BIOGRAPHY

Ferry Salim

 

Nama                                       : Ferry Salim
Tempat Tanggal Lahir               : Belitung, 8 Januari 1967
Nama Ayah                              : C Salim
Nama Ibu                                 : Suryati Tanu
Tinggi/Berat Badan                   : 180 cm/71 kg
Hobi                                         : Olahraga, Baca buku, Musik, Film
 
 
Filmografi:
Aktor
  1. Ca Bau Kan (2001)
  2. Koper (2006)
  3. Anak Ajaib (2008)
  
 

Menjadi seorang aktor harus siap menerima peran apa saja. Seaneh apapun itu. Macam yang dilakoni Ferry Salim dalam film Anak Ajaib. Sosok yang dia perankan namanya Andika. Meskipun dia ayah dari sang pemeran utama dalam film ini, tetap saja perannya ...

FERRY SALIM, SIBUK MENJADI DUTA

 
Ferry Salim

Menjadi seorang aktor harus siap menerima peran apa saja. Seaneh apapun itu. Macam yang dilakoni Ferry Salim dalam film Anak Ajaib. Sosok yang dia perankan namanya Andika. Meskipun dia ayah dari sang pemeran utama dalam film ini, tetap saja perannya sungguh tidak biasa. Cara bicara tergagap-gagap alias tidak lancar. 

Begitulah, Ferry mau saja tampil demikian lantaran sosok ini memang tidak biasa. Maklumlah, durasi untuk dia tampil di sini memang hanya sekejap. ”Kalau saya tampil sebagai ayah yang normal, nggak ada sesuatu yang membekas,” tuturnya santai. Segera saja dia mengusulkan untuk tampil sebagai ayah yang gagap. ”Akhirnya disetujui,” lanjut Ferry lagi.
 
Sejatinya, masih ada alasan lain mengapa Ferry tampil hanya sebentar di sana. Dalam kisah aslinya yang ditulis oleh Hilman ”Lupus” Hariwijaya, sang ayah bukanlah sosok yang ideal. Andika punya WIL (wanita idaman lain), namanya Julia. Tak ayal, bahtera keluarganya nyaris berantakan karenanya. ”Tapi karena ini film anak-anak, ceritanya dirubah. Makanya peran saya jadi sedikit,” demikian cerita aktor berparas oriental ini.
Anak Ajaib merupakan film layar lebar ketiganya setelah memulai debutnya lewat film arahan Nia Dinata, Ca Bau Kan dan dilanjutkan dengan penampilannya dalam Koper.
 
Ferry dilahirkan di pulaunya Laskar Pelangi, yakni Belitung, 8 Januari 1967. Sejak kecil keluarganya sudah berantakan. Kedua orangtuanya berpisah, hingga kemudian Ferry diboyong sang ibu ke ibukota. Di sini dia tumbuh menjadi anak yang bengal. Maklumlah Ferry tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Sang ibu harus banting tulang menafkahi keluarganya, sampai-sampai tak sempat mengambil rapot Ferry di sekolah. Hidup dalam atmosfer muram bukan berarti terus-terusan muram. Ferry tetap bisa survived dan pendidikannya selalu lancar. Bahkan, sempat pula dia bekerja sampingan dengan menekuni dunia model sejak di bangku SMA. Semua digelutinya dengan sepenuh hati hingga bisa lulus sebagai sarjana ekonomi.
 
Berbekal ijazah itulah kemudian dia kerja kantoran. Mulai dari kerja di bank hingga di majalah sempat dicobanya. ”Tapi jadi model masih tetap kok,” selorohnya. Lantaran jiwanya tidak cocok dengan suasana kantor, Ferry banting stir. Dia berangkat ke negeri uwak Sam untuk sekolah lagi di tahun 1990. Ketika kembali lagi ke tanah air tahun 1994, Ferry lagi-lagi menjadi model. Setahun kemudian menikahi Merry Prakasa. Tepatnya pada tanggal 14 Oktober 2005 dan tetap awet hingga dikaruniai tiga anak.    
 
Rupanya kado pernikahan itu muncul kemudian. Ferry dipasangkan dengan aktris Ida Iasha untuk bermain dalam sinetron Kembang Setaman. Sinetron ini pula yang menjadi pembuka jalan bagi Ferry di dunia akting. Pasalnya, banyak proyek yang singgah kepadanya usai tampil dalam sinetron yang diproduseri Marissa Haque tersebut. Termasuk panggilan casting dari rumah produksi Kalyana Shira Films.
 
”Sekitar tahun 2001 saya diajak ketemu sama teh Nia untuk casting,” kenang Ferry tentang film Ca Bau Kan yang menjadi debutnya di layar lebar. Dia mengaku sebelumnya sudah sempat membaca novel yang ditulis oleh Remy Sylado, dua sampai tiga kali dan tentu saja sangat berharap bisa ikutan main dalam film ini. Harapan itu terkabul. Peran sebagai Tan Peng Liang menjadi miliknya.
 
Ternyata main film tak semudah yang diduganya. ”Saya harus ikut workshop bersama Remy Sylado untuk belajar dialek Cina Semarang,” tutur Ferry. Belum lagi latihan-latihan bela diri yang kudu diikuti. ”Pokoknya syutingnya berat banget,” keluhnya lagi. Namun tetap saja Ferry merasa puas karena ini memang bukan film yang main-main karena sangat mengutamakan sisi artistik.
 
Dukungan dari sang istri untuk karir Ferry sendiri juga tidak main-main. Tak ada rasa cemburu yang muncul jika dia harus beradegan romantis dengan lawan mainnya. Salah satunya dengan Lola Amaria saat tampil di Ca Bau Kan. ”Malah kalau kurang mesra dia bakal protes,” ucapnya sambil tertawa ringan.
 
Agaknya peruntungan Ferry di layar lebar tidak terlalu lancar. Barulah pada tahun 2006 dia muncul lagi lewat film Koper arahan sutradara Richard Oh. ”Dia sahabat saya. Jadi saya dipaksa main di sini,” komentar Ferry tentang peran singkatnya di sana. Kontan saja dia merasa tidak puas. ”Saya engga puas, hanya kebagian beberapa scene,” tambahnya yang mengaku kurang eksplorasi untuk tampil di film ini.
 
Ferry mengaku jika dirinya punya kesibukan lain hingga karirnya di layar lebar macam yang seret. Sejak tahun 2004 dia ditunjuk sebagai duta nasional Unicef hingga membuatnya harus bepergian keliling nusantara serta mengurusi aneka perintilannya. Begitulah, baru tahun 2008 ini dia kembali berakting di layar lebar kembali. Itupun lagi-lagi peran yang terpaksa dipotong porsinya demi kepentingan penonton. (bat)
COMPLETE ARCHIVE
 
Pantau segala informasi film dengan http://m.21cineplex.com dari browser ponsel Anda!
 
 

COMING SOON

 
www.vidfor.me