Wajah Beda Indonesia dalam Under The Tree

 

Guru SD kita dahulu kerap menyebutkan bahwa Indonesia sungguh kaya dengan bahasanya yang beraneka ragam. Sebut saja bahasa Jawa misalnya, dialeknya beraneka ragam mulai dari bahasa kromo hinggil yang dipakai di keraton, hingga bahasa di pesisir yang terasa unik di ...

Posted By: Admin, 09 Januari 2009

Guru SD kita dahulu kerap menyebutkan bahwa Indonesia sungguh kaya dengan bahasanya yang beraneka ragam. Sebut saja bahasa Jawa misalnya, dialeknya beraneka ragam mulai dari bahasa kromo hinggil yang dipakai di keraton, hingga bahasa di pesisir yang terasa unik di telinga, macam Cirebonan atau Suroboyoan. Ini baru menyebut bahasa Jawa, belum lagi kawasan lain di tanah air. 

Namun ternyata, realitas ini jarang dijumpai dalam film cerita kita. Pasalnya, mayoritas tokoh yang muncul di sana selalu bercakap-cakap bahasa Indonesia dalam logat Jakarta. Bahkan film yang berlokasi di luar negeri sekalipun, macam 6:30 (di San Francisco, AS), Cinta 24 Karat (Sydney, Australia)atau Pelangi di Atas Prahara (Perth, Australia) misalnya, para aktornya tetap bercakap-cakap dalam bahasa Indonesia. Seolah-olah hanya ada orang Indonesia saja di sekitar mereka.  
 
Tak pelak, ketika menyaksikan Under The Tree, sebuah film anyar arahan Garin Nugroho yang beredar di tahun 2009penonton disuguhkan sebuah pemandangan yang unik. Para aktor yang bermain di sana bercakap-cakap dalam bahasa Bali. Bahkan, kebanyakan dari mereka boleh jadi bukanlah banci tampil yang acapkali muncul di depan kamera. Mereka hanyalah orang biasa yang disuruh tampil sedang bercakap-cakap dan direkam.
 
Yang lebih unik, ternyata proses dialog itu dilakukan tanpa skenario. Memang, jika ditengok pada poster film ini tidak ada nama penulis skenario tercantum di sana. ”Saat saya diajak bermain dalam film ini, saya pikir ada skenario yang harus dihapal,” cerita Ayu Laksmi tentang porsi perannya. Ayu sendiri adalah rocker era akhir 80’an dan orang Bali asli.
 
Dugaan Ayu itu rupanya keliru. Oleh Garin dia malah diajak untuk mendiskusikan sosok macam apa peran yang dimainkannya dan dialog apa yang kelak akan diucapkannya. ”Buat saya ini enak. Karena di umur seperti saya sekarang, sudah sulit rasanya untuk menghapal dialog,” tuturnya lagi. Ayu tidak sendirian, aktris pembantu terbaik FFI 2008, Aryani Kriegenburg-Willems juga mengalami hal yang sama.
 
Ditantang untuk bekerja dengan metode macam itu, Ayu malah mampu tampil baik karena memang natural saja, tidak dibuat-buat. Apalagi dia mengucapkan dialog dalam bahasa yang diucapkannya sehari-hari. Tentu saja ini sesuatu yang langka dalam film kita. Ya, wajah lain dari keindonesiaan itu memang sulit ditemui dalam film kita yang relatif seragam bungkusnya.
 
Apa iya yang namanya film Indonesia harus memunculkan pongahnya tugu Monas, keramaian jalan Sudirman atau anak muda kita yang bercakap-cakap dengan idiom lu-gue? Agaknya tidak. Masih banyak aset yang dimiliki bangsa ini dan bisa jadi menarik untuk diangkat ke layar lebar.   
 
Dan tentu saja itu bukan porsi yang menjadi monopoli seorang Garin Nugroho semata. Semua juga bisa kok. (bat)
COMPLETE ARCHIVE
 
Mau gossip terhangat
langsung di HP Kamu?
Ketik: gossip
Kirim ke: 2121
Tarif : 1000/sms
Semua operator
kecuali
Esia, Flexi, Hepi dan Starone
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON

 
www.vidfor.me