Kamila Andini : Hadapi Kendala dengan Santai untuk The Mirror Never Lies

 

Mungkin untuk nama Kamila Andini di dunia perfilman belum setenar sang ayah, Garin Nugroho. Namun siapa sangka, ternyata perempuan kelahiran Jakarta, 6 Mei 1986 ini sudah memulai karirnya lewat sebuah film dokumenter, asisten sutradara dalam video klip Tere, Ungu, dan ...

22 April 2011
Posted By: Erfanintya M. P.

Mungkin untuk nama Kamila Andini di dunia perfilman belum setenar sang ayah, Garin Nugroho. Namun siapa sangka, ternyata perempuan kelahiran Jakarta, 6 Mei 1986 ini sudah memulai karirnya lewat sebuah film dokumenter, asisten sutradara dalam video klip Tere, Ungu, dan film Generasi Biru

Dara yang kerap dipanggil Dini juga pernah menyutradarai program televisi Sepasang Mata Bola (ASTRO Production), video klip Slank, beberapa film dokumenter, dan FTV. Selain itu Dini yang merupakan lulusan Faculty of Sociology and Media Arts at Deakin University, Melbourne, Australia ini juga ikut tergabung di Indonesian Documenter (InDocs), Konfiden (Komunitas Film Independen), dan Popcorner workshops.
 
Melangkah lebih maju, di tahun ini Dini unjuk gigi untuk membuktikan dirinya sebagai sineas Indonesia. Ia akan segera merilis film layar lebar perdananya, The Mirror Never Lies (TMNL) yang akan menggambarkan keindahan alam Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Film yang diprakasai oleh WWF, Kabupaten Wakatobi, dan SET Film ini menampilkan Reza Rahadian, Atikah Hasiholan, dan anak-anak suku Bajo asli, Gita Lovalista, Eko, dan Inal. TMNL akan mengangkat kisah suku Bajo dengan menyisipkan pesan untuk pelestarian alam serta ritual, kepercayaan, dan kebudayaan suku Bajo.
 
Tentunya tidak mudah bagi Dini untuk mewujudkan impian dalam film perdananya. Berbagai halangan dan rintangan dihadapi dengan medan syuting yang tidak biasa ini. Dini pun menceritakan langsung proses syutingnya saat ditemui oleh 21cineplex.com di lokasi syuting Wakatobi beberapa waktu lalu.
 
TMNL menjadi film layar perdana yang Anda garap, bagaimana perasaan Anda dan apa alasannya?
“Jelas menurutku aku sangat beruntung punya TMNL menjadi film perdanaku, karena aku kan berangkat dari hobi diving, dan film ini berbicara tentang sesuatu yang aku sangat suka, ditambah aku bekerja dengan orang-orang yang punya visi sama.”
 
Untuk film ini terlibat 3 instansi yang terkait, yaitu WWF, Kabupaten Wakatobi, dan SET Film, bagaimana untuk menyatukan ketiganya dalam proses kreatifnya?
“Memang proses kreatifnya di sini sangat panjang, tapi partner di sini saling mengisi. Seperti WWF dengan pengetahuan mereka tentang lingkungannya, Pemda Wakatobi dengan daerah dan alamnya, dan aku di SET Film yang lebih mengangkat budayanya. Jadi film ini bisa kaya dengan kita bersama-sama saling mengisi. Yang pasti, kita sudah sepakat untuk film ini adalah film drama bukan film dokumenter.”
 
Oke, bisa Anda ceritakan proses syutingnya?
“Proses syutingnya cukup menyenangkan, apalagi ini pengalaman pertamaku menggarap film layar lebar. Kru dan pemain cukup kooperatif meskipun dengan keterbatasan yang ada di sini, dan warga di sini juga menyambut kita dengan baik.”
 
Tentunya dalam proses syuting akan ditemukan kendala, untuk TMNL apa saja kendalanya?
“Yang pasti cuaca. Tapi kita ngatasinnya sih lebih santai aja, karena kita kan harus benar-benar ngikutin cuaca. Jadi kita udah prepare, apa yang bisa kita buat saat hujan, saat mendung, atau pas lagi terang. Bahkan misalkan awan tiba-tiba bagus pas kita lagi bikin scene apa, kita langsung bikin scene yang sesuai cuaca tersebut, kru pun sudah sangat siap dan standby.”
 
Selain cuaca apalagi kendalanya?
“Selain cuaca, juga transportasinya, seperti pas lagi di Tomia kita harus ke bukit, nggak ada mobil yang disewakan, kita pake mobil pribadi semua, untuk menyebrang kita harus tunggu airnya surut, bahkan sampai ada yang beberapa terjebak nggak bisa lewat karena air sudah pasang. Jadi syuting di sini harus santai dan banyak kompromi.”
 
Bagaimana dengan para pemain? Apakah punya kendala?
“Aku beruntung banget punya pemain seperti Reza dan Atiqah karena mereka sangat kooperatif dalam melakukan banyak hal dan mau melakukan sesuatu, dan di sini medannya nggak gampang apalagi kita nggak punya talent kordinator untuk dibawa ke sini. Kita syuting selama sebulan, pernah kita hanya makan ikan atau mie instan tapi mereka nggak masalah. Buat aku itu dukungan luar biasa buat aku dari mereka.”
 
Bagaimana proses pemilihan Reza dan Atiqah?
“Kalau Reza aku ngeliatnya untuk berperan sebagai peneliti dia cocok banget, karena aku melihat dia kan suka berpetualang dan selalu ingin tahu, nah sebenarnya itulah kunci utama untuk menjadi peneliti. Sedangkan untuk Atiqah, secara gesture dia lepas banget, untuk jadi orang Bajo dia sangat lepas, nggak jaim, dan untuk sosok dirinya yang keras dapet banget.”
 
Lalu untuk pemain lokalnya sendiri bagaimana?
“Pemain anak-anak lokal sangat menarik. Akting mereka sangat natural, meskipun untuk direct mereka susah-susah gampang karena mereka suka ada yang ngambek, ya namanya juga anak-anak sih. Tapi mau dibawa syuting sebulan penuh dan jauh dari orang tua bagi aku adalah suatu yang luar biasa.”
 
Memang siapa saja mereka?
“Mereka adalah anak-anak suku Bajo Asli, Gita Lovalista anak perempuan berumur 12 tahun, ia yang menjadi Pakis, anak dari  Tayung yang diperankan oleh Atiqah Hasiholan. Eko berumur 13 tahun, dia ini yang paling enerjik dari anak-anak yang lain dan paling lucu, dia sering banget bikin ketawa kita pas lagi syuting. Aktingnya luar biasa, dia natural banget. Disini dia jadi Lumo temannya Pakis dan Kutta. Terus ada Inal yang jadi Kutta, dia paling pinter nyanyi, selama syuting yang dia kangenin bukan keluarganya tapi justru ayamnya yang bernama Rambo, (tertawa).”
 
Lalu apa pengalaman berkesan selama syuting?
“Bagiku semuanya berkesan, karena ini adalah pengalaman pertamaku, justru yang paling berkesan adalah hubungan kita dengan penduduk lokal, kita sangat amaze banget dengan mereka. Mereka adalah orang-orang yang sangat ringan tangan, semua dilakukan tanpa pamrih.”
 
Bagaimana dengan keterbatasan fasilitas yang ada, apakah mempengaruhi proses syuting?
“Nggak, karena kita bikin syuting di sini cukup santai dan fun. Dengan keterbatasan ini, luar biasa para kru juga nggak ada yang mengeluh. Makan pun cukup kita sediakan semampu kita. Beberapa kru yang takut sama laut pun ketika syuting disini nggak jadi masalah. Dan ternyata proses syuting ini membuat kita jadi lebih menghargai hidup.”
 
Apakah sempat menemukan titik jenuh?
“Oh iya, sempat jenuh sih, setelah tiga minggu aku mulai drop, anak-anak mainnya juga mulai turun, apalagi untuk soal makanan, kita seringnya makan ikan terus yang tentunya pasti bosan. Tapi semuanya paling kita siasatin dengan syutingnya yang lebih santai dan membuat suasana yang baru."
 
Apakah film ini akan menjadi barometer Anda sebagai filmmaker yang akan selalu menunjukkan kekayaan alam Indonesia?
“Sebenarnya background aku lebih ke sosiologi, yang jelas aku akan tetap ngomongin tentang masyarakat, dan hal lain yang aku suka yaitu alam dan traveling. Pastinya kalau ada kesempatan lagi aku sangat ingin ngomongin alam atau laut lagi.”
 
Memang kenapa lebih suka laut? Kenapa tidak gunung atau alam lainnya?
“Nggak tahu ya, kalau orang kan banyak yang bilang gunung lebih misterius daripada laut, tapi aku terbalik. Karena ketika kita ada di tengah laut kita seakan nggak tahu arah dengan hamparan air laut yang kita lihat, dan itulah yang menurut aku sisi misterius dari laut.”
 
Sebagai anak dari sutradara tersohor tentunya akan selalu dikaitkan dengannya, bagaimana tanggapan Anda?
“Menurut aku sih, resiko iya, tapi berkah juga iya, lagi pula posisi ayah disini kan sebagai produser, tapi untuk proses kreatifnya aku dibebaskan untuk mengeksplor.”
 
Kalau boleh tahu, apa arti film untuk Anda?
“Film buat aku adalah medium untuk kita mengutarakan sesuatu, lebih seperti bahasa.”
 
Terakhir, harapan untuk film ini?
“Aku ingin orang-orang Indonesia lebih mengenal daerahnya, budayanya, keanekaragamannya, dan alamnya.”  (eM_Yu)
 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON