers) mungkin tipenya sama, kita sering berantem tapi sepakat untuk tidak sepakat dalam banyak hal juga sih. Gue orangnya sederhana, jalanin aja, ada kesempatan coba jalanin serta lihat produknya kaya bagaimana. Gue banyak urusin kerjaan lain juga sih karena ini baru pertama dan gue perfectionis, gue takut ada kesalahan."
 
Perdebatan apa yang biasanya terjadi antara Anda dengan Timo saat menggarap Sebelum Iblis Menjemput?
"Sering, tapi ribut teman, kayaknya memang tugas gue ribut sama dia (Timo) karena yang jaga supaya nggak keluar dari jalur itu gue. Pertama, untuk lulus sensor 17 tahun itu tugas pertama gue, lu kan tahu film dia biasanya kan 21 tahun ke atas. 
 
Pemilihan pemain kan juga tugas Anda, kenapa akhirnya menggandeng Pevita Pearce dan Chelsea Islan sebagai pemeran utama?
"Pemain memang gue yang pilih, tujuannya jujur aja biar box office. Mereka (Chelsea dan Pevita) itu aktor kelas A, marketnya sudah jelas, tinggal menekan keduanya untuk bisa keluar dari zona nyamannya, Memang yang harus ngomong (nego) itu sesama aktor. Akhirnya keduanya terima tantangan tersebut."
 
Susahkah Anda meyakini Chelsea Islan dan Pevita Pearce untuk main di Sebelum Iblis Menjemput?
"Gue aktingnya lebih jago dari mereka jadi nggak susah ha ha ha. Gue bilang, ini (Sebelum Ibis Menjemput) bisa berikan value buat keduanya, minimal masuk kompetisi di luar negeri. Gue percaya aktor itu nggak melulu soal uang, mereka kadang ingin memiliki filmnya dan itu sudah terlihat. Gue belajar dari pengalaman yang sudah-sudah lah."
 
Apa film Sebelum Iblis Menjemput bakal ikut festival di luar negeri?
"Genre horor itu pasarnya nggak cuma di sini (Indonesia), gue juga mikir distribusi luar makanya gue masukin ke kompetisi dan spesial screening. Rencananya bakal ke Spanyol, Perancis, serta Amerika Serikat, tujuannya untuk menunjukkan kalau film ini dibuat dengan sangat layak. Gue juga ingin layar lebar horor nggak dianggap ecek-ecek, kita bisa bersaing karena yang nonton dunia kita harus tingkatin terus. Kompetisi dan festival itu untuk ketemu distributor, dia yang tahu mau jual kemana. Tujuannya bukan buat gaya-gayaan tapi cari sales."
 
Capek kah menjalani debut jadi co-produser?
"Capek secara fisik nggak, lebih banyak ke pikiran sih, karena kru 160 orang dengan pemikiran beda-beda, semua komplain mulu. Gue jawabanya 'Ya gue juga maunya begitu,' tapi nalar aja kadang harus keras juga sih."
 
Menurut Anda bagaimana genre horor di Indonesia saat ini?
"Menurut gue sekarang membaik ya, market dan kualitasnya. Nah tugas gue adalah menekan terus biar production value-nya terus meningkat. Gue sebenarnya nggak terlalu mempersoalkan genre, tapi kalau untuk dijual ke luar negeri, horor dan action punya potensi besar."
 
Setelah jadi co-produser apakah kamu bakal mundur dari depan layar sebagai aktor?
"Nggak. Ini kan tekhnik bro biar keliatan mahal ha ha ha. Ya lihat aja nanti."
 
Sebagai co-produser apa tujuan Anda di Sebelum Iblis Menjemput?
"Goal gue sudah selesai sebenarnya yaitu pak Wicky puas. Kalau urusan festival itu dan jumlah penonton yang bagus nantinya itu bonus. Gue nggak dibebankan dalam urusan balik modal."
 
Setelah ini apakah Anda sudah terikat kontrak kembali?
"Gue freelance sampai saat ini dan gue senang dengan kehidupan freelance setelah sebelumnya sudah terikat lama dengan rumah produksi sebelumnya."
 
Puas kah Anda melihat hasil karya sebagai co-produser di Sebelum Iblis Menjemput?
"Well made, dibuat dengan baik dan niat. Kalau terbaik tentu bukan tapi ini hasil dari niat terbaik." 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON