Balada Anissa, Sang Perempuan Berkafiyeh

 

Apa faedahnya mengotak-ngotakkan film ke dalam genre-genre tertentu? Tentu saja agar calon penonton memperoleh pedoman kelak film macam apa yang bakal ditontonnya. Maka kalau sudah ada film dengan label horor misalnya, mereka yang punya lemah jantung bisa menghindarinya. Maunya sih ...

Posted By: Admin, 16 Januari 2009

Apa faedahnya mengotak-ngotakkan film ke dalam genre-genre tertentu? Tentu saja agar calon penonton memperoleh pedoman kelak film macam apa yang bakal ditontonnya. Maka kalau sudah ada film dengan label horor misalnya, mereka yang punya lemah jantung bisa menghindarinya. Maunya sih begitu. 

Tapi apakah kenyataan di lapangan semutlak itu? Nyatanya tidak juga. Acapkali muncul film-film yang genrenya campur aduk satu sama lain. Film drama misalnya, sesekali memunculkan bumbu-bumbu lain yang membuatnya terasa bukan lagi film drama. Bahkan kalau sineasnya jahil dia bakal memasukkan adegan yang paling ekstrim dan tak terbayangkan di benak penonton. Namanya juga kebebasan berekspresi.
 
Demikian pula yang dialami oleh sutradara Hanung Bramantyo. Bulan puasa tahun 2008 dia pernah berkilah bahwa dirinya tidak paham apa itu film bergenre drama religi. Perihal genre-genrean itu ada baiknya diserahkan saja kepada kritikus film, begitu ucapnya. Pernyataan ini bisa jadi ada benarnya, apalagi berkaitan dengan film anyarnya yang dirilis awal tahun 2009 ini Perempuan Berkalung Sorban yang diadaptasi dari novel Abidah El Khalieqy. Konon seandainya saja penulis adalah seorang kritikus, film ini sudah didaulat bergenre drama religi.
 
Namun sedari awal, Hanung sudah memberikan wanti-wanti terhadap karyanya ini. ”Tolong lepaskan dari wacana tentang Islam. Ini merupakan sebuah cerita tentang perempuan yang kebetulan dilahirkan dari latar belakang keluarga pesantren,” pintanya saat konperensi pers.
 
Hanung benar. Dari judulnya saja sudah terasa menyiratkan dua hal. Pertama, ada kata perempuannya. Artinya film ini mencoba bercerita tentang balada nasib seorang perempuan bernama Anissa (Revalina S Temat). Kedua, kata kalung sorban. Kendati dalam visualisasinya kain yang disampirkan di tubuh Anissa itu lebih mirip kafiyeh khas Arab, tak pelak muncul aroma religi yang coba disampaikan baru dari judulnya saja. Kalau coba-coba disimpulkan, Anissa adalah perempuan yang berasal dari latar belakang keluarga kiai di sebuah pesantren dan tentang balada kehidupannya.
 
Adalah sebuah kebetulan jika Anissa mengalami balada hidup yang memilukan. Cobaan datang kepadanya bertubi-tubi bahkan sejak masa kecil. Sebagai anak perempuan, dia selalu protes atas perlakuan tak adil sang ayah yang selalu diskriminatif. Hasilnya, protes itu dianggap angin lalu. Pun ketika dia menikah dengan anak kiai bernama Samsudin (Reza Rahadian). Lagi-lagi malah nasib buruk yang menjadi miliknya. Bahtera rumah tangga mereka bagaikan dalam neraka. Tentu saja nasib buruk itu masih terus menghantuinya seolah tanpa akhir. Ada saja hal-hal yang membuat dirinya selalu dalam awan kelabu.
 
Memang diperlukan hikmat untuk bisa mencerap film ini. Pasalnya, adegan-adegan yang menyiratkan aroma kekerasan disuguhkan tanpa ragu oleh sineasnya. Wajah seram itu terus-menerus ditunjukkan dengan ucapan serta perbuatan dari para pelaku yang umumnya menyuguhkan akting yang kuat. 
 
Ada baiknya usai menyaksikan film ini untuk direnungkan sekali lagi apa pesan tersembunyi yang hendak disampaikan di sana. (bat
COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON