Sheila Timothy Menguak Sejarah Gelap Lewat Banda The Dark Forgotten Trail

 

  Pada 3 Agustus 2017, rumah produksi Lifelike akan merilis film feature-documenter terbarunya berjudul Banda the Forgotten Trail. Disutradarai oleh Jay Subiakto, layar lebar ini bercerita tentang jalur rempah di abad pertengahan yang menjadi cikal bakal jalur sutera. Pada jaman itu, ...

Posted By: Eko Satrio Wibowo, 27 Juli 2017
sheila timothy ...
 
Pada 3 Agustus 2017, rumah produksi Lifelike akan merilis film feature-documenter terbarunya berjudul Banda the Forgotten Trail. Disutradarai oleh Jay Subiakto, layar lebar ini bercerita tentang jalur rempah di abad pertengahan yang menjadi cikal bakal jalur sutera. Pada jaman itu, segenggam pala di Pasar Eropa dianggap lebih berharga dari sepeti emas. 
 
Monopoli bangsa arab dan perseteruan dalam perang salib membawa Eropa ke dalam perburuan menemukan pulau-pulau penghasil rempah. Perseteruan bangsa-bangsa terjadi akibat rempah-rempah. Kepulauan Banda yang saat itu menjadi satu-satunya tempat pohon-pohon pala tumbuh menjadi kawasan yang paling diperebutkan.
 
Belanda bahkan rela melepas Nieuw Amsterdam (Mannhatan, New York) agar bisa mengusir Inggris dari kepulauan tersebut. Pembantain massal dan perbudakan pertama di Nusantara terjadi di Kepulauan Banda. Di sana pula, sebuah semangat kebangsaan dan identitas multikultural lahir menjadi warisan sejarah dunia.
 
Usai press screening Rabu (26/7) sore, sang produser Lala Timothy bercerita banyak kepada 21cineplex.com mengenai apa yang menjadi latar belakang dibuatnya film ini. Ia juga berkisah soal tantangan-tantangan apa saja yang ditemui dirinya bersama tim produksi selama penggarapan, terutama saat berada di Banda. Berikut petikan wawancaranya. 
 
Apa alasan Anda membuat film Banda the Dark Forgotten Trail?
Ide pertama jalur rempah nusantara ini lahir ketika saya dan suami datang ke sebuah ekshibisi. Di sebuah backdrop ada tulisan bahwa jalur rempah ini merupakan cikal bakal dari jalur sutera. Terus terang, waktu itu saya belum paham dan tahu tentang sejarah jalur rempah ini. Kemudian kami berpikir bahwa kalimat itu sangat menarik. Selama ini kita tahu jalur sutera, sudah menjadi bagian propaganda dari pemerintah China. Kita tahu banyak sekali tulisan bahkan ada film Jackie Chan yang bercerita tentang Silk Road. Sementara kita seolah-olah masih gelap tentang jalur rempah ini. Kemudian kita berdua, saya dan suami, Luki Wanandi, berpikir bahwa karena kami punya company production film, medium yang kami paham adalah film, kita memutuskan untuk bikin film. 
 
Mengapa digarap menjadi film dokumenter, bukan fiksi?
Tapi, karena sejarahnya begitu banyak dan menarik, serta menurut kami begitu besar, kalau kami buat dalam bentuk fiksi, akan ada beberapa cerita atau cuplikan atau fragmen yang tidak akan tersampaikan. Jadi, kami pikir untuk yang pertama ini kami perlu  bikin film dokumenter yang bisa menyampaikan banyak cerita. Sehingga kita sebagai bangsa Indonesia, bisa tahu dan bangga dengan sejarah kita, nggak gelap lagi, serta bisa memberikan kebaikan buat bangsa serta generasi muda.      
 
Lifelike Pictures dikenal lewat film fiksi, kenapa sekarang lompat ke dokumenter?
Saya paham Lifelike Pictures belum pernah bikin film dokumenter, dan kita biasanya bikin film fiksi. Kami tidak ingin hanya mengkhususkan diri di genre thriller. Kami ingin bikin film yang selalu punya kebaruan, selalu punya sesuatu yang bisa disumbangkan untuk industri film Indonesia. Jadi, ketika kami akhirnya putuskan untuk bikin dokumenter, saya paham kekurangan saya, saya ajak co-produser Abdul Azis yang memang sudah pakar di dokumenter. Terus dari situ bergulirlah keluar nama M. Irfan Ramli yang sering main ke kantor bercerita sejarah dan lain sebagainya, kemudian Jay Subiakto dari sahabat saya Sari Mochtan (line produser). 
 
Di film ini Anda mengajak banyak pihak untuk terlibat, apa alasannya?
Jadi, kami juga pikir bahwa film dokumenter itu biasanya susah, karena non komersil gitu ya. Kita butuh banyak pihak yang bantu kita. Salah satunya adalah kita ada satu konsorsium jalur rempah nusantara yang disupport oleh banyak partner, media partner seperti Kompas, Jakarta Post dan lain sebagainya yang ikut sama-sama melahirkan banyak medium-medium lain selain film. Jadi, nantinya akan ada the shows, kemudian kita juga akan ada liputan-liputan, ekshibisi lanjutan yang akan bergulir terus sepanjang tahun. Lalu saya ketemu teman-teman dari kosmik, merek komikus serta anak-anak muda yang sangat kreatif dan saya kepikir juga untuk bikin bentuk medium lain, yaitu komik. Idenya sih seperti IP (Intellectual Property), jadi nggak hanya film, tapi cakupannya banyak. Sehingga isu ini bisa dinikmati oleh seluruh kalangan, dari anak kecil sampai orang dewasa. Dan inginnya sih ini jadi semacam jendela supaya film ini bisa menjadi corong, sehingga ada perbaikan-perbaikan selanjutnya. Baik itu lebih ingin tahu sejarah maupun menjadi manfaat untuk masyarakat Banda dan petani-petani komoditas juga.  
 
Apa tantangannya membuat film dokumenter?
Film dokumenter itu lumayan tough, karena kita mesti sabar, butuh waktu untuk riset dan sangat beruntung di support oleh konsorsium jalur rempah nusantara, sehingga kita dapat banyak input serta dukungan untuk film ini sendiri. Tantangannya banyak, karena selain daerahnya itu juga sangat remote area, Banda itu bisa dicapai dari Ambon, kalau lewat kapal cepat itu 6 jam, kalau Pelni itu bisa 12-14 jam, itu juga kalau ombaknya lagi bagus. Kadang-kadang ada kapal terbang kecil hanya 1 jam ke sana. Salah satu challenge-nya adalah ketika kita harus melakukan riset dan syuting berkali-kali ke sana. Butuh perencanaan, serta kadang-kadang kita selalu bilang tidak ada yang pasti untuk mencapai Banda, karena kadang jadwal-nya berubah, acara yang sudah di plan 6 bulan yang lalu tiba-tiba berubah. Nah, kemudian juga salah satu tantangannya adalah sejarah yang tadi saya sebutkan itu panjang sekali, dari sebelum VOC sampai bisa dibilang 2016. Bagaimana caranya mengemas cerita yang panjang itu secara menarik, sehingga masuk ke dalam durasi film 94 menit yang mencakup semuanya, tapi juga nggak bikin bosen dan bikin orang tidur.
 
Mengapa membuat narasi dalam film ini menjadi dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris?
Tiap kali bikin film kita memang selalu membuka kesempatan seluas-luasnya. Kita tahu sekarang film ini sudah tidak dibatasi oleh teritori negara, bisa ditampilkan di luar negeri. Kemudian karena juga film dokumenter tentang jalur rempah sebelumnya kebanyakan itu dibikin dari kacamata orang asing, sementara ini terjadi di negara kita, saya rasa belum ada yang bikin film dokumenter yang lengkap tentang jalur rempah ini. Sehingga akhirnya kita pikir perlu juga kita dari Timur punya suara, nggak cuma dari Barat. Dan kita ingin tidak hanya tayang di Indonesia, tetapi juga di luar negeri. Intinya adalah kita ingin masuk ke festival-festival film. Saat ini masih daftar dan belum ada yang terima. Kita ingin bisa masuk supaya suara kita lebih didengar oleh dunia, nggak cuma di Indonesia.     
 
Apa strategi Anda agar film ini ditonton banyak orang mengingat dokumenter kurang komersil?
Kita cukup banyak melakukan kegiatan promosi, terutama lewat digital dan mengajak banyak sekali diskusi-diskusi dengan komunitas-komunitas. Perjuangan kita tidak hanya berhenti di bioskop, akan terus keliling. Dari Kemendikbud kemarin juga sudah bicara sudah punya rencana untuk tahun depan keliling ke sekolah-sekolah yang tidak punya bioskop guna diputar dan dijadikan bahan buat pelajaran. Jadi, kalau ditanya target penonton, kita nggak bergantung hanya di bioskop, semoga bisa ditonton oleh sebanyak-banyaknya, baik di Indonesia maupun luar negeri. 
 
Bulan ini banyak film musim panas yang beredar, tidak takut akan kehilangan penonton?
Biasanya dari dulu itu kita selalu jauhin jadwal blockbuster, tapi setelah cek, 3 Agustus lumayan cukup aman dan memang film dokumenter ini punya target market yang beda, target audiensnya beda, dan yang kita gerakkan juga beda, jadi saya tidak terlalu khawatir. Kenapa juga kita premiere di 31 Juli, karena ingin merayakan 350 tahun momentum pertukaran pulau Run dan Manhattan. 
 
Apa yang membuat film ini penting untuk ditonton?
Persis seperti judul yang kita pilih di sini, Banda the Dark Forgotten Trail, sejarah yang sangat gelap, dalam arti bahwa kita sendiri sebagai bangsa Indonesia tidak paham dengan sejarah sendiri. Harusnya kita tidak hanya bangga, tapi juga paham dengan sejarah kita. Harusnya kita malu kalau tidak paham. Dan sejarah ini penting untuk jadi bahan pelajaran supaya kita tidak mengulang kesalahan di masa lalu. Terus nonton film ini di bioskop, karena memang film ini film yang kita buat untuk penonton. Jadi, kenapa film dokumenter ini memiliki gambar dan musik yang sangat baik, karena saya punya tanggung jawab kepada penonton kalau ini adalah cara belajar sejarah yang asyik.    
 
Anda optimis film ini bakal banyak ditonton?
Film dokumenter Indonesia ini sebenarnya banyak sekali, banyak yang sudah dibuat oleh filmmaker-filmmaker Indonesia yang sangat hebat. Namun, ini memang merupakan film dokumenter pertama kita. Lifelike Pictures biasanya bikin film fiksi, tapi baru pertama kali ini kita buat dokumenter. Oleh karena itu saya mengajak co-produser Abdul Azis yang memang sudah pakarnya dokumenter untuk membantu menjaga ritme, struktur dari film ini sendiri. Nah, challenge-nya kita ingin bikin dokumenter dengan bentuk baru. Jadi, sesuatu yang menarik, fresh, sehingga ketika penonton datang ke bioskop, mereka terpuaskan. Itu menjadi tanggung jawab kita juga.  
 
Kalau untuk biaya produksi berapa?
Biaya produksinya lumayan besar, tapi kita juga merasa ketika kita memutuskan untuk masuk bioskop, saya punya tanggung jawab kepada penonton. Orang beli tiket, kalau lihat gambarnya buram, suaranya mendem, kita menipu penonton. Dan kita juga mau mengajak orang supaya tertarik sama ceritanya, kalau tidak dibikin dengan menarik, orang akan cepet bosen, apalagi anak muda jaman sekarang. Jadi, itu merupakan resiko untuk tujuan yang ingin kita capai. Tapi untungnya sih dengan support brand, kemudian dari beberapa konsorsium, hal tersebut bisa teratasi dan mudah-mudahan di bioskop ini banyak penontonnya. 
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON