
Merah Putih di Lawang Sewu

Kota Semarang nan tenang mendadak jadi panas membara. Macam itulah pemandangan yang terasa tatkala saya memasuki kawasan Lawang Sewu pekan kedua di bulan Maret silam. Belasan pria bule berstelan loreng lalu lalang menyandang senapan. Sekilas memang mirip serdadu kolonial londo. Belakangan diketahui, gedung lawas ini sudah disulap menjadi markas tentara Belanda pada masa kolonial. Memangnya ada apa sih?
Rupanya tempat ini dipinjam sebagai salah satu lokasi untuk syuting film Merah Putih, sebuah trilogi kemerdekaan. Kurun waktunya era 1940-an akhir. Konon, ini bakal disiapkan untuk sebuah trilogi saga fiksi sepanjang sembilan jam. Tak hanya sekadar film perang, ada jejak tragedi, roman, humor dan petualangan para pemuda dari berbagai etnis dan agama di tanah air. Bersama beberapa wartawan lain, saya berkesempatan berada di tempat ini.
Adalah Hashim Djojohadikusumo selaku direktur PT Media Desa Indonesia yang ber-samen werken dengan Rob Allyn dan Jeremy Stewart dari Margate House yang bertindak sebagai penerbit film ini. Berkat skenario dari Connor Allyn dan Rob Allyn, sutradara Yadi Sugandi langsung menukangi film ini. Pak Yadi tampak antusias saat dikunjungi di tempatnya bekerja. ”Aduh, engga disangka,” ucapnya saat menyalami kami satu-persatu.
Sejenak kemudian, muncul beberapa aktor yang bermain dalam film ini. Pertama, ada Teuku Rifnu Wikana yang berperan sebagai pemuda pejuang asal Bali. Berturut-turut ada Rudi Wowor, Lukman Sardi, Doni Alamsyah, Atiqah Hasiholan, Rahayu Saraswati dan Ario Bayu. Mereka duduk manis satu-persatu siap untuk diwawancarai.
Tentu saja bukan hanya dengan para aktor kami berbagi cerita. Apalagi, selama dua hari kami berjalan-jalan di set Lawang Sewu ini. Sutradara Yadi Sugandi misalnya, menyempatkan diri untuk cuap-cuap usai scene terakhir malam itu. Kemudian, beberapa kru juga sempat dikorek macam penata artistik Iri Supit atau ahli efek khusus Adam Howarts misalnya. Nama yang terakhir ini sempat terlibat di film Saving Private Ryan dan Black Hawk Down.
Agaknya, Merah Putih ini memang akan menjadi produk yang luar biasa secara eksekusinya. Maklumlah, sudah cukup lama tak ada film perang lagi di negeri ini. Dibuat trilogi pula. Diperkuat oleh para aktor watak dan kru handal pula. Wajar saja jika banyak pecinta film di tanah air menanti dengan penuh harap. Dan kini penantian itu akan segera terlunasi sekaligus sebagai kado hari kemerdekaan 17 Agustus tahun ini.
Ah, jadi tak sabar rasanya. (bat)






















Aurelie Moeremans : Makin Mantab di Dunia Akting
Mathias Muchus : Jadi Sutradara Tanpa Alih Profesi
Rano Karno : Kolaborasi Dengan Anak Muda
Lasja Fauzia : Inspirasi Dari Nyanyian Lembah Baliem
Menebus Impian Road Show to Bandung
Behind The Scene : 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta
Viky Sianipar : Butuh Minimal Satu Bulan
Putut Widjanarko : Selalu Dari Novel Ke Film
Chitra Subiyakto : Memanjakan Mata Penonton
Otong ‘Koil’ : Ingin Bikin Soundtrack Seperti Film AADC