MORE
Raditya Dika Masih Setia Menantang Diri di Dunia Komedi
Gunawan: Bermodal Mimpi Menuju Hollywood
Benni Setiawan: Film Madre Digarap Penuh Rasa Layaknya Sebuah Roti
Marcella Zalianty Menantang Diri sebagai Sutradara
Mike Wiluan: Optimis Film Indonesia Bisa Bersaing dengan Hollywood
Idris Sardi: Sang Maestro yang Ingin Selalu Dikalahkan
Film Sang Kyai Jawaban Rako Prijanto Tentang Asli Indonesia
Kisah Mistis di Balik Syuting Film Rumah Kentang
Impian Eru Terwujud di Film Hello Goodbye
Garin Nugroho Berjudi di Film Soegija
Laura Basuki: Terima Peran Apapun, Yang Penting Adalah Ceritanya
Kiprah Laura Basuki di ranah perfilman tanah air memang terbilang baru. Maklum saja wanita kelahiran Berlin, 9 Januari 1988 ini baru aktif di layar lebar tanah air sejak tahun 2008 lewat film Gara-Gara Bola. Penampilan apiknya saat itu langsung diganjar ...
03 November 2011
Posted By: Erfanintya M. P.
Kiprah Laura Basuki di ranah perfilman tanah air memang terbilang baru. Maklum saja wanita kelahiran Berlin, 9 Januari 1988 ini baru aktif di layar lebar tanah air sejak tahun 2008 lewat film Gara-Gara Bola. Penampilan apiknya saat itu langsung diganjar dengan penghargaan dalam ajang Indonesia Movie Awards (IMA) 2009 untuk kategori Pendatang Baru Terbaik dan Pendatang Baru Terfavorit.
Di tahun 2010 Laura kembali terlibat dalam sebuah film hasil adaptasi novel berjudul 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta. Kembali Laura menunjukkan bahwa ia bukanlah aktris sembarangan. Pasalnya di tahun itu ia berhasil menjadi yang terbaik dengan membawa pulang piala Citra sebagai pemain terbaik wanita.
Kini setelah menikah dengan Leo Sanjaya pada Juni 2011, Laura kembali terjun ke dunia yang membesarkan namanya itu. ditemui 21cineplex.com di lokasi syuting #republiktwitter, bintang yang hobi jalan-jalan itu menuturkan kepada kami tentang film terbarunya yang kini diarahkan oleh sutradara muda Koentz Agus.
Setelah menjalani syuting selama sepuluh hari apakah Laura menemui kendala?
“Sejauh ini nggak ada kendala yang berarti, selalu on schedule, nggak ada yang ngutang-ngutang scene. Dan karena kita banyak indoor jadi nggak keganggu sama hujan, pas lagi out door juga hanya gerimis sebentar. Jadi sama sekali nggak ada kendala apapun.”
Bagaimana rasanya berakting kembali setelah sempat vakum (karena menikah)?
“Setiap saya syuting film pasti ada perasaan deg-degan, ada perasan excited karena tiap film karakternya beda. Saya harus menggali, kadang suami saya cuekin karena saya fokus baca skenario berkali-kali sampe 10 kali baca skenario.”
Biasa bermain sebagai perempuan remaja dalam film, bagaimana dengan peran dalam #republiktwitter sebagai wanita dewasa?
“Ini kan peran baru jadi aku ada penyesuaian juga sebelumnya, kalau kemarin-kemarin aku perannya remaja sekarang sudah dewasa, jadi aku tambahin sedikit gimmick untuk mendukung peran aku.”
Lalu adakah film yang ditonton sebagai bahan referensi?
“Aku nonton The American President, untuk suasana kantoran aku nonton Spider-Man dan Superman itu kan jurnalis juga, tapi untuk karakter sendiri dari sutradara inginnya seperti Natalie Portman di Closer. Tapi nggak mungkin sama, karena setiap pemain pasti punya karakter masing-masing dan cara bermain masing. Tapi saya mencoba memberikan yang terbaik untuk sutradara.”
Bagaimana pendapat Laura bekerja bersama Koentz sebagai sutradara yang terbilang masih muda?
“Saya senang ya banyak sutradara-sutradara muda yang mereka sudah punya selera dan prinsip, dan menurut saya Koentz salah satunya. Walau ini film pertamanya bukan berarti dia nggak ada pengalaman, karya-karyanya di film pendek dan dokumenter itu hasilnya sangat bagus. Dan pola pikirnya sama dengan saya, itu yang saya senang, karena paling penting adalah punya sutradara yang satu visi dengan kita.”
Bermain dalam film yang mengangkat Twitter sebagai tema, apa yang menarik dari film #republiktwitter ini?
“Buat saya cerita film ini bukan cerita berat, film ini sangat menghibur. Pertama setiap orang pasti akrab dengan Twitter, dan saya pun kadang-kadang suka main Twitter. Tapi di sini digambarkan berbagai macam orang dengan sifatnya masing-masing bagaimana mereka menanggapi Twitter itu sendiri. Film ini bukan untuk menggurui orang, film ini hanya untuk menghibur dan pesan yang baik tentang Twitter yang bisa memberi gambaran tentang banyak hal.”
Di dua film pertama Laura, Laura berhasil mendapatkan penghargaan berkat peran yang berbeda, apakah ada standar tersendiri dalam menerima sebuah peran?
“Sebenarnya kalau penghargaan nggak pernah ditargetin, dulu film pertama pernah dapat IMA (Indonesian Movie Awards), dan film berikutnya saya dapat (piala) Citra. Itu sama sekali tidak pernah direncanain. Sebenarnya pasti ada standar untuk menerima peran. Peran apapun saya terima, tapi saya akan lihat ceritanya. itu yang penting, ceritanya harus jelas, kalau nggak jelas saya nggak akan mau.”
Adakah harapan Laura untuk bisa dapat penghargaan lagi?
“Sebenarnya saya nggak pernah berharap untuk mendapat penghargaan atau piala apa pun, di rumah pun karatan kok. Dengan bermain baik dan penonton puas dengan kerja saya, itu adalah penghargaan terbesar buat saya. Kemarin-kemarin bisa dapat piala seneng sih rasanya, dan ada perasaan bahagia. Tapi ya udah, (lewat) gitu aja, karena berikutnya saya harus menghadapai film lain lagi, bisa dibilang penghargaan hanya sebuah bonus saja.”
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
Z




